USAI BERCERAI – 2

USAI BERCERAI – 2

OLEH : DEWI FATIMAH

“Celana dalam, kaos hitam …. Di mana, sih?” Aku menggumam sendiri di kamar. Menghadap lemari yang terbuka. Pusing menatap tumpukan pakaian di dalamnya.
Kostum hari ini batik. Warna gelap. Mudah dicari karena digantung, bukan dilipat. Tapi celana dalam dan kaos hitamnya ….
Masalahnya aku tidak hafal di mana letak masing-masing. Aku pun menyemburkan napas kuat-kuat. Menit kemudian menggaruk rambut yang masih basah dengan kasar lantaran frustasi.
Apa minta tolong Maysa saja? Biasanya dia yang menyiapkan pakaian kerja.
Kamper jamuran! Gengsimu ditaruh mana, Reyhan?! Sadar status, woi!
Oke, tenang. Tarik napas …, embuskan …. Cari satu persatu dan pelan-pelan.
Aku menatap setiap baris tumpukan pakaian dengan seteliti mungkin. “Nah! Ketemu, kan?” Tersenyum lega, sebuah celana dalam sudah berhasil kukeluarkan.
“Terus … kaos hitam ….” Sepertinya perlu diintip satu persatu tumpukan kaos ini!
“Nah, kan!” Aku berseru lirih. Keselip rupanya. Namun ketika ditarik, kaos-kaos yang lain malah berguguran. Rasanya seluruh kosakata umpatan hendak keluar!
Istigfar, Reyhan …. Istigfar …. Sabar.
Dengan perasaan setengah enggan, kupunguti kaos-kaos yang berceceran di lantai. Ini kalau Maysa tahu, dia bisa mengomel.
“Subhanallah suamiku, luar biasa sekali! Menambah ladang amal istri!” Biasanya dia akan berujar begitu sambil mengelus dada. Lalu berikutnya dia tidak akan membiarkan suaminya ini, eh, maksudku mantannya ini untuk mengambil baju sendiri.
Ah, Maysa ….
Aku menggeleng cepat. Mengusir pikiran yang mulai rancu.
Baiklah …. Hampir 30 menit habis hanya untuk memilih outfit hari ini. Dan begitu menyadari jam di dinding kamar sudah menunjukkan angka 7.30 WIB, diriku bergegas keluar. Batas absensi tinggal setengah jam lagi! Padahal mobil belum dipanasi, jalanan juga tidak ada jaminan lancar. Mati aku! Tunjangan terancam kena potongan!
Ketika hendak mengenakan sepatu, baru sadar kalau belum mengambil kaos kaki. Aku pun berlari ke kamar. Kembali membongkar lemari. Berantakan? Bodo amat!
Lega. Sepatu sudah terpasang. Kulangkahkan kaki menuju garasi. Lalu kudapati Maysa sedang memegang sapu di teras, membersihkan pecahan pot anggrek. Biasalah, ulah kucing berantem.
Tapi … bukannya dia harus ke toko kue?
Ya, Maysa adalah owner sebuah toko kue. Biasanya sebelum jam tujuh pagi sudah berangkat. Ini? Kenapa masih santai?
Tanya, jangan. Tanya, jangan. Tanya ….
Dia menoleh. Menatapku dengan kedua alis bertaut. Aku gelagapan sendiri, ketahuan mencuri pandang.
“Eng … enggak ke toko, May?” tanyaku gugup.
Maysa kembali menggerakkan sapunya–yang sempat terhenti karena menoleh padaku, mengumpulkan tanah dan kepingan pot yang berserakan. “Insyaallah jam sembilan.” Ia tidak memandangku lagi.
“Oh, jam bukanya berubah, ya?” tanyaku lagi sembari memasukkan tas kerja ke dalam mobil.
“Enggak. Kan, ini hari Sabtu. Bukanya siang. Masa lupa?” Maysa mengucapkan masa-lupa dengan sedikit ngedumel.
Sabtu? Aku menatap punggung Maysa tanpa kedip. Lalu pelan-pelan kulirik arloji yang melilit di pergelangan tangan kiri.
SAT.
Tiga huruf yang tertera di layar benda itu. Artinya … SATURDAY alias Sabtu.
Kucing kecemplung got! Jadi hari ini Sabtu? Aku berpikir lagi, mengingat-ingat.
Iya ya, kemarin aku menemui Ratu setelah salat Jumat. Ya salam …. Sejak kapan Reyhan jadi pikun begini? Usia juga baru 30 tahun.
Karena tak ingin terlihan oon, aku tetap menampakkan wajah stay cool.
“May, Abang ada acara. Pergi dulu,” pamitku sebelum masuk mobil.
Sebenarnya tidak penting, cuma jaga-jaga karena Maysa terlihat heran mendapatiku rapi di akhir pekan. Padahal biasanya tidur sampai menjelang zuhur. Dia juga tidak boleh tahu kalau aku telah melewati pagi yang luar biasa kacau, tapi ujung-ujungnya salah hari.
“Ya.” Maysa menyahut datar sembari melirik sekilas. Kedua tangannya sibuk menata pot anggrek yang bergeser–karena ulah kucing.
Nyeri. Entah kenapa sikap dingin Maysa membuat dada ini terasa sakit.
Setelah menyemburkan napas kasar, aku duduk di kursi kemudi. Kunyalakan mobil dengan hati dongkol. Membiarkannya hidup, berharap mesinnya panas. Ya siapa tahu hangatnya nular ke Maysa. Biar cair sikap dinginnya.
Ketika mobil sudah mundur perlahan, aku menepuk jidat. Bagaimana bisa keluar kalau pagar masih tertutup rapat?
*
Usai sarapan di sebuah resto cepat saji dekat komplek, aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Entah akan pergi ke mana. Aku juga belum tahu. Paling tidak harus keluar dua sampai tiga jam agar Maysa tidak curiga. Eh, sejak kapan Maysa menjadi alasanku melakukan sesuatu? Aku menyentak napas dan menggeleng samar. Heran.
Saat beberapa menit berhenti karena lampu merah, sikap dingin Maysa melintas di ingatan. Sikap yang mengingatkanku saat pertama kali kami bertemu.
Waktu itu hari Minggu. Mama membawanya ke rumah setelah balik dari pengajian. Untuk dikenalkan padaku.
Denganku, Maysa tidak banyak bicara. Kecuali memang benar-benar perlu. Cara menjawabnya pun datar. Sangat kontras jika dia berhadapan dengan Mama atau Papa.
Dalam hati, aku tertawa sinis. Wanita model begitu mau jadi istriku? Parasnya biasa tanpa polesan make-up sedikit pun. Sungguh berbeda dengan Ratu dan beberapa mantan yang pernah singgah di hatiku, yang semuanya pintar dandan. Begitu membanggakan saat diajak jalan.
Bagiku, pakaian Maysa juga terlalu tertutup. Kayak Mama. Kalau beliau sih, wajar. Sudah hampir kepala enam. Siapa juga yang bakalan komentar? Lah Maysa? Duh, artis hijrah saja pakaiannya enak dipandang. Dia? Benar-benar polosan. Tanpa pernak-pernik atau hiasan.
“Aku enggak cinta sama kamu. Gimana kita mau menikah kalau di hati masing-masing tidak ada rasa?” Akhirnya pertanyaan itu mencuat dari mulutku.
Sesungging senyuman terbit dari bibirnya yang memang berwarna merah alami. “Setahu saya, sebuah pernikahan tidak harus diawali dengan cinta. Bahkan mayoritas rumah tangga Rasulullah dan shahabat terjalin bukan karena cinta.”
Aku mengangguk-angguk. Ada ya, cewek yang enggak memuja-muja cinta kayak Maysa?
“Pernah ta’aruf sebelumnya?” tanyaku lagi.
“Pernah.”
“Kenapa enggak nikah sama yang pernah ta’aruf sama kamu?” Waktu itu aku menduga, pasti ketahuan belangnya.
Setelah diam beberapa detik, Maysa menghela napas. Seolah itu kenangan buruk dalam hidupnya. “Dia meninggal karena kecelakaan. Satu pekan sebelum kami menikah.”
Jawabannya membuatku bungkam. Prihatin. Tapi juga membuatku penasaran, seperti apa sosok lelaki itu.
Ponselku berdering, memutus memori. Sekilas kulirik benda berukuran lima inchi yang terletak di atas dashboard. Terbaca nama Ratu di layarnya.
“Han …,” lirihnya sebelum aku sempat bersuara. Terdengar dia sedang tidak baik-baik saja.
“Iya, Ra? Kamu kenapa?”
Ratu terisak.
Sepertinya ada yang serius.
Lampu hijau menyala, kulajukan mobil lalu segera menepi di tempat yang aman. “Ada apa, Ra?”
“Han ….”
“Kamu di mana?”
Terdengar suara susutan ingus. “Di … di makam ibu.”
Mataku memejam. Ratu yang tengah bersedih dan curhat pada ibunya, membayang-bayang.
“Aku jemput. Tunggu di sana,” tukasku.
Kubelokkan mobil ke arah sebuah TPU. Agak ngebut. Ratu butuh aku.
Sepuluh menit, aku tiba di sana. Setelah memarkir mobil di tepi jalan, kakiku melangkah di antara makam-makam. Ratu duduk sendirian. Terpekur dengan mata memandangi nisan ibunya. Mungkin ada banyak kata yang ia ungkapkan melalui hatinya.
“Ra …,” sapaku ketika jarak kami sudah dekat.
Ratu sedikit mendongak. Setelah memandangku sekilas, ia kembali terisak-isak.
Aku berjongkok, meraih tangan kanan wanita itu. Astaga! Pipinya lebam.
“Ra, kenapa?” tanyaku lembut.
Ratu mengusap linangan air matanya dengan cepat. Seolah ingin mengatakan bahwa dirinya kuat. Aku pun memutari makam lalu duduk di sisinya. Naluriku mengatakan, Ratu hanya butuh pelukan.
Di depan dadaku, tangis Ratu semakin tersedu. Kubiarkan air mata campur ingus tumpah di baju batik yang kukenakan.
Lima menit … sepuluh menit …. Perlahan wanita cantik itu menarik kepalanya. Kedua mata indah yang kini sayu menatapku terimakasih, sedangkan aku menatapnya penuh tunggu.
“Biar aku jelasin di mobil,” lirihnya parau.
Aku mengangguk. Kami pun beranjak, berjalan beriringan. Meninggalkan makam wanita yang meninggal dua tahun silam. Sosok yang kutahu menjadi sandaran seorang Ratu.
“Tadi malam aku pulang ke rumah,” tuturnya setelah kami berdua berada dalam mobil, “cuma untuk jemput Bastian. Tapi … Mas Sony ngelarang aku nemuin anak aku sendiri. Aku ngelawan. Dan … ya … akhirnya kena damprat.”
Sony, nama suaminya.
“Aku pulang ke rumah Ayah. Tapi setelah dia tahu persoalan rumah tangga kami, Ayah malah marah. Ngusir aku. Katanya, aku yang salah. Jadi istri pembangkang.” Ia tersenyum miris.
Air mata itu tak lagi berlinang. Namun luka terlihat jelas pada wajah yang tampak pias. Luka pada seonggok daging merah di dalam dada. Hatinya.
“Terus … semalam kamu tidur di mana?” tanyaku setelah beberapa detik saling terdiam. Memikirkan pesan yang kukirim semalam tidak ada balasan.
“Numpang di tempat temen.”
Aku menghela napas berat. Wanita di sampingku ini, dari dulu tak pernah lepas dari ujian hidup. Dan yang membuatku salut, dia selalu tampak seolah baik-baik saja. Sesusah apapun hidupnya.
Dia bukan wanita yang dibesarkan di keluarga berada. Ayahnya seorang satpam di sebuah perusahaan. Ya, perusahaan orang tua si Sony itu. Almarhumah ibunya sejak dulu sakit-sakitan. Penghasilan ayahnya tidak cukup untuk menghidupi ibu, Ratu, dan adiknya yang masih kuliah, termasuk biaya berobat. Hutang menumpuk. Ratu diminta untuk menikah dengan Sony. Perjodohan yang dianggap sebagai jalan keluar masalah ekonomi.
Ketika itu, aku baru jadi ASN. Gajiku di tahun pertama baru 80%. Belum bisa membantu masalah di keluarga Ratu. Terpaksa kami berpisah.
Kalau tahu pada akhirnya akan begini … mungkin tidak semudah itu membiarkan Ratu pergi.
“Han, maaf …,” ucap Ratu lirih. “Semalem enggak sempat balas pesannya. Maaf juga … lagi-lagi aku ganggu kamu. Aku jadi enggak enak sama Maysa.”
“Kami udah pisah,” sahutku cepat.
Ratu memandangku penuh tanya. Seakan tak percaya.
“Tadi malam,” jelasku singkat.
“Gara-gara aku? Apa dia tahu kamu nemuin aku kemarin? Dia–”
“Bukan, Ra. Bukan gara-gara kamu.”
“Tapi kenapa?”
“Aku akan cerita. Tapi enggak sekarang. Masalah kamu lebih penting.”
Ratu terpaku beberapa saat. Mata bulatnya berkedip-kedip teratur. Seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulutku.
“Oke. Rencana kamu hari ini apa? Kebetulan, aku punya banyak waktu.”
Mendapati Ratu masih diam, aku melanjutkan, “Oh, ya, udah sarapan?”
Wanita itu menggeleng.
“Oke. Mau sarapan apa?”
“Enggak tahu. Lagi enggak mood makan.”
Aku menyentak napas. Enggak mood makan, katanya? Tanpa bertanya lagi, aku melajukan mobil. Menuju resto cepat saji terdekat. Tidak ada ide lain. Dan aku tahu dari dulu Ratu suka sarapan burger dipadu dengan minuman bersoda.
Bukan pilihan yang sehat, tapi lebih baik dari pada kelaparan. Kalau pingsan, bisa tambah runyam.
*
Selain kehilangan tempat tinggal secara mendadak, Ratu juga kehilangan pekerjaan. Sony si laki-laki sialan itu sudah mendepak Ratu dari butiknya. Bukan hanya itu, kartu kredit dan debit dibekukan sepihak. Gampang saja, karena semua atas nama dirinya sendiri.
Zalim bener jadi laki. Lihat, tuh! Ratu makan dengan lahap kayak orang yang enggak nemu makanan sebulan.
Ponselku berdenting. Setelah kuusap layarnya, kudapati pesan dari Maysa.
[Izin masuk kamar. Mau ngambil barang.]
Napasku tertahan sejenak. Maysa mendadak jadi makhluk luar angkasa. Saking asingnya.
Biasanya, pesan Maysa tidak pernah to the point seperti ini. Apakah perceraian telah mengubah banyak hal pada dirinya? Padahal aku tidak zalim seperti Sony.
“Kenapa, Han?” Ratu menatapku sembari menenggak minuman berkarbonasi.
“Apanya yang kenapa?”
“Kenapa pasang muka sedih kayak gitu?”
“What? Sedih?”
Hello Kitty kejepit pintu! Apakah pesan dari Maysa berhasil mengubah riak mukaku?
Ratu meletakkan gelas lalu mengangguk-angguk.
“Enggak. Aku enggak sedih.” Kataku yakin. “Udahan makannya?” tanyaku mengalihkan perhatian.
Ratu mengangguk sambil menyuguhkan senyum tipis. Setelah makan, ada perubahan cukup signifikan pada wajahnya. Sudah cerah meskipun lebam biru itu masih sangat kentara.
Kami beranjak. Rencana berikutnya, mencari tempat tinggal sementara untuk Ratu. Sambil jalan, menyusun rencana untuk mencarikannya pekerjaan.
Kamu wanita kuat, Ra. Tenang, aku akan berada di sampingmu. Menemani perjuanganmu. Seperti dulu.
*
Sampai rumah jam empat sore. Aku langsung merebahkan diri di atas ranjang. Mungkin karena terlalu lelah, kedua mata langsung terpejam. Hingga gelegar petir membuat kaget dan memaksaku bangun.
Gelap. Sesekali kilatan petir menerobos, lewat kaca jendela yang masih tersingkap gordennya. Memberi pencahayaan sementara.
Aku bangkit dengan tubuh yang kembali bertenaga. Meraba-raba letak saklar. Lampu menyala. Baru pukul enam. Kenapa sudah segelap ini? Mungkin karena mendung pekat. Aku menebak-nebak.
Meraih handuk, lalu mandi. Rumah sepi. Maysa belum pulang? Di luar hujan deras. Tiba-tiba rasa khawatir datang. Bagaimana kalau dia kejebak di tokonya? Atau kuketuk saja kamar sebelah untuk memastikan dia sudah kembali dan … baik-baik saja?
Ah, tidak perlu. Aku menggeleng samar. Mengusir rasa khawatir yang tidak biasanya datang.
Usai mandi, aku membuka lemari. Kaget. Isinya sudah tertata rapi. Pasti Maysa pelakunya. Siapa lagi?
Tubuhku membeku sejenak. Menyadari lemari tampak lebih longgar. Baju-baju Maysa sudah dipindahkan. Dan yang lebih mencengangkan, celana kerja, celana rumahan, kaos dalam, kaos berkerah, kaos kaki, celana dalam, sarung, dan sebagainya terletak di tempat yang berbeda-beda.
Ah, Maysa ….
Dengan perasaan bersalah, aku mengambil baju untuk dikenakan malam ini. Bersalah telah mengobrak-abrik isi lemari pagi tadi. Bersalah telah … menceraikannya?
Tidak, tidak. Aku yakin rasa aneh yang tiba-tiba datang bukan karena itu.
Aku pun menunaikan salat magrib. Setelah itu keluar kamar. Perut lapar. Tapi hujan masih deras, tidak memungkinkan cari makan di luar. Berharap masih ada stok telur dan mi instan.
Kudapati Maysa berdiri menghadap kompor. Menatap punggung itu, entah kenapa membuat hatiku bersyukur, lega. Dia baik-baik saja. Tanpa sadar, senyum di bibirku merekah. Aku pun menarik kursi, duduk menunggu … Maysa.
Mungkin kaget, Maysa mundur satu langkah saat mendapatiku sudah di sini. Sejenak, dia tampak bingung atau ragu-ragu. Namun akhirnya melangkah juga ke meja makan. Menaruh semangkok mi instan. Aromanya memicu perutku menjerit-jerit minta segera diisi.
“Masih ada stok mi, May?” tanyaku penuh harap.
“Habis,” jawab Maysa singkat. Dia masih berdiri dengan wajah ragu-ragu.
Aku menyemburkan napas. “Laper tapi masih hujan, nasib!” gumamku cukup keras. Berharap Maysa peka.
“Mau?” Maysa menawarkan.
“Enggak usah. Nunggu hujan reda aja.” Aku memasang wajah santai. Padahal perut sudah melilit-lilit tak karuan.
“Ini juga enggak bakalan habis, kok.”
Ya, aku tahu wanita di hadapanku ini tidak banyak makan. Tak heran kalau badannya mirip tiang.
Agak jaim, aku menjawab, “Boleh, deh.”
Maysa mengambil mangkok dan sendok. Lalu membagi dua mi kuah yang masih mengepulkan uap panas. Membuat liur di mulutku seketika berkumpul.
“Makasih,” ucapku setelah mangkok itu disodorkan di hadapanku. Menyadari Maysa masih berdiri ragu, aku berkata, “Duduklah, May. Makan bareng mantan enggak bikin dosa, kok.”
“Aku makan di kamar aja.” Maysa mengambil mi miliknya lalu nggeloyor masuk kamar sebelah.
Ekor mataku hanya bisa mengikuti sosok tinggi berbalut kerudung abu-abu. Agak kesal ditinggal sendirian, aku pun melampiaskannya dengan menandaskan separuh mangkok mi rasa ayam bawang.
Hanya berselang lima belas menit, Maysa kembali keluar. Meletakkan mangkok di wastafel. Sedangkan aku sudah duduk di sofa depan televisi. Menonton acara lawakan yang entah kenapa malam ini terkesan garing.
Terdengar suara benda pecah. Aku menoleh kaget. Kontan beranjak menuju sumber suara dan kudapati Maysa memunguti pecahan beling. Sebentar kemudian, ia mendesis kesakitan. Membuatku ikut berjongkok, membantunya.
“Biar Abang aja.” Aku menggenggam lengannya dan segera saja ia menepis tanganku.
Mataku melirik jemarinya. Telunjuk panjang itu berdarah. Kucekal kembali lengannya, lalu memaksanya mencuci luka di bawah aliran air wastafel. Maysa masih berusaha melepaskan genggaman.
Aku mendesis kesal. “Diem aja kenapa, sih? Mau luka ini kena infeksi?”
Terdengar lebay, memang. Tapi kalimat itu cukup ampuh untuk membuat Maysa pasrah. Aku mengulum senyum, menyadari ada rasa nyaman saat melakukan ini.
Setelah darah di tangannya bersih, aku meraih tisu roll yang tergantung tak jauh dari keran air. Kubungkus telunjuk itu dengan gulungan tisu.
“Duduk dulu,” perintahku merujuk meja makan.
Maysa menurut. Ia menekan luka sambil sesekali melirik ke arahku yang tengah membereskan pecahan beling.
“Kenapa, May? Kabur lagi pandangannya?”
Sudah hampir sebulanan ini, Maysa beberapa kali memecahkan perabotan. Katanya, pandangannya kadang-kadang kabur. Dia pikir, barang sudah diletakkan di tempatnya. Tapi rupanya meleset.
“Iya.” Ia menjawab lirih.
“Mata kamu minus kali. Atau silinder.” Ah, ya. Aku bahkan belum sempat mengantarnya periksa ke dokter.
Lagi, rasa bersalah itu menghampiri tiba-tiba.
-x-

Facebook Comments

Author: ahlijualproperti087887232777

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *