USAI BERCERAI – 10

USAI BERCERAI – 10

OLEH : DEWI FATIMAH

[Assalamu’alaikum. Maysa, dua pekan ke depan, Abang ada dinas luar. Jadi maaf, belum bisa mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Atau, berkasnya Abang kasihkan ke Maysa aja? Biar enggak terlalu lama menunggu.]

Aku mengirim pesan pada Maysa yang entah sedang apa.

[Wa’alaikumussalam warahmatullah. Enggak usah, Bang. Insyaallah, saya masih bisa nunggu. Lagipula, kan Abang yang menceraikan saya.]

Reflek, tanganku menekan dada. Nyeri.

[Butuh segera?]

[Lebih cepat lebih baik. Iya, kan?]

Lebih cepat lebih baik, katanya ….

Aku meletakkan ponsel di atas sofa, menghela napas berkali-kali, lalu mondar-mandir tak jelas depan televisi. Acara talkshow paling favorit tidak mampu mengalihkan pikiranku dari masalah ini.

Duduk, kuraih ponsel, lalu mengetik.

[Proses sidang bakalan ribet banget, May.]

Send. Lalu mengetik lagi.

[Atau gimana kalau kita balikan aja?]

Send …, batal. Send …, batal.

Bismillah …. Aku menghirup udara dalam-dalam seraya memejamkan mata. Lalu … send!

Napasku terjeda sejenak. Senorak itukah berterus terang? Kembali menatap layar ponsel. Aduh! Mampus, sudah centang biru.

Gelisah, menunggu balasan. Namun hingga tengah malam, tidak ada jawaban.

Aku membaca ulang pesan-pesan yang terkirim. Apa … ada yang salah? Aku yakin tidak. Mungkin, Maysa memang tidak berkenan.

Aku berbaring di kamar, meringkul, memeluk guling. Irama detak jantung berantakan, hati ngilu tak karuan, dan seluruh isi dada seakan terpilin-pilin, menyakitkan.

*

“Lo percaya bahwa jodoh adalah cerminan diri kita sendiri? Dulu, kupikir itu bulshit. Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya benar juga.” Sony ngoceh melalui sambungan telepon.

Dari kamu jadi lo. Fine. Sejak merasa dibantu, Sony tiba-tiba akrab denganku. Atau kalau belum pantas dibilang akrab, setidaknya dia menganggapku teman. Setelah sebelumnya … entah dikatakan apa.

“Perceraian kami benar-benar jadi pelajaran berharga, Han. Gue jadi banyak merenung. Intropeksi. Yah, gitu lah. Termasuk ortu gue. Ratu enggak sepenuhnya salah. Gue ikut andil. Bahkan ngambil porsi paling besar.” Dia tertawa miris. “Gue jadi mikir, Ratu begitu karena gue begini. Ya, bener kata-kata itu. Jodoh adalah cerminan diri kita sendiri.”

Aku berdiri tegak di balkon penginapan. Mendengarkan setiap kalimat yang mengalir dari bibir Jerry Yan KW sembari menghadap hamparan lautan biru di Pulau Sebuku, Kalimantan. Tempat aku dan tim ditugaskan selama dua pekan. Audit sektor migas. Perusahaan asing milik salah satu negara di Timur Tengah.

Sebentar. Kalau jodoh adalah cerminan diri sendiri, berarti … Maysa bukan jodohku? Dia begitu dan aku begini. Maksudku, dia salihah dan aku? Dikatakan sekedar baik saja harus ada tinjauan berulang-ulang.

“Bener-bener enggak tega liat Bastian kayak gitu, Han. Mau sampai kapan kami kucing-kucingan soal hak asuh? Bikinnya berdua, masa mau dijadiin rebutan?” Ia terbahak pendek. Menertawakan sikap mereka yang mungkin tak jauh beda dengan anak-anak.

Tawaku pun tersembur. Laki-laki ini rupanya punya selera humor juga.

“Ternyata, anak jauh lebih berharga dari pada ego kita masing-masing,” lanjutnya yang langsung kuiyakan. “Makanya, lo buruan punya anak.”

Aku mendengkus. Gimana mau punya anak kalau …. Argh! Kamper jamuran si Sony ini! Mengingatkanku tentang Maysa lagi!

Beberapa percakapan kemudian, Sony menutup telepon. Setelahnya aku iseng, membuka chat room dengan Maysa. Pesan terakhir itu tak kunjung dibalas. Aku pun mendesah panjang. Merana.

Aku menggaruk kepala dengan kasar, lalu melenggang masuk kamar. Dalam kesendirian, kubunuh waktu sore dengan mengolah data yang diperoleh dari lapangan. Jika bosan, aku membuka kanal YouTube. Menonton kajian Islam dari seorang ustaz pimpinan sebuah pesantren di Jawa. Aku bertekad, akan terus memperbaiki diri. Dengan atau tanpa Maysa.

*

Jumat siang, aku tiba di rumah. Lelah usai perjalanan cukup panjang. Dari Pulau Sebuku ke Banjarmasin. Dari Banjarmasin ke Jakarta. Sudah seperti pejabat yang sibuk melakukan kunjungan kerja. Aku meringis sendiri, sementara tangan membuka koper lalu membongkar isinya. Baju-baju kotor yang tentu saja bau keringat. Menyengat.

Biasanya, usai dinas luar, aku tidak perlu sepayah ini. Maysa akan langsung mengambil baju bau kecut dari koper lalu menggilingnya di mesin cuci.

“Ew, Abang habis dinas luar apa ikut pertandingan bola, sih?” sindir Maysa sambil cengar-cengir.

Ya Allah …. Aku meremas dada. Sakit berlapis-lapis rasanya.

Teringat sikap manisnya, cengar-cengirnya, dan sindiran halusnya–yang baru kusadari ternyata lucu. Lebih sakit lagi, jika teringat pesan terakhir yang cuma dibaca tapi tak kunjung dijawab.

Seperti menyatakan cinta, tapi ditolak tanpa kata. Dan, seumur hidup belum pernah merasakan penolakan dari wanita. Seperih ini, ternyata.

Menyemburkan napas kasar sembari menggeleng, aku mengusir lintasan kenangan yang sebetulnya indah, tapi membuat hati diserang galau tak kunjung usai. Kupikir, aku tak boleh larut dalam masalah ini. Menyerah? Entahlah.

Aku beranjak, menggiling baju kotor dalam mesin cuci otomatis. Biarkan dia menjalankan tugasnya dengan baik dan aku menikmati tidur siang dengan baik pula. Tanpa mengingat apapun tentang Maysa. Meskipun sulit, lama-lama juga terbiasa.

*

Nanti malam ada jadwal belajar tahsin. Ingin izin dengan alasan capek, tapi lekas sadar diri. Sudah dua pekan tidak belajar, mau libur lagi? Huh! Pemalas kamu, Rey!

Oke, aku putuskan untuk berangkat. Lagi pula ada beberapa bungkus amplang dan sebotol madu hutan Kalimantan untuk para ustaz di sana. Ustazah juga boleh. Ustazah … Maysa?

Aku tersenyum getir. Teringat dirinya, si pembawa separuh jiwa.

Ck! Aku menggeleng, mengusir bayangannya yang tanpa izin memenuhi pikiran.

Jam lima sore lebih sekian menit, aku bersiap berangkat. Mematut diri depan cermin. Celana kain hitam dan kaos dalam warna senada, kulapisi baju koko warna krem yang masih tergantung di belakang pintu. Aku tersenyum, mirip santri yang hendak mengaji. Memang mau mengaji. Tapi sengaja datang lebih awal. Selain ingin menyerahkan oleh-oleh, juga ingin me-review materi kembali. Sekalian salat magrib berjamaah di sana. Diimami oleh hafiz quran yang suara merdunya mampu memelehkan jiwa. Ustaz Hadi? Ya, dia salah satunya.

Beberapa meter sebelum tiba di lokasi, aku dikejutkan dengan pemandangan beberapa orang yang berlari-lari, menyeberangi jalan. Dua orang seperti ngawur tidak melihat kanan-kiri. Mengakibatkan beberapa kendaraan mendadak berhenti.

Mobil maju sedikit lagi dan kudapati orang-orang berkerumun di depan bangunan satu lantai itu. Aku penasaran, apa yang terjadi? Kuparkir mobil di pinggir jalan, lalu mataku menangkap asap hitam membumbung tinggi.

Ya Allah! Rumah belajar quran kebakaran!

Lekas berlari membelah kerumunan, melewati beberapa orang yang berdiri menonton. Kudengar mereka saling berspekulasi.

“Kompor meledak, kali, ya?”

“Kayaknya ada yang korslet, deh,” komentar yang lain.

“Mana pemadam kebakarannya, yak?” tanya beberapa orang sambil celingukan tak jelas.

Kaki terus melangkah tergesa. Beberapa orang tampak hilir mudik mengambil air dengan ember lalu menyiramkan ke titik-titik api yang sudah membesar.

Beberapa wanita berkerudung lebar memekik histeris, melafaskan istigfar, dan berdoa dengan suara keras-keras. Panik.

“Pemadam kebakaran lama banget, sih!” desis seorang ustaz. Yang kutahu, dia mengajar di kelas lain. Berkali-kali dia menatap layar ponselnya dengan sebelah tangan bertengger di pinggang.

Tak jauh dari ustaz tersebut, berdiri seorang Ustaz Hadi yang sepertinya baru tiba. Menatap nanar ke dalam sana. Seakan menyesali sesuatu yang tertinggal dan tak bisa lagi diselamatkan.

“Ustazah Maysa …. Ya Allah, selamatkan Ustazah Maysa ….” rintih seorang wanita tak jauh dari tempatku saat ini. Ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan seorang wanita lainnya.

Aku terkesiap. “Maysa?” tanyaku dengan suara lantang.

“Iya, Ustazah Maysa masih di dalam,” jawab yang lain dengan tangisan.

Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke mobil, mengambil hoodie. Sudah jadi kebiasaan benda itu kugantung di jok belakang. Jaga-jaga kalau kedinginan saat menyetir, terutama ketika malam.

Setelah benda itu di tangan, aku kembali menembus kerumunan. Mencari keran air yang terpasang di luar bangunan. Argh! Sedang dipakai orang-orang untuk mengisi ember. Tanpa bertanya atau apa, aku mencelupkan hoodie ke dalam ember yang masih berisi separuh.

Bismillah, mengumpulkan segenap keberanian. Berbekal hoodie basah, aku menerobos ke dalam api yang kian besar. Beberapa orang memekik, berteriak, melarang, tapi seluruhnya kuabaikan.

Aku berhasil menerobos api di pintu masuk. Jangan bertanya apakah aku sudah pernah latihan? Belum! Skill ini benar-benar spontan.

“Maysa!” Aku berteriak berulang-ulang. Panik, api sudah menjalar ke mana-mana. Menjilat-jilat hingga ke lorong.

“Maysaaa! Maaay!” panggilku lagi disusul batuk akibat menghirup asap berlebihan.

Berbekal hoodie basah, aku memadamkan api yang menghalangi jalan agar bisa merangsek ke belakang, menuju kelas putri. Kudengar suara batuk-batuk seorang perempuan. Aku yakin itu Maysa! Kian bersemangat, aku berlari, kembali menembus api dengan tameng hoodie.

Suara batuk-batuk itu semakin dekat dan ternyata dari ruangan kelas paling pojok.

“Maysa!” pekikku begitu menjumpai sosok wanita berbaring di lantai dengan kaki kanan tertimpa lemari. Api sudah melahap meja, papan tulis, dan dinding kayu penyekat. Masya pasti kepanasan, terlihat keringatnya bercucuran.

“Ya Allah, May …,” lirihku saat menyadari kondisi wanita yang kucintai itu agak mengenaskan. Kacamatanya sudah lepas entah ke mana.

“Abang …,” lirihnya disusul batuk yang menjadi-jadi.

Aku segera mengangkat lemari kabinet yang menimpa kaki kanannya. Lumayan berat, ditambah napas yang tersendat-sendat, semakin membuatku kesulitan mengumpulkan energi.

“Tolong hamba, Ya Allah …. Bantu hamba, Ya Allah ….” Akhirnya, lemari berhasil kuangkat.

Astagfirullah! Kaki Maysa terluka. Gamisnya tersingkap, menyisakan celana panjang abu-abu yang sudah hitam karena darah. Aku melepas baju koko, lalu membebatkannya di daerah luka untuk menekan pendarahan agar tidak semakin parah.

Maysa merintih kesakitan ketika aku mengencangkan ikatan. Tidak tega, tapi harus kulakukan.

“Sabar ya, May …. Maafin Abang.”

Ketika bersiap mengangkat tubuhnya yang hampir kehilangan kesadaran, terdengar suara kayu patah. Aku mendongak, rupanya plavon di atas kepala runtuh. Tidak ada waktu menghindar. Lekas aku menunduk, mendekap Maysa, melindunginya.

“Aaargh!” Aku mengerang. Kayu menghantam keras. Rasa nyeri luar biasa di kepala bagian belakang. Sebisa mungkin segera menguasai diri. Aku pun menggeliatkan badan, menyingkirkan reruntuhan yang terasa berat di punggung. Lalu mengangkat tubuh Maysa dengan sisa tenaga yang ada.

“Bang Reyhan …,” lirih Maysa lagi.

“Iya, Maysa. Bertahan, ya ….” Aku berusaha menguatkannya yang sudah lemas tak berdaya.

Dengan api yang semakin besar, hoodie sudah tak bisa lagi digunakan sebagai ‘senjata andalan’. Maka, aku memberanikan diri menerobos api yang melalap kusen pintu ruangan. Agak ragu, tapi dengan berlari sekuat tenaga, aku yakin bisa.

Dan memang bisa. Tapi sialnya, kerudung Maysa yang menjuntai malah terjilat api. Terpaksa menghentikan langkah, lalu membaringkan tubuhnya di pangkuan dan mengibas-ngibaskan hoodie yang sudah bau asap di atas api itu. Padam, meskipun butuh waktu agak lama.

Tubuh Maysa kembali kuangkat. Ketika akan melangkah, jalan keluar sudah dikuasai api seluruhnya. Ya, dinding-dinding kayu penyekat ruangan sudah rubuh dan api menjilat-jilat di atasnya. Dada pun terasa sesak, ditambah nyeri di kepala yang semakin meraja.

Aku mengeratkan dekapan pada tubuh Maysa yang sudah tidak mengeluarkan suara. Kulirik sekilas, kedua matanya sudah memejam sempurna.

“May, bertahan, plis!” Aku sedikit mengguncang badannya. Berharap dia merespons. Tapi percuma, Maysa sudah kehilangan kesadaran atau lebih buruk lagi …. Semoga saja tidak.

Aku kalut. Panik. Cemas. Tidak mungkin nekat dengan berlari kencang seperti tadi.

Ya Allah, inikah akhir hidupku dengan Maysa? Terjebak dalam kebakaran dan akhirnya terpanggang bersama?

Aku berlutut, lemas. Kutatap wajah Maysa lekat-lekat. Jika memang ini adalah akhirnya, ingin kuungkapkan segala rasa.

“Maafin Abang, Maysa ….” Aku berbisik dengan nada putus asa, tepat di sebelah telinga kirinya. “Maafin Abang udah nyakitin Maysa berkali-kali. Abang salah. Abang bodoh. Abang menyesal.”

Tak terasa, air mata bergulir.

“Abang cinta sama Maysa …. Abang ingin kita bersama-sama lagi. Abang ingin Maysa kembali.”

Aku menengok wajahnya sekali lagi. Tergambar sebuah harapan di sana. Entah muncul sekadar untuk mengusir keputusasaan, atau memang suara hati yang meyakinkan.

Yang jelas, wajah itu seperti memerintahku untuk terus bicara.

“Hei, May, kamu tahu anggrek-anggrek di rumah? Mereka subur. Mereka sehat. Mereka cantik, eksotis.” Kalimatku terjeda oleh batuk, “Mereka menunggu Maysa kembali.”

Api semakin besar. Tubuh kian panas. Ya Allah, beginikah rasanya dipanggang? Jika api dunia sudah semenyakitkan ini, bagaimana dengan api Jahanam?

Teringat dosa-dosa, bibirku menggumamkan istigfar berulang kali. Hingga ….

Kurasakan semprotan air dengan kencang menghantam. Api di hadapan kami perlahan-lahan padam. Aku pun lekas bangkit, keluar. Entah berlari atau berjalan, yang jelas tubuhku seperti hampir melayang. Lalu terdengar pekikan histeris orang-orang. Menyebut namaku, memanggil-manggil Maysa.

Masih bisa kulihat bagaimana mereka menghambur. Tubuh Maysa yang kusangga dengan kedua tangan, diambil begitu saja. Lalu pandanganku semakin buram … gelap ….

Aku tumbang.

-x-

Facebook Comments

Author: ahlijualproperti087887232777

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *