USAI BERCERAI – 6

USAI BERCERAI – 6

OLEH : DEWI FATIMAH

Menikah baru hitungan bulan kemudian bercerai. Terdengar konyol, memang. Tetapi siapa sangka jika itulah yang justru menjadi titik balik kehidupan seorang Reyhan?

Baru enam bulan, tapi segala hal yang berkaitan dengan Maysa seperti sudah melebur dengan diriku, membawa pengaruh yang begitu dahsyat bagi jiwaku. Jiwa yang selama ini melompong tanpa pengetahuan agama. Jiwa yang hampa tanpa diisi lantunan zikir dan ayat-ayat-Nya.

Aku bertekad memperbaiki diri. Bukankah cepat atau lambat kematian akan menghampiri? Apa yang akan kubawa jika nyawa sudah terpisah dari raga? Dunia yang berhasil kukumpulkan tidak akan sanggup menebus pedihnya siksa neraka. Iya, kan?

Sudah hampir satu bulan belajar tahsin di sebuah lembaga non profit dengan bimbingan seorang ustaz. Namanya Ustaz Hadi. Tahu umurnya berapa? 26 tahun, Men! Lebih muda empat tahun dariku. Awalnya malu. Benar-benar … muka ini mau ditaruh mana? Dia yang masih belia sudah menjadi hafiz quran. Aku? Tilawah saja masih belepotan.

Namun ada yang bilang, jangan malu untuk urusan agama. Jadi, untuk yang satu ini, singkirkan jauh-jauh yang namanya gengsi.

Lagi pula, ustaz muda keturunan Arab yang mengajar ini, terlanjur membuatku nyaman. Sikapnya lembut, budi bahasanya halus. Cara menegurnya juga sangat sopan.

“Em … kalau ada tanwin bertemu dengan wawu, bacanya mendengung, Pak. Jadinya begini, ‘dzulumātuww wara’duww wabarq. Bukan dzulumātuw wara’duw wabarq.” Agak sungkan, ia menegur lalu mengoreksi.

Aku hanya menggaruk-garuk kepala. Padahal itu materi dua hari lalu, tapi sudah lupa.

Melihatku salah tingkah, Ustaz Hadi tersenyum ramah dan berkata, “Enggak apa-apa, Pak. Pelan-pelan.”

“Saya juga sering lupa, Pak,” ujar Pak Zaid, disusul tawa pendek. Beliau teman belajar satu kelas denganku. Usianya sudah memasuki kepala lima. Biarpun sering salah baca, tapi semangatnya luar biasa.

Oh ya, di kelas ini cuma ada lima orang. Memang dibatasi agar proses belajarnya bisa efektif dan ustaznya tidak kuwalahan. Dari lima orang itu, tiga lainnya masih berstatus mahasiswa S1. Terbayang kan, betapa malunya kalau keliru?

Aku mengulangi. Pelan-pelan dan kali ini benar.

Ingat ya, Reyhan, nun sukun atau tanwin kalau bertemu dengan wawu, dibaca mendengung. Men-de-ngung. Itu bacaan idghom bighunnah. Hurufnya ada empat. Ya, nun, mim, dan wawu. Jangan salah lagi, plis!

Pukul 20.30 WIB, pelajaran selesai. Aku pulang, mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ketika melewati sebuah komplek ruko, aku sengaja memperlambat laju kendaraan. Menoleh ke kiri jalan, fokus pada unit dengan tulisan ‘Orchid Cake n’ Bakery’, toko kue milik Maysa. Sudah tutup, tentu saja. Aku menyemburkan napas kecewa.

Toko itu berdiri dua tahun sebelum kami menikah. Maysa sarjana ekonomi. Suka bisnis. Ketika masih mahasiswa, dia menyewa teras koperasi kampus untuk jualan kue. Bukan dia yang memproduksi, tapi teman-temannya dari Jurusan Tata Boga. Lalu bisnis itu berakhir ketika dia lulus sarjana, saat usianya 22 tahun. Uang hasil jualan di kampus yang dia tabung, rupanya cukup untuk menyewa unit itu.

Kadang aku heran dengan Maysa. Dia orang berada. Papanya seorang pejabat di salah satu perusahaan BUMN. Tetapi kenapa memilih hidup mandiri seperti itu?

Ah, rupanya waktu enam bulan belum cukup untuk membuatku tahu banyak hal tentang dirinya.

Aku menggeleng, mengusir rasa rindu yang tanpa ampun menggigit kalbu. Nyeri. Sakit. Sesak. Terpilin-pilin dalam satu waktu. Fix, aku butuh obat.

Begitu sampai rumah, aku duduk di teras. Ada satu kursi plastik berlengan. Biasanya Maysa duduk di sini. Memandangi bunga-bunga anggrek yang menjuntai dan bermekaran. Sesekali sambil menyemprotkan air dan membubuhkan pupuk. Atau menata ulang letak pot-potnya, yang kurang lebih ada dua puluh empat.

Malam ini, aku melakukan hal yang sama. Mungkin agak gila. Namun dengan melihat mereka, bukan hanya melegakan ruang rindu, tapi juga menumbuhkan sebuah harapan. Bahwa suatu saat Maysa akan kembali ke rumah ini. Sebagai istriku lagi. Entah kapan, atau selamanya hanya akan jadi mimpi?

Iseng, aku memotret bunga anggrek yang kubeli waktu dinas luar di Jawa Timur. Sudah lebih besar dari waktu itu. Ada lima batang dan masing-masing sudah berada di pot yang berbeda.

Dengan bantuan flash dari kamera ponsel, lumayan menghasilkan gambar yang tajam.

Iseng lagi, jempolku mencari ruang percakapan whatsapp dengan Maysa. Lalu aku mengetik di sana,

[Anggrek ini untuk Maysa. Beli waktu dinas luar di Jawa Timur. Waktu itu masih di botol. Sekarang sudah lebih besar. Abang pindahin ke pot. Belajar nanam anggrek dari buku yang Maysa beli.]

Setelah kubaca ulang, segera kuhapus lagi. Dan beginilah caraku mengungkapkan isi hati. Mengetik di ruang percakapan, lalu baca sebentar, dan setelahnya … delete. Kadang jika Maysa terlihat online, aku berhenti lalu mematikan layar. Menghilang.

Mungkin terlihat seperti pengecut. Biarlah. Ya, biar saja untuk sementara begini. Aku yakin, di sana Maysa butuh waktu. Butuh waktu untuk … entahlah. Mungkin semacam jeda untuk meredam rasa sakit akibat ulahku.

Ingatanku pun lari, menarik momen ketika bertandang ke rumahnya. Sepulang kantor, beberapa jam setelah anggrek bulan dari si Pengagum Rahasia sampai padanya.

“Aku pikir enggak ada gunanya kamu ke sini. Kalau sekedar mau minta maaf, orang tua kamu sudah melakukannya kemarin,” ucap Mahesa, kakak Maysa. Seorang lelaki yang dinginnya mengalahkan freezer es krim.

Aku menatapnya dalam diam. Dari caranya bicara, aku paham bagaimana tersinggungnya keluarga Maysa.

“Setidaknya saya beritikad baik. Entah ada gunanya atau sia-sia.” Sebagai pihak yang salah, aku melapangkan dada untuk berada di ‘bawah’.

Lelaki yang usianya sepantaran denganku itu tersenyum miring. “Kalau memang beritikad baik, bukan taksi online yang mengantar Maysa pulang ke sini.”

Ya, aku memang salah besar. Keliru total. Kupikir Maysa tidak akan pergi secepat itu. Kala itu aku … aku syock berat.

“Apalagi dengan kondisi badan yang bahkan dipakai berdiri saja belum tegak,” desis Mahesa. Kalimatnya berhasil menendang seluruh isi dadaku.

Janin itu …. Keguguran itu ….

Merasa tidak diterima dengan baik, aku segera pamit. Niatnya ingin bertemu dengan Maysa atau orang tuanya, tapi malah berhadapan dengan manusia salju bernama Mahesa. Kata Bi Salamah, tuan dan nyonya pemilik rumah sedang ada acara di luar sana. Salahku juga datang tiba-tiba.

Sebelum meninggalkan rumah itu, aku melirik ke arah taman kecil di samping teras. Lega. Anggrek putih dari si Pengangum Rahasia ada di sana. Tiba dengan selamat tanpa ada secuil pun yang potel. Oh, thanks, Bang Ojol.

Lalu sebelum membuka pintu mobil, aku mendongakkan wajah, ke arah kamar Maysa. Mataku menangkap gorden yang sedikit disingkap oleh jemari lentik seseorang. Mengulum senyum, aku tahu itu dia.

Hari itu, aku pulang dengan separuh hati bahagia dan separuhnya lagi hampa. Sikap Mahesa mematahkan semangatku untuk kembali merengkuh Maysa.

*

Weekend ini, Ratu mengajakku bertemu di Fauna Land, Eco Park Ancol. Dia ingin memperkenalkan Bastian. Aku mengiyakan. Kupikir akan sangat menyenangkan bermain dengan anak kecil.

“Kenalin Sayang, ini namanya Om Reyhan.” Ratu mengenalkan Bastian padaku.

Aku tersenyum ramah, lalu membungkuk sembari mengulurkan tangan kanan. “Hai, Bastian.”

Anak lelaki berpipi tebal itu menatapku takut-takut. Bukannya menyambut tanganku, ia malah bersembunyi di belakang ibunya.

“Maaf, ya? Bastian emang gini kalau ketemu sama orang baru.” Ratu tersenyum lalu menggendong putranya.

“Enggak papa. Mungkin takut lihat aku yang brewokan.” Aku terbahak pendek.

Kami pun berjalan menuju loket pembelian tiket. Lumayan, antreannya agak panjang.

“Papa mana?” tanya Bastian dengan artikulasi yang belum begitu jelas.

Ratu mengerling sungkan ke arahku. “Papa …. Em … hari ini Bastian main sama Mama aja, ya. Sama Om Reyhan juga. Kita mau lihat apa, Sayang? Oh, mau lihat monyet, ya? Sama singa juga! Yeay!”

“Suara singa gimana, Bastian?” tanyaku ikut mengalihkan. Biasanya keponakanku akan antusias jika diminta menirukan suara-suara hewan.

Bastian malah menyembunyikan muka. Aku pun memilih diam saat menyadari sudah mendapatkan giliran untuk membeli tiket.

Begitu tiket di tangan, aku mengiringi langkah Ratu yang agak terseok-seok karena balita berbadan bongsor itu tidak mau turun dari gendongan.

“Papa …,” rengek Bastian berkali-kali.

Aku hanya bisa menggaruk tengkuk. Merasa tidak nyaman dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Eh, itu apa, Sayang?” Ratu mempercepat langkah saat kami hampir mencapai kandang beberapa hewan. Aku hanya mengekor di belakang.

Bastian memandang kucing raksasa yang melingkarkan badan di balik dinding kaca tebal. Tapi hanya sesaat, karena setelahnya ia kembali merengek, menyebut kata papa.

Ratu membawa Bastian berlari kecil. Mungkin biar tertawa. Wanita berpakaian kasual itu menghentikan langkah di kandang singa putih. Telunjuk Ratu mengetuk-ngetuk kaca tebal yang menjadi pembatas antara pengunjung dan si hewan buas. Bukannya senang, anaknya justru menangis kencang.

“Kayaknya dia lengket banget sama papanya,” tuturku saat kami duduk di sebuah bangku panjang. Bastian sudah terlelap di pangkuan Ratu. Mungkin karena capek menangis dan merengek selama berjam-jam.

Ratu mendengkus lirih. Wajahnya berpeluh. “Namanya juga papa sama anak. Wajar lah.”

Ya, wajar. Keponakanku juga begitu. Lengket bukan main sama Mas Haidar, papanya. Tapi tak separah Bastian, kupikir. Sepertinya, Sony mendapat tempat yang benar-benar istimewa di hati anaknya.

“Sori ya, Han. Bastiannya enggak kooperatif.” Ratu menenggak sekaleng minuman kelapa hingga tandas.

“Enggak papa. Namanya juga anak kecil.” Aku tersenyum meyakinkan. “Habis ini ke mana?” Tanyaku sembari mengedarkan pandangan. Masih ada satu wahana lagi, berinteraksi dengan burung pemangsa. Tapi belum dibuka.

“Pulang, mungkin. Capek banget.” Ratu melahap sebungkus roti. Sepertinya benar-benar kelaparan.

“Aku beliin nasi dulu, ya?”

Ratu mengangguk senang. “Boleh.”

Aku beranjak. Menuju outlet salah satu penjual makanan. Saat menerima dua kotak nasi, mataku menangkap sesosok berkerudung lebar.

Maysa?

Kontan jantungku berdentam. Namun lekas mereda saat menyadari bahwa itu bukan dirinya. Aku membuang napas kuat-kuat. Sejak Maysa pergi, aku sering begini. Mengira bahwa semua wanita bergamis dan berkerudung lebar adalah mantan istri.

*

“Silakan, Pak, kuenya.” Seorang tenaga administrasi menawarkan sekotak kue besar ketika aku mengisi absensi.

Orchid Cake n’ Bakery?

Alisku berkerut. Ah, mungkin ada yang beli di sana lalu dibawa ke sini. Aku menggeleng. Mengusir bayangan Maysa yang datang tiba-tiba.

“Saya masih kenyang, Pak. Makasih. Oh ya, Ustaz Hadi sudah ada?” tanyaku sambil celingukan menengok ke dalam.

“Sudah, Pak. Tapi masih di belakang, kayaknya.”

“Oh. Saya masuk kelas dulu, ya?”

“Silakan, Pak.”

Letak ruang kelasku kebetulan dekat dengan ruang administrasi. Dengan dinding sekat yang terbuat dari papan, suara-suara di depan masih bisa didengar dengan jelas dari sini. Aku datang paling awal. Sambil menunggu yang lain, aku membuka-buka kitab tajwid. Mengulang pelajaran kemarin.

“Kue dari siapa, nih?” tanya seseorang yang baru datang. Entah siapa.

“Dari Ustazah Maysa, Ustaz. Enak banget, Ustaz. Silakan kalau mau.”

Ustazah Maysa?

Mendengar nama itu, konsentrasiku buyar.

“Oh, Ustazah baru yang wajahnya kayak orang Korea itu?”

“Na’am Ustaz. Beliau kan, punya toko kue. Sering bawa makanan ke sini. Tapi kadang udah habis duluan sama yang lain.”

“Oh, gitu. Mm … enak, ya? Bisa pesan ke sana nih, kalau ada acara.”

Maysa mengajar di sini?

Aku bangkit keluar ruangan. Membaca jadwal belajar yang ditempel di dinding lorong.

Benar saja, ada nama Maysa Al-Mahira. Mengajar hari Senin sampai Jumat, pukul 16.00-17.30 WIB. Kelas putri.

Jadi … kita sedekat ini, Maysa?

‐x-

Facebook Comments

Author: ahlijualproperti087887232777

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *