Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 11

USAI BERCERAI – 11

OLEH : DEWI FATIMAH

“Gimana kabar Maysa?”

Entah pertanyaan itu sudah kuulang berapa kali. Sejak bangun dari tidur yang agak panjang, pikiranku terus terpaku pada si pembawa separuh hati.

Mama hanya mendesah lesu, lalu memberi jawaban yang sama. “Terakhir Mama lihat, belum siuman.”

Di hadapanku tersaji sarapan. Nasi, sup ayam dan sayur, tempe goreng, dan puding buah. Seluruhnya terlihat pucat. Entah, mungkin pandanganku yang sedang bermasalah. Sudah berkali-kali Mama memintaku makan, tapi seleraku menguap, hilang.

“Rey, obatnya harus diminum. Makan dulu, ya?” Mama kembali membujuk.

“Obat apa sih, Ma? Palingan antibiotik sama pereda nyeri.”

“Biar cuma antibiotik tapi kan penting. Biar lukamu cepet sembuh.”

Akibat tertimpa reruntuhan kemarin, kepala bagian belakang mengalami cidera. Lukanya cukup lebar. Sekarang kepalaku dililit perban. Punggung juga memar. Efeknya, aku tidak bebas menggerakkan badan. Nyeri dan kaku seperti habis dikeroyok puluhan orang.

Menit kemudian, Papa masuk. Cukup mengejutkan karena di balik punggungnya ada seseorang. Papa Mertua. Atau mantan papa mertua? Apapun sebutannya sekarang, aku tetap memanggilnya Papa.

“Gimana kabarnya, Rey?” tanya Papa Mertua.

Beliau lebih ramah dari pada Mahesa. Meskipun sama-sama sering kambuh dengan sikap dinginnya. Aku baru tahu kalau sifat adalah manifestasi yang bisa menurun. Kadang-kadang Maysa juga membeku seperti itu.

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Mau bilang baik, tapi tidak sedang baik-baik saja. Mau bilang mendingan, tapi badan masih sakit semua.

Papa mempersilakannya duduk di sebelah ranjang. Posisi kami kini sejajar. Sedangkan Mama memindahkan sarapan yang belum tersentuh ke atas nakas. Setelahnya, orang tuaku beranjak keluar, meninggalkan kami berdua. Aku yakin ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh Papa Mertua.

“Saya ingin berterimakasih,” ucapnya seperti menyampaikan pidato resmi.

Ya ampun, aku tahu beliau ini pejabat. Tapi sama mantan menantu jangan sekaku ini, please.

“Terimakasih sudah menyelamatkan Maysa. Waktu dapat telepon dari pihak polisi, pikiran saya sudah kalut. Tidak bisa dibayangkan jika detik itu harus kehilangan anak sebaik dia.”

Aku menyentak napas lirih. Mungkin, ketakutan kami berdua setara.

“Maysa sudah sadar. Dia langsung menanyakan keadaanmu,” tutur Papa Mertua dengan selarik senyum di bibirnya.

Aku menatap mata beliau lekat-lekat. Mencari kebenaran atas ucapannya.

“Dia khawatir.”

Mendengar itu, rasanya seperti minum sekaleng soda dingin. Melepas dahaga sekaligus menyegarkan, dengan bonus sensasi cekit-cekit menyenangkan di dada sini. Percaya atau tidak, ada senyuman yang kutahan-tahan. Gengsi lah tampak merona di depan mantan mertua.

“Untuk masalah kalian, saya sebagai orang tua hanya berharap segera diselesaikan. Dan mendoakan yang terbaik.”

Aku menghela napas. Teringat berkas-berkas untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.

“Saya sangat kecewa, Reyhan. Hanya dalam hitungan bulan, rumah tangga kalian berakhir begitu saja. Dan, ayah mana yang sanggup melihat putrinya terluka? Tidak ada.”

Ya, aku paham betul soal itu.

“Reyhan, dengar. Dulu saya sangat berharap sama kamu, bahwa kamu akan menjadi laki-laki yang membahagiakannya. Seumur hidup. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan sebagai ayahnya.”

Papa Mertua menjeda ucapannya dengan embusan napas berat.

“Maysa sudah berkali-kali terluka. Terutama oleh saya.”

Aku memandangi lelaki berkacamata di hadapanku. Menanyakan kebenaran lewat tatapan dan beliau mengangguk, membenarkan.

“Ya, saya pernah menelantarkan Maysa bertahun-tahun lamanya,” tutur beliau kemudian disusul helaan napas yang panjang. Kedua netranya yang mulai tak jernih, memandang ke luar jendela. Seakan menerawang ke masa silam.

Beliau pun berkisah tentang masa kecil Maysa. Pada beberapa bagian, Papa Mertua menitikkan air mata penyesalan. Jujur, aku terkejut. Maysa belum pernah menceritakan ini. Yang kutahu, ibunya yang merupakan istri kedua Papa Mertua, meninggal dunia sewaktu ia masih duduk di bangku kelas satu SMP. Lalu ketika sudah lulus, ia dijemput ke Jakarta untuk tinggal bersama dan melanjutkan sekolahnya.

Seolah tak ada beban masa lalu yang ia tanggung ketika menceritakan itu. Rupanya, ia hanya berusaha menyembunyikan luka. Agar terlihat baik-baik saja.

Maysa ….

*

Maysa duduk di atas kursi roda. Menghadap kolam ikan kecil yang menjadi sentral taman paviliun rumah sakit. Ini hari ketiga dia dirawat. Kaki kanannya baru menjalani operasi kemarin. Ada retak di bagian tulang kering. Sedangkan aku sudah diizinkan pulang Sabtu lalu. Setelah dipastikan tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, perban ini harus melilit di kepala untuk beberapa hari ke depan.

Mahesa tersenyum lalu menepuk pundakku. Ia sedikit mengayunkan kepala, memberi isyarat bahwa aku sudah boleh menemui Maysa.

“Maysa jarang terbuka soal kedekatannya dengan laki-laki. Jadi kalau kamu pengen tahu, tanyakan aja ke Maysa sendiri.” Kalimat Mahesa kemarin masih terekam dengan sangat baik di otak ini.

Sejak musibah kebakaran itu, hubungan keluarga kami kembali hangat. Setelah beberapa bulan seperti dua negara yang melakukan perang dingin. Meski tanpa genjatan senjata, tapi suasana mencekam itu sangat terasa.

Aku berjalan menuju taman paviliun. Lalu duduk di bangku panjang yang bersisian dengan kursi roda Maysa. Sengaja menyisakan sedikit ruang agar kami tidak terlalu berdekatan.

Menyadari kehadiran seseorang, Maysa sedikit menoleh. Lalu kembali memandangi ikan-ikan yang berenang lincah dalam kolam di hadapan kami. Mungkin tingkah mereka sangat menghiburnya.

“Apa kabar, May?” tanyaku mengawali obrolan.

“Alhamdulillah, merasa lebih baik,” jawabnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari ikan hias.

Angin sore sesekali menyapa sembari memainkan kerudung lebarnya. Pemandangan yang membuatku ingin mengulurkan tangan untuk membelai kepalanya.

“Lain kali jangan kayak gitu lagi,” katanya yang membuat alisku bertaut. “Abang mengambil resiko yang terlalu besar. Kalau terjadi apa-apa sama Abang, aku yang bakalan merasa bersalah seumur hidup.”

Aku memandangnya tanpa kedip sembari berusaha mencerna kata-katanya. “Jadi, Abang harus ngebiarin Maysa terbakar di dalem? Kamu pikir, kalau sampai terjadi hal buruk ke Maysa, Abang enggak merasa bersalah seumur hidup?”

Dia menoleh cepat dengan kelopak yang sudah digenangi kaca-kaca. “Kenapa harus merasa bersalah?” tanya Maysa setelah ia menyeka kilat sudut matanya.

Aku diam sesaat, memandangi tanaman-tanaman hijau yang tertata rapi di sekitar kolam. Menambah kesan sejuk, menyegarkan mata. “Maysa juga, kenapa harus merasa bersalah?” tanyaku dengan seutas senyuman.

Tidak ada jawaban. Pertanyaanku dibiarkan mengambang. Detik demi detik selanjutnya kami saling diam. Aku tenggelam dalam kecamuk di dada sendiri. Mungkin Maysa juga.

“Sejak kapan Abang tahu aku ngajar di situ?” tanya Maysa usai obrolan kami terjeda beberapa menit lamanya.

“Sejak ada yang nyebut-nyebut nama Ustazah Maysa.”

“Terus?”

“Apanya yang terus?” Aku memandangnya dengan alis berjingkat sebelah. Menyadari ada sebuah harapan di balik pertanyaan itu.

Maysa menoleh sebentar lalu menggeleng. “Enggak papa.”

Aku mengulum senyum, menyaksikan perubahan yang cepat di riak wajahnya.

“May,” panggilku lirih.

Maysa kembali menoleh, menatapku. “Kenapa?”

“Kacamata baru, ya?” Aku menunjuk kacamata berbingkai hitam yang ia kenakan.

“Iya.”

“Silinder berapa?”

Jujur, aku ingin menabok pipi sendiri. Bukan ini yang ingin kutanyakan. Kenapa berputar-putar terus dari tadi?

“Tiga setengah sama tiga tujuh lima.”

Bingung bagaimana mau melanjutkan obrolan yang enggak banget ini, aku hanya merespons dengan anggukan. Setelah beberapa saat mencari bahan percakapan lain, aku kembali bicara, “Ikannya bagus-bagus, ya, May?”

“Iya.” Maysa menjawab dengan nada sangat datar.

Aku mengikuti pergerakan ikan-ikan dengan lensa mataku. “Kalau misal kita bikin kolam ikan di depan rumah, kamu bakalan suka, nggak?”

“Hm?”

Aku menoleh Maysa yang sudah menatapku penuh tanya. “Ya, Abang buatin kolam ikan di sebelah rak anggrek. Kayaknya bakalan bikin kamu betah duduk di teras.”

“Maksudnya?”

Aku menghirup udara dalam-dalam. Lalu menata letak duduk, sedikit menyerong. Menghadap wanita anggun di atas kursi roda. “Abang ingin Maysa kembali. Pulang ke rumah Abang lagi.”

Ia menatapku sejenak lalu menunduk, memainkan jemari lentiknya yang dari tadi ingin kusambar untuk digenggam. “Kembali dan pulang? Sebagai apa?” tanyanya lirih.

“Sebagai seseorang yang akan melengkapi separuh agama Abang. Istri.”

Terdengar desahan panjangnya. Seperti mengurai sesuatu yang berdesakan dalam dada. “Kenapa ingin saya kembali?”

“Karena Maysa sudah membawa pergi separuh hati ini.”

Maysa mengangkat wajah, melirikku sekilas. “Bukan karena takut menjalani proses sidang cerai yang ribet?” Ada rintik air mata membersamai pertanyaannya.

Ya Allah …. Jadi alasan Maysa tidak menjawab pesan itu karena merasa …. Argh! Bodoh! Kenapa aku tidak peka dengan perasaannya?

“Tentu bukan itu alasannya, Maysa …,” jelasku dengan nada merasa sangat bersalah.

Kami berdua kembali diam. Maysa beberapa kali kedapatan menyeka pipinya. Andaikan masih halal, May …, biar Abang yang melakukannya.

“Abang yakin akan menjalani pernikahan yang HAMBAR itu lagi?” Ia sengaja memberi penekanan khusus pada kata hambar. Mungkin, sebagai bentuk luapan kekecewaan yang terpendam berbulan-bulan.

“Hambar.” Aku mendengkus lirih. “Lalu mendadak jadi pahit ketika kamu pergi.”

Maysa memelintir kepala dengan cepat. Bibirnya sedikit terbuka, lalu berkedut-kedut, seakan mau bicara. Tapi ia lekas memalingkan muka.

“Rey, Maysa adalah wanita yang bisa memilih. Jadi, jangan karena udah merasa jadi pahlawan, kamu yakin bakalan diterima lagi. Ingat, kamu udah melukai perasaannya. Dan sebagai sesama wanita, Mama tahu gimana rasanya. Sakiiit banget.”

Ucapan Mama tadi pagi kembali terngiang. Saat kuutarakan niatku untuk rujuk dengan Maysa.

Sebenarnya Mama agak berlebihan, sih. Aku sama sekali tidak merasa jadi pahlawan. Semua terjadi begitu cepat. Rasa takut kehilangan lah yang membuatku segera bertindak.

“Dan Mama yakin, di luar sana banyak laki-laki yang mau sama dia,” lanjut Mama yang kesannya seperti menelanjangi keberanian putranya. “Banyak-banyak berdoa,” pesannya.

“Bagaimana saya bisa tahu kalau permintaan Abang sungguh-sungguh?” Pertanyaan Maysa menarik pikiranku kembali ke taman ini.

Aku tersenyum sembari merogoh saku jaket, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru warna merah.

“Apakah ini sudah cukup untuk membuktikan kesungguhan Abang?” Aku membuka kotak berisi sebuah cincin emas bermata putih. Lalu meletakkan benda itu di atas bangku dan menggesernya agar lebih dekat dengan Maysa.

Maysa menoleh. Menatap cincin itu beberapa saat, lalu berganti memandang wajahku yang menunjukkan pendar mata kesungguhan. Butuh waktu agak lama untuk mendapat jawaban. Tidak mengapa, menunggunya menangis selama lima belas menit itu bukan pekerjaan yang memberatkan. Hanya saja, mendengar isakannya berkali-kali rupanya cukup menyiksa.

Kecamuk apa yang ada di batinmu, Maysa?

Mungkin, menerimaku kembali adalah pilihan berat. Karena apa yang kulakukan dulu, tidak hanya menyisakan luka yang terus membekas seumur hidupnya, tapi juga trauma. Sangat dalam. Butuh waktu panjang untuk menyembuhkan.

Atau mungkin, telah terukir nama lelaki lain di hatinya. Tapi dia tidak ingin membuatku terluka. Bagaimanapun aku tahu sifatnya, tidak ingin menyakiti siapapun. Meski orang tersebut telah membuatnya berkali-kali menelan kecewa.

Tangan Maysa terulur, menutup kotak itu lalu menggesernya ke arahku. Pemandangan yang membuat napasku terhenti selama beberapa waktu. Ya, aku tahu jawabannya meski ia tidak berkata-kata. Aku pun menunduk, merasakan hantaman demi hantaman dalam dada.

“Kalau memang Abang sungguh-sungguh …,” ucapnya yang membuatku segera mengangkat muka, “segera nikahi saya.”

Aku menatapnya lekat.

“Gunakan cincin itu sebagai maharnya.” Maysa menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang kelewat manis.

Terkejut, tubuhku hampir saja melompat.

Oh Allah, aku ingin bersujud untuk mensyukuri kemenangan cinta.

~ END ~

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 10

USAI BERCERAI – 10

OLEH : DEWI FATIMAH

[Assalamu’alaikum. Maysa, dua pekan ke depan, Abang ada dinas luar. Jadi maaf, belum bisa mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Atau, berkasnya Abang kasihkan ke Maysa aja? Biar enggak terlalu lama menunggu.]

Aku mengirim pesan pada Maysa yang entah sedang apa.

[Wa’alaikumussalam warahmatullah. Enggak usah, Bang. Insyaallah, saya masih bisa nunggu. Lagipula, kan Abang yang menceraikan saya.]

Reflek, tanganku menekan dada. Nyeri.

[Butuh segera?]

[Lebih cepat lebih baik. Iya, kan?]

Lebih cepat lebih baik, katanya ….

Aku meletakkan ponsel di atas sofa, menghela napas berkali-kali, lalu mondar-mandir tak jelas depan televisi. Acara talkshow paling favorit tidak mampu mengalihkan pikiranku dari masalah ini.

Duduk, kuraih ponsel, lalu mengetik.

[Proses sidang bakalan ribet banget, May.]

Send. Lalu mengetik lagi.

[Atau gimana kalau kita balikan aja?]

Send …, batal. Send …, batal.

Bismillah …. Aku menghirup udara dalam-dalam seraya memejamkan mata. Lalu … send!

Napasku terjeda sejenak. Senorak itukah berterus terang? Kembali menatap layar ponsel. Aduh! Mampus, sudah centang biru.

Gelisah, menunggu balasan. Namun hingga tengah malam, tidak ada jawaban.

Aku membaca ulang pesan-pesan yang terkirim. Apa … ada yang salah? Aku yakin tidak. Mungkin, Maysa memang tidak berkenan.

Aku berbaring di kamar, meringkul, memeluk guling. Irama detak jantung berantakan, hati ngilu tak karuan, dan seluruh isi dada seakan terpilin-pilin, menyakitkan.

*

“Lo percaya bahwa jodoh adalah cerminan diri kita sendiri? Dulu, kupikir itu bulshit. Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya benar juga.” Sony ngoceh melalui sambungan telepon.

Dari kamu jadi lo. Fine. Sejak merasa dibantu, Sony tiba-tiba akrab denganku. Atau kalau belum pantas dibilang akrab, setidaknya dia menganggapku teman. Setelah sebelumnya … entah dikatakan apa.

“Perceraian kami benar-benar jadi pelajaran berharga, Han. Gue jadi banyak merenung. Intropeksi. Yah, gitu lah. Termasuk ortu gue. Ratu enggak sepenuhnya salah. Gue ikut andil. Bahkan ngambil porsi paling besar.” Dia tertawa miris. “Gue jadi mikir, Ratu begitu karena gue begini. Ya, bener kata-kata itu. Jodoh adalah cerminan diri kita sendiri.”

Aku berdiri tegak di balkon penginapan. Mendengarkan setiap kalimat yang mengalir dari bibir Jerry Yan KW sembari menghadap hamparan lautan biru di Pulau Sebuku, Kalimantan. Tempat aku dan tim ditugaskan selama dua pekan. Audit sektor migas. Perusahaan asing milik salah satu negara di Timur Tengah.

Sebentar. Kalau jodoh adalah cerminan diri sendiri, berarti … Maysa bukan jodohku? Dia begitu dan aku begini. Maksudku, dia salihah dan aku? Dikatakan sekedar baik saja harus ada tinjauan berulang-ulang.

“Bener-bener enggak tega liat Bastian kayak gitu, Han. Mau sampai kapan kami kucing-kucingan soal hak asuh? Bikinnya berdua, masa mau dijadiin rebutan?” Ia terbahak pendek. Menertawakan sikap mereka yang mungkin tak jauh beda dengan anak-anak.

Tawaku pun tersembur. Laki-laki ini rupanya punya selera humor juga.

“Ternyata, anak jauh lebih berharga dari pada ego kita masing-masing,” lanjutnya yang langsung kuiyakan. “Makanya, lo buruan punya anak.”

Aku mendengkus. Gimana mau punya anak kalau …. Argh! Kamper jamuran si Sony ini! Mengingatkanku tentang Maysa lagi!

Beberapa percakapan kemudian, Sony menutup telepon. Setelahnya aku iseng, membuka chat room dengan Maysa. Pesan terakhir itu tak kunjung dibalas. Aku pun mendesah panjang. Merana.

Aku menggaruk kepala dengan kasar, lalu melenggang masuk kamar. Dalam kesendirian, kubunuh waktu sore dengan mengolah data yang diperoleh dari lapangan. Jika bosan, aku membuka kanal YouTube. Menonton kajian Islam dari seorang ustaz pimpinan sebuah pesantren di Jawa. Aku bertekad, akan terus memperbaiki diri. Dengan atau tanpa Maysa.

*

Jumat siang, aku tiba di rumah. Lelah usai perjalanan cukup panjang. Dari Pulau Sebuku ke Banjarmasin. Dari Banjarmasin ke Jakarta. Sudah seperti pejabat yang sibuk melakukan kunjungan kerja. Aku meringis sendiri, sementara tangan membuka koper lalu membongkar isinya. Baju-baju kotor yang tentu saja bau keringat. Menyengat.

Biasanya, usai dinas luar, aku tidak perlu sepayah ini. Maysa akan langsung mengambil baju bau kecut dari koper lalu menggilingnya di mesin cuci.

“Ew, Abang habis dinas luar apa ikut pertandingan bola, sih?” sindir Maysa sambil cengar-cengir.

Ya Allah …. Aku meremas dada. Sakit berlapis-lapis rasanya.

Teringat sikap manisnya, cengar-cengirnya, dan sindiran halusnya–yang baru kusadari ternyata lucu. Lebih sakit lagi, jika teringat pesan terakhir yang cuma dibaca tapi tak kunjung dijawab.

Seperti menyatakan cinta, tapi ditolak tanpa kata. Dan, seumur hidup belum pernah merasakan penolakan dari wanita. Seperih ini, ternyata.

Menyemburkan napas kasar sembari menggeleng, aku mengusir lintasan kenangan yang sebetulnya indah, tapi membuat hati diserang galau tak kunjung usai. Kupikir, aku tak boleh larut dalam masalah ini. Menyerah? Entahlah.

Aku beranjak, menggiling baju kotor dalam mesin cuci otomatis. Biarkan dia menjalankan tugasnya dengan baik dan aku menikmati tidur siang dengan baik pula. Tanpa mengingat apapun tentang Maysa. Meskipun sulit, lama-lama juga terbiasa.

*

Nanti malam ada jadwal belajar tahsin. Ingin izin dengan alasan capek, tapi lekas sadar diri. Sudah dua pekan tidak belajar, mau libur lagi? Huh! Pemalas kamu, Rey!

Oke, aku putuskan untuk berangkat. Lagi pula ada beberapa bungkus amplang dan sebotol madu hutan Kalimantan untuk para ustaz di sana. Ustazah juga boleh. Ustazah … Maysa?

Aku tersenyum getir. Teringat dirinya, si pembawa separuh jiwa.

Ck! Aku menggeleng, mengusir bayangannya yang tanpa izin memenuhi pikiran.

Jam lima sore lebih sekian menit, aku bersiap berangkat. Mematut diri depan cermin. Celana kain hitam dan kaos dalam warna senada, kulapisi baju koko warna krem yang masih tergantung di belakang pintu. Aku tersenyum, mirip santri yang hendak mengaji. Memang mau mengaji. Tapi sengaja datang lebih awal. Selain ingin menyerahkan oleh-oleh, juga ingin me-review materi kembali. Sekalian salat magrib berjamaah di sana. Diimami oleh hafiz quran yang suara merdunya mampu memelehkan jiwa. Ustaz Hadi? Ya, dia salah satunya.

Beberapa meter sebelum tiba di lokasi, aku dikejutkan dengan pemandangan beberapa orang yang berlari-lari, menyeberangi jalan. Dua orang seperti ngawur tidak melihat kanan-kiri. Mengakibatkan beberapa kendaraan mendadak berhenti.

Mobil maju sedikit lagi dan kudapati orang-orang berkerumun di depan bangunan satu lantai itu. Aku penasaran, apa yang terjadi? Kuparkir mobil di pinggir jalan, lalu mataku menangkap asap hitam membumbung tinggi.

Ya Allah! Rumah belajar quran kebakaran!

Lekas berlari membelah kerumunan, melewati beberapa orang yang berdiri menonton. Kudengar mereka saling berspekulasi.

“Kompor meledak, kali, ya?”

“Kayaknya ada yang korslet, deh,” komentar yang lain.

“Mana pemadam kebakarannya, yak?” tanya beberapa orang sambil celingukan tak jelas.

Kaki terus melangkah tergesa. Beberapa orang tampak hilir mudik mengambil air dengan ember lalu menyiramkan ke titik-titik api yang sudah membesar.

Beberapa wanita berkerudung lebar memekik histeris, melafaskan istigfar, dan berdoa dengan suara keras-keras. Panik.

“Pemadam kebakaran lama banget, sih!” desis seorang ustaz. Yang kutahu, dia mengajar di kelas lain. Berkali-kali dia menatap layar ponselnya dengan sebelah tangan bertengger di pinggang.

Tak jauh dari ustaz tersebut, berdiri seorang Ustaz Hadi yang sepertinya baru tiba. Menatap nanar ke dalam sana. Seakan menyesali sesuatu yang tertinggal dan tak bisa lagi diselamatkan.

“Ustazah Maysa …. Ya Allah, selamatkan Ustazah Maysa ….” rintih seorang wanita tak jauh dari tempatku saat ini. Ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan seorang wanita lainnya.

Aku terkesiap. “Maysa?” tanyaku dengan suara lantang.

“Iya, Ustazah Maysa masih di dalam,” jawab yang lain dengan tangisan.

Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke mobil, mengambil hoodie. Sudah jadi kebiasaan benda itu kugantung di jok belakang. Jaga-jaga kalau kedinginan saat menyetir, terutama ketika malam.

Setelah benda itu di tangan, aku kembali menembus kerumunan. Mencari keran air yang terpasang di luar bangunan. Argh! Sedang dipakai orang-orang untuk mengisi ember. Tanpa bertanya atau apa, aku mencelupkan hoodie ke dalam ember yang masih berisi separuh.

Bismillah, mengumpulkan segenap keberanian. Berbekal hoodie basah, aku menerobos ke dalam api yang kian besar. Beberapa orang memekik, berteriak, melarang, tapi seluruhnya kuabaikan.

Aku berhasil menerobos api di pintu masuk. Jangan bertanya apakah aku sudah pernah latihan? Belum! Skill ini benar-benar spontan.

“Maysa!” Aku berteriak berulang-ulang. Panik, api sudah menjalar ke mana-mana. Menjilat-jilat hingga ke lorong.

“Maysaaa! Maaay!” panggilku lagi disusul batuk akibat menghirup asap berlebihan.

Berbekal hoodie basah, aku memadamkan api yang menghalangi jalan agar bisa merangsek ke belakang, menuju kelas putri. Kudengar suara batuk-batuk seorang perempuan. Aku yakin itu Maysa! Kian bersemangat, aku berlari, kembali menembus api dengan tameng hoodie.

Suara batuk-batuk itu semakin dekat dan ternyata dari ruangan kelas paling pojok.

“Maysa!” pekikku begitu menjumpai sosok wanita berbaring di lantai dengan kaki kanan tertimpa lemari. Api sudah melahap meja, papan tulis, dan dinding kayu penyekat. Masya pasti kepanasan, terlihat keringatnya bercucuran.

“Ya Allah, May …,” lirihku saat menyadari kondisi wanita yang kucintai itu agak mengenaskan. Kacamatanya sudah lepas entah ke mana.

“Abang …,” lirihnya disusul batuk yang menjadi-jadi.

Aku segera mengangkat lemari kabinet yang menimpa kaki kanannya. Lumayan berat, ditambah napas yang tersendat-sendat, semakin membuatku kesulitan mengumpulkan energi.

“Tolong hamba, Ya Allah …. Bantu hamba, Ya Allah ….” Akhirnya, lemari berhasil kuangkat.

Astagfirullah! Kaki Maysa terluka. Gamisnya tersingkap, menyisakan celana panjang abu-abu yang sudah hitam karena darah. Aku melepas baju koko, lalu membebatkannya di daerah luka untuk menekan pendarahan agar tidak semakin parah.

Maysa merintih kesakitan ketika aku mengencangkan ikatan. Tidak tega, tapi harus kulakukan.

“Sabar ya, May …. Maafin Abang.”

Ketika bersiap mengangkat tubuhnya yang hampir kehilangan kesadaran, terdengar suara kayu patah. Aku mendongak, rupanya plavon di atas kepala runtuh. Tidak ada waktu menghindar. Lekas aku menunduk, mendekap Maysa, melindunginya.

“Aaargh!” Aku mengerang. Kayu menghantam keras. Rasa nyeri luar biasa di kepala bagian belakang. Sebisa mungkin segera menguasai diri. Aku pun menggeliatkan badan, menyingkirkan reruntuhan yang terasa berat di punggung. Lalu mengangkat tubuh Maysa dengan sisa tenaga yang ada.

“Bang Reyhan …,” lirih Maysa lagi.

“Iya, Maysa. Bertahan, ya ….” Aku berusaha menguatkannya yang sudah lemas tak berdaya.

Dengan api yang semakin besar, hoodie sudah tak bisa lagi digunakan sebagai ‘senjata andalan’. Maka, aku memberanikan diri menerobos api yang melalap kusen pintu ruangan. Agak ragu, tapi dengan berlari sekuat tenaga, aku yakin bisa.

Dan memang bisa. Tapi sialnya, kerudung Maysa yang menjuntai malah terjilat api. Terpaksa menghentikan langkah, lalu membaringkan tubuhnya di pangkuan dan mengibas-ngibaskan hoodie yang sudah bau asap di atas api itu. Padam, meskipun butuh waktu agak lama.

Tubuh Maysa kembali kuangkat. Ketika akan melangkah, jalan keluar sudah dikuasai api seluruhnya. Ya, dinding-dinding kayu penyekat ruangan sudah rubuh dan api menjilat-jilat di atasnya. Dada pun terasa sesak, ditambah nyeri di kepala yang semakin meraja.

Aku mengeratkan dekapan pada tubuh Maysa yang sudah tidak mengeluarkan suara. Kulirik sekilas, kedua matanya sudah memejam sempurna.

“May, bertahan, plis!” Aku sedikit mengguncang badannya. Berharap dia merespons. Tapi percuma, Maysa sudah kehilangan kesadaran atau lebih buruk lagi …. Semoga saja tidak.

Aku kalut. Panik. Cemas. Tidak mungkin nekat dengan berlari kencang seperti tadi.

Ya Allah, inikah akhir hidupku dengan Maysa? Terjebak dalam kebakaran dan akhirnya terpanggang bersama?

Aku berlutut, lemas. Kutatap wajah Maysa lekat-lekat. Jika memang ini adalah akhirnya, ingin kuungkapkan segala rasa.

“Maafin Abang, Maysa ….” Aku berbisik dengan nada putus asa, tepat di sebelah telinga kirinya. “Maafin Abang udah nyakitin Maysa berkali-kali. Abang salah. Abang bodoh. Abang menyesal.”

Tak terasa, air mata bergulir.

“Abang cinta sama Maysa …. Abang ingin kita bersama-sama lagi. Abang ingin Maysa kembali.”

Aku menengok wajahnya sekali lagi. Tergambar sebuah harapan di sana. Entah muncul sekadar untuk mengusir keputusasaan, atau memang suara hati yang meyakinkan.

Yang jelas, wajah itu seperti memerintahku untuk terus bicara.

“Hei, May, kamu tahu anggrek-anggrek di rumah? Mereka subur. Mereka sehat. Mereka cantik, eksotis.” Kalimatku terjeda oleh batuk, “Mereka menunggu Maysa kembali.”

Api semakin besar. Tubuh kian panas. Ya Allah, beginikah rasanya dipanggang? Jika api dunia sudah semenyakitkan ini, bagaimana dengan api Jahanam?

Teringat dosa-dosa, bibirku menggumamkan istigfar berulang kali. Hingga ….

Kurasakan semprotan air dengan kencang menghantam. Api di hadapan kami perlahan-lahan padam. Aku pun lekas bangkit, keluar. Entah berlari atau berjalan, yang jelas tubuhku seperti hampir melayang. Lalu terdengar pekikan histeris orang-orang. Menyebut namaku, memanggil-manggil Maysa.

Masih bisa kulihat bagaimana mereka menghambur. Tubuh Maysa yang kusangga dengan kedua tangan, diambil begitu saja. Lalu pandanganku semakin buram … gelap ….

Aku tumbang.

-x-

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 9

USAI BERCERAI – 9

OLEH : DEWI FATIMAH

“Han …, tolong ….” Suara Ratu tersendat-sendat di telepon.

Ya, ia baru kembali menghubungi setelah satu bulan menghilang. Aku pun tidak berniat mencari tahu keberadaannya. Karena aku yakin, dia akan kembali muncul ketika butuh. Lalu hari ini, terbukti. Ck! Aku jadi merasa hanya dimanfaatkan saja.

“Kenapa, Ra?” tanyaku memberi kesan biasa saja. Kedua mataku tetap fokus pada kumpulan data di layar laptop, sedangkan tangan kananku memainkan pointer.

“Bastian masuk rumah sakit.”

Pergerakan tanganku terhenti. Aku menghela napas perlahan. “Udah ngasih tahu Sony?”

Tidak ada jawaban, kecuali suara isakan diselingi susutan ingus.

Aku menunggu. Sejak frasa playing victim mencuat dari mulut mantan suaminya, rasa empatiku pada Ratu mulai pudar.

Hingga hampir dua menit, akhirnya kesabaranku habis. “Ra?”

“Han … aku butuh kamu.”

Aku menganjur napas. Ya, sudah kuduga. “Aku lagi banyak kerjaan, Ra. Maaf.”

Setelah hening beberapa saat, Ratu menimpali, “Oke. Maaf udah ganggu.” Dan telepon begitu saja ditutup.

Berurusan dengan wanita memang serumit ini. Aku mengurut kening sembari memandangi sederet angka berawalan +62. Aku pun mengirim pesan pada nomor itu.

[Jam istirahat aku usahakan ke sana. Di rumah sakit mana?]

Ratu mengirimkan titik lokasi sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Pusat lengkap dengan nomor ruangan di mana Bastian dirawat.

Sesuai janji, aku meluncur ke sana di jam istirahat. Begitu tiba, Ratu menghambur, memelukku. Namun aku mendorong tubuhnya perlahan-lahan. Aku tahu mendekap yang bukan mahram adalah perbuatan yang dilarang.

“Maaf …,” lirihnya menyadari aku tak berkenan.

“Sakit apa?” tanyaku seraya melangkah ke ranjang Bastian. Balita itu tergolek lemas. Ada selang infus yang dibebat perban di tangan kanan. Ia tidur lelap dengan mulut sedikit terbuka. Terlihat polos sekali. Sungguh kasihan jika jadi korban perceraian.

“Demam tinggi. Terus tadi pagi kejang. Makanya aku bawa ke sini.”

“Apa kata dokter?”

“Belum bisa nyimpulkan. Nunggu hasil lab.”

Aku mengusap kepala Bastian. Panas. Kekhawatiran Sony waktu itu …. Oh, bisa jadi, dia rindu papanya.

“Sony udah tahu?” tanyaku, menoleh wanita itu.

Sebagaimana di telepon, Ratu hanya diam ketika nama itu kusebut. Aku pun mendecak malas. “Ke mana aja sebulan ini?” Aku bertanya lagi.

“Enggak ke mana-mana. Cuma cari duit,” jawabnya. Terkesan sekenanya.

“Bastian?”

“Ada pengasuh yang jaga.”

“Kenapa nomornya enggak aktif? Sony nyariin kamu. Kangen sama anaknya.”

Ratu tetap diam. Ia lalu melangkah menuju sofa dan mengempaskan tubuh di sana.

“Kamu sengaja mangkir dari papanya Bastian?”

Ratu tersenyum miring. “Itu urusanku.”

Ok, fine! Jawaban itu benar-benar memancing emosi. Aku pun mengangguk-angguk. Ada rasa getir menyentil hati. “Oke. Kalau gitu, jangan pernah libatin aku lagi.”

Kesal, aku beranjak keluar.

“Han, tunggu!” Ia berdiri mencegah, menghadangku di depan pintu. “Oke. Aku akan jelasin semuanya.”

Sorot matanya menunjukkan ketakutan. Entah karena tidak ingin kutinggal atau karena ada masalah yang tersimpan.

Setelah kami duduk di sofa, Ratu mulai memberi penjelasan. “Aku berusaha merintis usaha jual baju. Pake uang iddah. Tapi gara-gara itu, aku udah enggak sanggup lagi nyewa apartemen. Kami pindah. Ngekos. Baru satu mingguan. Terus, Bastian sakit.”

Aku meraup muka. “Kenapa Bastian belum kamu pulangin? Sony khawatir.”

“Pulangin ke mana? Dia ada sama aku. Apa masih butuh pulang?” Ratu mulai emosi.

“Bukannya kalian sepakat berbagi hari?”

“Han, Bastian masih balita. Dalam Islam, hak asuh ada di aku sepenuhnya selama aku belum nikah.” Dia bicara dengan penuh penekanan.

Aku tersenyum geli. Terdengar lucu jika aturan agama dipilih seenaknya begitu. “Dan menurut Islam, seorang wanita yang baru ditalak, harusnya menjalani masa iddah di rumah suaminya.” Seperti Maysa, lanjutku dalam hati. Sayangnya, dia menjalani masa itu hanya sekejap mata.

Ratu terkejut. Kami pun saling tatap. Aku tahu ada sorot tak suka dalam matanya.

“Kamu bukan Reyhan yang aku kenal,” katanya setelah memalingkan muka. Kedua matanya berkaca-kaca.

Aku tersenyum lebar, nyaris tertawa. “Ya. Kamu benar.” Setelah menghela napas, aku mengajukan pertanyaan, “Jadi, apa yang kamu harapkan dari Reyhan yang sekarang?”

“Kamu balikan sama Maysa?” tanya wanita di sampingku setelah beberapa kali menyeka pipinya.

Aku tertawa lirih. “Bukan urusanmu,” tuturku sengaja membalas perkataannya.

“Papa … Papa ….” Bastian mengigau sambil merintih, membuat Ratu segera bangkit lalu menenangkan anaknya.

“Makasih udah dateng,” ucapnya padaku, beberapa saat setelah Bastian tenang. Tanpa sedikitpun menoleh.

Aku menyentak napas lalu bangkit. “Hubungi Sony. Bastian butuh papanya. Lagian, anak sekecil dia, pasti serba membatasi ibunya.”

Ratu menoleh seketika. Memandangku dengan mata berkilat marah. “Apa maksud kamu?”

Aku mengedikkan bahu. “Bukannya selama ini kamu merasa terkekang gara-gara Bastian?”

Ia melangkah lebar ke arahku. “Sony pasti udah bicara macam-macam tentang aku.” Ia mencari kebenaran di kedua mataku.

“Jangan suuzon dulu. Dia cuma bilang, sejak Bastian lahir, kamu berubah. Stres karena merasa keberadaan Bastian serba membatasi. Bahkan kamu sering marah-marah ke dia.”

Pundak Ratu naik-turun, menandakan ada gejolak hebat bersarang di dadanya. Lalu tak berselang lama, tangisnya meledak. Setengah berlari ke sofa, mengempaskan tubuh di sana.

“Emang enggak ada yang bisa ngertiin aku. Enggak Sony, enggak kamu, enggak mertua aku. Semuanya sama aja!” Ratu menoleh, melanjutkan, “Kalian enggak paham gimana kondisi psikis seorang wanita setelah melahirkan. Apalagi si Sony sama mertua aku itu. Mereka pikir, ngurusin bayi yang cuma bisa nangis itu gampang apa? Aku dikurung di rumah, diminta fokus ngurus Bastian. Disuruh ninggalin butik. Cuma sesekali aja keluar. Siapa yang enggak stres, Han?”

Aku mengembuskan napas kasar. Lalu duduk di kursi sebelah ranjang. Bukannya hendak membanding-bandingkan. Tapi Mbak Mita juga fokus sama bayinya setelah melahirkan. Bahkan sampai resign dari tempatnya bekerja demi anaknya. Mama yang notabene memilih tetap berkarir, selalu mengambil cuti di luar tanggungan negara agar bisa lebih lama bersama bayinya. Apakah kondisi setiap wanita memang jauh berbeda?

“Aku kuwalahan merawat Bastian sendirian. Sementara si Sony itu tahunya cuma kerja, pulang, main sama Bastian sebentar, terus tidur. Mertuaku tahunya cuma cucunya gemuk, sehat, pintar. Mereka enggak peduli sama perjuangan aku. Aku minta dicariin pengasuh. Tapi mereka bilang, anak itu lebih baik diasuh ibunya. Setelah aku sering marah-marah, mereka baru sadar. Baru nyariin pengasuh, baru ngizinin aku ke butik.”

Ratu mengusap air matanya dengan kasar. Seakan melampiaskan emosi yang masih mengakar. “Aku akui, aku salah. Salah udah marah-marah ke anak sekecil itu. Dan sekarang, aku pengen menebus semua kesalahan aku.”

“Dengan sembunyi dari papanya Bastian?”

“Aku cuma pengen, Bastian enggak terlalu lengket sama papanya.”

Aku menggeleng. “Kamu keliru, Ra. Enggak gini caranya.”

“Enggak peduli.”

Pintu diketuk seseorang. Ratu lekas menghapus seluruh jejak air mata yang tersisa di pipinya. Aku bisa menerka siapa yang datang. Maka, aku bangkit untuk menyambutnya.

Sony.

Kejutan yang luar biasa, memang. Ratu sampai tak bisa berkata-berkata.

Aku pun pamit. Mereka butuh bicara berdua. Dengan kondisi Bastian yang terkulai begitu, aku yakin ego masing-masing bisa dikurangi. Dan kupikir, masalah dalam rumah tangga mereka cuma satu. Komunikasi.

“Makasih banyak, Han,” ucap Sony di telepon tadi. Sewaktu kuberi tahu di mana posisi Bastian dan Ratu.

Aku tersenyum, lega. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa membantu Sony menemukan anaknya. Aku yakin, Sony tidak zalim seperti dugaanku dulu. Dia bilang, rekening yang dibekukan juga butik yang sengaja ditutup, itu semata-mata untuk membuat wanitanya kembali pulang. Juga insiden pemukulan itu, Sony mengaku tidak sengaja. Ia berusaha menahan Bastian yang hendak direbut ibunya. Padahal Bastian sudah berontak tidak mau dibawa.

Memang benar kata para ulama, dalam persoalan rumah tangga, jangan hanya mendengarkan dari satu pihak. Sekalipun mengadu sambil menangis tersedu-sedu. Karena air mata belum tentu menunjukkan kebenaran. Tangisan saudara-saudara Nabi Yusuf contohnya. Mereka pulang sambil menangis, mengadu pada Nabi Ya’kub bahwa Nabi Yusuf dimakan serigala. Padahal itu hanyalah rekayasa.

Aku berjalan menyusuri lorong demi lorong dan aku lupa ke mana jalan keluar. Rumah sakit sangat ramai. Aku kesasar di poliklinik. Beruntung, lekas kutemukan petunjuk arah keluar. Alih-alih fokus menemukan jalan, eh, mataku malah menangkap sosok yang sangat kurindukan.

Maysa. Duduk di deretan kursi tunggu. Sepertinya dia sendirian.

“May,” sapaku memberanikan diri.

Wanita berkacamata itu mendongak. Tampak kaget melihat siapa yang menyapa. “Abang?”

Aku tersenyum, kikuk meminta dia bergeser dari posisi duduknya. Ia pun memberiku tempat, berjarak satu kursi kosong.

“Lagi apa, May?” Ini rumah sakit ibu dan anak, untuk apa Maysa ke sini?

“Nganter temen. Anaknya terapi di sini,” jawabnya sembari mengarahkan dagu pada klinik tumbuh kembang di hadapan kami.

“Oh. Siapa?”

“Pegawai di toko. Namanya Mbak Eka.”

“Terapi kenapa?”

“Anaknya mengalami GDD.”

“Apa itu?”

“Global Delay Development. Tumbuh kembangnya terlambat.”

“Hmm ….”

“Abang ngapain?”

“Habis jenguk anaknya temen. Nyari jalan keluar, malah kesasar di sini.” Kesasar yang sangat disyukuri, batinku menambahi.

“Oh ….”

Nge-blank. Tanya apa lagi, tanya apa lagi? Ayolah Reyhan …, ini kesempatan!

Oh, ide … munculah! Oh, ya!

“Sejak kapan pake kacamata?” Aku menatap frame warna marun yang melintasi pelipisnya.

“Oh,” ia membetulkan letak kacamatanya, “udah hampir dua bulan. Abang benar, mataku silinder.” Ia tersenyum, menampilkan kedua lesung di pipi. Manis. Madu hutan saja kalah.

Duh, pisau tumpul jamuran! Astagfirullah! Sesulit ini jaga pandangan dari mantan.

“Udah parah banget, ya? Sampe … jatuh-jatuhin barang?” Aku menunduk, menahan senyuman.

Maysa tertawa lirih. Tawa yang kurekam baik-baik, lalu kusimpan rapi-rapi dalam memori.

“Iya. Kata dokter, kalau cahaya yang diterima mata cuma remang-remang atau buram, penglihatan jadi gelap. Makanya, sering meleset kalau mau naruh barang.”

Aku terkesiap. Menoleh wanita yang wajahnya masih menyisakan senyuman. Cahaya lampu dapur memang tak seterang ruangan yang lain. Harusnya aku peka.

Kami terdiam beberapa saat. Saking banyaknya yang mau kutanyakan dan kuungkap, otak sampai bingung mau mendahulukan yang mana. Rasanya seperti ada benang kusut di kepala. Benar-benar ruwet!

“Oh ya, Bang. Berkas cerainya udah diurus?”

“Kenapa, emangnya?” tanyaku lirih. Dalam hati, aku merintih. Maysa, tidak tahukah bahwa pertanyaan itu membuat hatiku ngilu?

“Hampir tiga bulan. Tapi belum ada kabar apa-apa dari Abang.”

“Kamu … mau nikah dalam waktu dekat?” Bayangan Ustaz Hadi melintas begitu saja. Membuatku ingin memeluk tiang penyangga gedung ini.

Maysa tertawa renyah. “Ya … siapa tahu. Mohon doanya aja.”

Isi dadaku terpelintir. Sakitnya merambat ke ujung tangan dan kaki. Aku hanya menunduk, muka pun sudah tertekuk.

“Udah selesai, Mbak?” Maysa bicara dengan seseorang. “Nangis, ya?”

Aku mendongak, menatap sosok wanita yang usianya kira-kira sebaya denganku. Kedua lengannya menyangga seorang anak perempuan kira-kira berusia tiga tahunan. Masih sesenggukan.

“Iya, nangis terus pas diterapi. Bingung, aku Mbak May.”

“Sini, gantian Tante yang gendong, ya?” Maysa berdiri, mengulurkan kedua tangan untuk meraih anak itu. Tapi ia menolak.

“Ibu udah capek, Ana. Sama Tante aja, yuk!”

“Enggak papa, Mbak. Kalau udah kayak gini, Ana susah digendong sama orang lain.”

“Ya udah deh. Oh, ya, Bang. Kami pulang dulu.” Maysa memandangku sambil mencangklong tas. Bersiap untuk berlalu.

“Naik apa?” tanyaku ikut berdiri.

“Taksi online.”

“Abang anter, ya?”

Maysa menoleh Mbak Eka. Meminta persetujuan lewat tatapan mata. Tapi wanita yang sedang menggendong anaknya itu terlihat tidak fokus. Maysa lekas memberi keputusan, “Oh, enggak usah, Bang. Khawatir ngrepotin. Lagian, ini kan, masih jam kantor.”

“Enggak papa, May. Bisa izin sebentar.”

Maysa tampak ragu. Lalu setelah memandangi Ana yang masih sesenggukan dan ibunya yang tampak lelah, ia mengangguk. Mungkin kasihan kalau harus menunggu taksi datang.

Aku menghela napas lega. Tuhan, terimakasih atas kesempatan yang tak terduga.

“Udah makan siang?” tanyaku pada Maysa yang duduk di sebelahku. Aku melajukan mobil perlahan. Siang ini jalanan padat. Kondisi yang mau tidak mau membuat Maysa berlama-lama bersamaku.

Maysa menoleh Mbak Eka yang duduk di jok belakang. Ah, dari raut muka kedua orang ini aku bisa menebak.

“Belum, kan?” tanyaku dengan senyum mengembang.

“Belum, Bang.”

Eh, malah pegawainya itu yang jawab.

“Mau makan di mana? Toko masih agak jauh. Apalagi jalannya macet gini. Kebetulan, Abang juga belum makan siang.”

“Terserah Abang.” Maysa menjawab setelah melirikku sebentar.

Sebuah restoran Arab menjadi tujuan. Ada nasi kebuli yang terkenal enak. Maysa suka makanan berempah. Sambil menunggu pesanan, kami berbincang akrab. Sayangnya, bukan soal perasaan yang dibahas. Tapi tentang terapi yang dijalani Ana.

Ya, ibunya yang bercerita. Kami menjadi pendengar setia. Sesekali aku menanggapi atau bertanya, sementara Maysa diam dengan tatapan menerawang entah ke mana.

Rupanya anak kecil itu terinfeksi rubella sewaktu masih di kandungan. Efeknya sangat berat. Mulai dari jantung bocor, tuna rungu, dan hingga detik ini belum bisa berjalan. Ah, jangankan berjalan, bahkan merangkak pun belum bisa.

Seketika teringat janin itu, calon bayi kami. Lalu hati terasa luluh lantak, saat kulirik Maysa menunduk dalam sembari mengaduk-aduk minuman.

Maafkan Abang, Maysa ….

Andai boleh, ingin kugenggam tangannya. Meraihnya dalam dekapan paling nyaman, atau membisikkan satu dua kalimat sebagai penenang. Tapi aku tahu, ia wanita yang sangat menjaga kehormatan.

May …, balikan aja, yuk!

Aku tersenyum getir, menyadari ajakan itu sebatas dalam batin. Nyaliku kembali ciut. Isi hati Maysa tidak bisa ditebak. Tapi dari pertanyaan soal berkas perceraian sampai cincin yang sudah lenyap dari jari manis kirinya, aku yakin Maysa sudah tidak menganggapku sebagai seseorang yang berarti dalam hidupnya.

Sakitnya itu … dari dada sini lalu menjalar ke mana-mana. Aku pun menikmati makan siang dengan lidah yang seakan mati rasa.

Usai bersantap, kami kembali melanjutkan perjalanan. Begitu tiba di depan toko kue, Maysa mempersilakan pegawainya turun duluan. Sebelumnya, aku memang memberi tahu bahwa ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.

“Mau bicara apa, Bang?” tanyanya dengan pandangan lurus ke depan.

“Abang mau ngasih ini.” Aku mengulurkan sebuah amplop putih. Berisi lima puluh lembar uang bergambar Presiden RI pertama.

Dia menatapku heran, lalu beralih memandang amplop yang mengambang. “Itu apa?”

“Nafkah selama Maysa menjalani masa iddah. Maaf, Abang baru ngasih sekarang. Baru tahu.”

Maysa melengos. Tanpa menunggu jeda, air matanya lolos.

“May …,” lirihku memohon.

“Makasih. Abang kasihkan aja sama yang membutuhkan. Saya permisi. Assalamu’alaikum.” Tangannya cekatan membuka pintu. Kemudian ia berlari, meninggalkanku.

*

Aku mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengajukan gugatan cerai. Lembar demi lembarnya sungguh membuatku terluka. Terutama buku nikah. Ada foto Maysa di sana. Begitu polos dengan kerudung putihnya. Sesungging senyum tipisnya ….

Aku memekik sendirian di kamar. Lalu kulempar berkas-berkas itu ke sembarang arah.

Benar-benar tidak sanggup, Ya Allah ….

Jika baru mengumpulkan berkas saja sudah sesesak ini, lantas bagaimana di hadapan hakim nanti? Perceraian lewat pengadilan hanyalah urusan administrasi. Tapi proses yang akan kami lalui pasti akan panjang dan menyakitkan. Karena sesungguhnya perceraian itu sudah terjadi. Apa gunanya mediasi? Apa gunanya pembacaan ikrar talak? Huh?

Pembagian harta gono-gini? Tidak ada yang dibawa Maysa. Wanita itu kelewat bersahaja.

Besaran nafkah iddah? Masa iddah bahkan sudah habis. Maysa pun tidak sudi menerima.

Malam ini, aku benar-benar frustasi. Andai tidak ada iman dalam hati, entah sudah ke mana aku melarikan diri.

-x-

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 8

USAI BERCERAI – 8

OLEH : DEWI FATIMAH

Mantan suami Ratu meminta waktu. Sebentar katanya. Aku mengiyakan dan mengajaknya duduk di lobby utama. Tempatnya luas dan yang penting tidak banyak pegawai yang singgah di sini. Jadi aman dari mereka yang biasanya suka curi-curi dengar.
Tunggu. Bagaimana Sony bisa menemukanku? Kesasar atau sengaja?
“Perusahaanku jadi mitra kantor ini. Tadi mengantarkan beberapa berkas untuk diperiksa dan ditindaklanjuti. Dan … enggak nyangka malah ketemu kamu.” Ia menjelaskan kehadirannya yang cukup ajaib, tanpa diminta.
“Oh,” sahutku datar.
“Sudah berapa lama jadi abdi negara?”
“Baru tiga tahunan.” Dalam hati, aku ingin bicara dengan nada ketus. Ngapain nanya-nanya? Tapi sepertinya tidak elok. Yah bagaimanapun, perusahaannya adalah mitra.
Sony manggut-manggut. Ia lalu mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Mungkin membandingkan suasana kantor ini dengan kantornya. Entahlah. Tidak penting juga.
“Jadi … Han, kamu tahu di mana Ratu sekarang?” tanya Sony tanpa lagi basa-basi.
Kedua alisku mengkerut. “Kenapa emangnya?”
Sony menghela napas. “Sudah hampir tiga minggu Bastian belum dipulangkan. Nomor Ratu enggak bisa dihubungi.”
Dari caranya bicara dan menatap petak lantai marmer, sepertinya dia menyimpan masalah besar.
“Bastian sama ibunya. Kupikir, enggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Sony mengangguk-angguk. “Kamu benar. Tapi masalahnya … yang jadi ibunya adalah Ratu.”
Alisku berjingkat sebelah. “Maksud kamu?”
Sony menyugar rambut lurusnya yang agak panjang. Penampilan lelaki ini mengingatkanku pada Jerry Yan. Aktor Taiwan yang tenar di awal tahun 2000-an. Bedanya, ini versi kulit sawo matang dengan tubuh agak lebar.
“Sudah berapa tahun kenal sama Ratu?”
Aku berdecak. “Langsung ke intinya sajalah.” Untuk apa menanyakan hal yang tidak substansial?
Sony tertawa pendek dan lirih. Terdengar getir. “Han, Ratu yang kamu kenal sekarang, bukan Ratu yang dulu.” Ia tersenyum sekilas setelah menatap wajah heranku. “Sebelum Bastian lahir, dia jadi istri yang penurut, menyenangkan. Walaupun aku tahu dia menerimaku dengan hati terpaksa, tapi dia bisa bersikap manis. Tapi semuanya berubah begitu anak kami lahir. Dia sering marah-marah enggak jelas. Bahkan bayi yang enggak tahu apa-apa juga dimarahin. Setelah konsultasi ke sana-sini, ternyata dia stres karena merasa enggak bebas ke mana-mana lagi. Merasa kehadiran Bastian serba membatasi.”
“Sori,” aku menyela, “memangnya aktivitas Ratu sebelum melahirkan … apa?”
“Ke butik. Aku buatin dia butik. Mungkin karena itu, dia jadi penggila fashion. Sering hunting baju-baju keluaran baru untuk ngisi butik. Meskipun hamil besar, dia masih aktif di luar, berburu baju.”
Aku berusaha mencerna penjelasan Sony, lalu membuat kesimpulan sendiri. Kalau memang kelahiran Bastian dianggap membatasi, kenapa waktu itu dia ngotot ingin bawa Bastian. Sampai wajahnya memar karena Sony? Tidak masuk akal.
“Bentar, Son. Aku enggak paham sama cerita kamu. Setahuku Ratu benar-benar menginginkan Bastian ikut sama dia. Buktinya malam itu …, maksudku sebelum kalian benar-benar cerai, katanya Ratu sempet pulang untuk ngambil Bastian. Terus rebutan sama kamu sampai … kamu mukul … dia, kan?”
Sony lagi-lagi tersenyum getir. Tangannya mengurut kening seperti orang pusing. “Playing victim.”
Aku terdiam. Semakin tidak paham dan semua jadi semakin janggal. Siapa yang harus kupercaya sekarang? Laki-laki ini atau Ratu?
“Intinya gini lah, Han. Kalau kamu tahu di mana Ratu tinggal atau punya nomor Ratu yang aktif, tolong kasih tahu aku. Aku udah nahan-nahan untuk enggak lapor polisi.”
“What? Lapor polisi? Gila bener!”
“Kamu enggak tahu apa-apa soal kami. Kamu juga enggak ngerti seberapa khawatirnya aku sama keadaan Bastian!” Mata Sony berkilat marah. Suaranya sampai terdengar agak menggema di lobby. Mengundang tatapan curiga beberapa orang.
“Oke. Aku akan bantu.” Aku lekas bicara untuk meredam emosinya. “Terakhir, dia tinggal di apartemen di Jakarta Utara. Enggak jauh dari kawasan Ancol. Tapi enggak tahu di unit yang mana. Pernah nganter dia tapi cuma sampai bawah. Untuk nomor yang aktif … sori, ponselku di lantai sembilan. Itupun kalau nomor itu masih aktif.”
“Emangnya, terakhir kontak sama Ratu kapan?”
Aku mengingat-ingat. “Dua minggu lalu, kayaknya. Bentar, kamu tahu dari mana Ratu nemuin aku?”
Sony terbahak pendek. “Enggak terlalu sulit untuk menebak isi otak perempuan itu. Aku tahu, sebelum kami menikah, Ratu sangat mengandalkan kamu. Seolah-olah enggak ada orang lain selain pacarnya.” Ia berdecak sinis.
Kamper basi! Sengaja menyindir rupanya.
“Cemburu?” Aku menyindir balik.
“Disimpulkan begitu juga boleh. Oh ya, ngomong-ngomong … istri kamu enggak tahu kalau suaminya diam-diam menjalin hubungan sama mantan?”
Oh, Shiitake gunduuul! Orang ini mau ngajak ribut, kayaknya.
Melihat wajahku yang tegang, Sony tertawa lirih. Tawa yang efeknya seperti tikaman.
“Tenang, Pak Reyhan, aku enggak bakal lapor sama istrimu. Yah, itung-itung sebagai timbal balik udah mau bantu.” Ia bangkit, lalu menepuk pelan pundakku. “Thanks, ya, Pak. Saya permisi.” Ia mengulurkan tangan dengan gaya sok resmi.
Aku menyambut jengah telapak tangan mengambang itu.
“Oh ya, ini kartu namaku. Tolong hubungi nomor itu kalau ada kabar soal Ratu.”
Kertas kecil berwarna biru itu kuterima dengan malas. Begitu Sony pergi, aku bangkit sembari menghentakkan kaki. Kesal!
*
Sabtu pagi.
Aku ingin pulang ke rumah orang tua–di pinggiran Kota Jakarta. Sejak konflik pasca perceraian itu, kami belum lagi bertemu. Sesekali aku atau Mama berkirim pesan dan telepon. Sekadar menanyakan kabar. Tidak ada lagi singgungan soal Maysa. Seolah menyebut nama itu akan membangkitkan kenangan indah. Tapi menyedihkan.
Mobil melaju santai, menerobos kepadatan lalu lintas Jakarta. Baru kira-kira seperempat perjalanan, mataku menangkap jajaran bunga anggrek yang dijual di atas trotoar. Kontan terlintas sebuah ide agak gila.
Mobil menepi. Lima belas menit melihat, bertanya, dan akhirnya menjatuhkan pilihan. Jenis anggrek hibrida. Warna pink muda dengan semburat titik-titik di kelopaknya. Ada tiga tanaman dalam satu pot. Indah. Senyumku mengembang seiring hati yang membuncah.
Mungkin, si penyuka anggrek sedang menjalin hubungan istimewa dengan orang lain. Ustaz Hadi. Tapi bunga eksotis ini berhasil membangkitkan rindu yang sudah kubunuh beberapa waktu lalu.
Aku ingin menemui Maysa. Aku ingin tahu kabarnya. Aku ingin bicara padanya.
Kembali ke mobil, aku memutar arah. Sembari menuju ke Orchid Cake n’ Bakery, aku melihat-lihat sisi kiri jalan. Mencari penjual kacamata, topi, dan jaket. Butuh perlengkapan untuk menyamar.
Oh ya, pernah mendengar kisah Mughist dan Bariroh? Aku tahu kisah ini dari kajian seorang ustaz melalui YouTube.
Mereka berdua awalnya sama-sama budak. Statusnya suami-istri. Bariroh merdeka sementara Mughist belum. Dalam Islam, kondisi seperti Bariroh diberi dua pilihan. Tetap bertahan dengan suami yang statusnya masih budak, atau pisah. Dan Bariroh memilih berpisah.
Saking cintanya, Mughist menjadi bucin. Sering mengikuti Bariroh, bahkan tak jarang dengan air mata bercucuran. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sampai heran sekaligus kasihan, dan menyarankan Bariroh untuk kembali pada Mughist. Hanya saja, Bariroh menolak.
Dalam-dalam, aku menghela napas.
Mungkin aku seperti Mughist dan Maysa adalah Bariroh. Mughist yang jadi bucin mantan istrinya. Bersyukur, level yang kualami tidak separah itu.
Hampir satu jam, semua perlengkapan siap. Aku mematut diri di kaca spion dalam. Berbalut jaket tebal yang mirip buntalan, kaca mata hitam, dan topi ini, aku yakin Maysa tidak akan mengenaliku. Aku pun melajukan mobil, menuju komplek ruko di mana toko kue Maysa berada.
Mobil sengaja kuparkir agak jauh agar tidak mengundang curiga. Sebelum keluar, aku mengetes suara. Dengan sedikit ngebas, aku percaya diri penyamaran ini sangat sempurna. Aku tersenyum untuk diriku sendiri sembari meredam debar-debar di dada. Kulirik anggrek yang akan kuberikan pada Maysa. Sudah ada selembar kertas bertuliskan tiga baris kalimat di sana.
“Mbak Maysa ada?” tanyaku kepada salah satu karyawan toko yang masih sibuk menata kue.
Wanita berkerudung itu menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu pandangannya fokus pada apa yang kubawa.
“Ada perlu apa ya, Pak?” tanyanya setelah puas menyelidiki.
“Saya mau mengantar ini,” jawabku merujuk anggrek.
Wanita itu lantas berbalik badan, berjalan ke belakang. Kakiku berjengit-jengit lantaran grogi. Setelah dua atau tiga menit menunggu yang terasa seperti selamanya, akhirnya sosok itu keluar juga.
Maysa ….
Dan, dunia seakan terjeda. Menyisakan seorang wanita muda dengan apron membalut seluruh dada. Berjalan pelan akibat efek slow motion yang tercipta dari imajinasiku sendiri. Wajahnya tak lagi sama. Ada kacamata bertengger di atas hidung bangirnya. Menambah kesan cantik dan berwibawa. Benar kata orang, dia … memang mirip orang Korea.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Aku mendengar apa yang dia ucapkan, hanya saja otakku sedang tak bisa mencerna informasi dengan benar. Mungkin, aku terlihat seperti orang tolol sekarang.
Maysa memandangku heran sekaligus menunggu. Tahu apa yang kulakukan? Menikmati setiap gerakan matanya, kerutan alisnya, dan gerakan kepalanya.
“Pak?”
“May ….”
“Iya, saya?”
Roti sobek jamuran! Kenapa lidahku malah menyebut namanya? BO-DOH.
Aku berdehem. Menetralkan nerveous yang berlebihan sekaligus menyamarkan suara asli. Menggantinya dengan suara ngebas yang tadi teruji.
“Oh … em … maksud saya … em … Mbak … Mbak … May … Maysa?” Lidah juga kenapa jadi keselip-selip begini? Argh!
“Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?”
“Anggrek.” Aku menjawab dengan kondisi dada naik-turun.
“Kenapa anggreknya, Pak?” Maysa menatapku dengan sorot yang menunjukkan kesabaran. Sorot mata yang hampir membuatku beku.
“Maksud saya … ini … ada anggrek untuk Mbak Maysa. Titipan dari seseorang.” Dengan tangan yang sedikit gemetar, kuulurkan bunga padanya.
Maysa menatap ragu selama beberapa detik. Tangannya lalu terulur perlahan-lahan, menerima dengan hati-hati. Dan saat itulah mataku menangkap sesuatu.
Cincin yang kuberikan sebagai mahar pernikahan, masih melilit di jari manis kirinya. Menimbulkan degub berisik dalam dada. Apakah … benda itu masih sangat berarti bagi Maysa?
“Anggrek lagi,” gumamnya. “Dari siapa, ya, Pak?”
Lagi-lagi, sambungan telinga ke otak mengalami korslet. Mendengar tapi tak tercerna dengan benar.
“Kalau boleh tahu dari siapa, ya, Pak?” Maysa mengulangi dengan volum suara lebih besar.
Aku tergagap. “Em … dari seseorang yang … tidak mau disebut namanya.”
Alisnya mengkerut. Seperti berpikir dengan keras sekali. “Jangan-jangan orang yang sama.” Ia pun membetulkan letak kacamata, membuatku ingin menanyakan banyak hal tentang benda itu.
Sejak kapan dipakai?
Minus atau silinder?
Beli di mana?
Harganya berapa?
Frame-nya bagus. Aku suka.
Kamu makin … cantik, May ….
Maysa memandangiku lagi. “Mm … Bapak tahu ciri-ciri orang yang ngirim anggrek ini, kan?”
“Oh … em … iya, Mbak. Tapi … sesuai perintah, harus dirahasiakan.”
Maysa mendesah kecewa, lalu membuka lipatan kertas. Matanya terpaku agak lama. Mungkin membaca tulisannya berulang-ulang.
“Masa Bang Reyhan? Tapi mana mungkin?” gumamnya lagi.
Mampus!
Aku buru-buru pamit. Tanpa menunggu Maysa menyahut, aku berbalik badan dan keluar.
“Iya, ini Abang, Maysa!” Aku bicara setengah memekik di mobil. “Kenapa cincin itu masih dipakai?” Aku melepas kacamata, topi, dan jaket dengan kasar. Ketiga benda itu kulempar ke jok belakang. “Apa masih berarti buat kamu? Apa kita memang memiliki rasa yang sama? Terus, Ustaz Hadi?”
Aku membanting punggung di kursi kemudi. Mengatur irama napas dan meredam emosi.
Emosi yang tidak jelas sebabnya. Karena terlalu banyak rasa yang teraduk-aduk dalam dada.
*
“Kamu kok kurusan, sih, Rey?” tanya Mbak Mita saat menyajikan hidangan makan siang.
“Wajar, enggak ada yang urus,” sahut Mama yang terdengar seperti menyindir.
“Udah. Segera nikah lagi aja.” Mbak Mita menimpali.
“Nikah itu enggak gampang. Niat, harus benar-benar ditata. Jangan sampai kejadian–”
Aku berdehem memotong pembicaraan Papa, lalu berkata tanpa sedikit pun mengangkat muka. “Mau makan apa mau nyerang Reyhan, sih?”
“Loh, siapa yang nyerang?” Papa tertawa pendek. “Orang Papa cuma mau ngasih nasihat, kok.”
Nasihat di saat yang tidak tepat.
Aku menenggak segelas air putih hingga tandas. Setelahnya makan dalam diam. Aku rindu masakan Mama dan Mbak Mita. Hanya saja siang ini kehilangan selera. Wajah Maysa seakan di mana-mana. Hadir di ruang tamu, di ruang keluarga, di meja makan, di piring kosong, juga … di kamar.
Ya, di kamar ini. Kami pernah tidur berdua. Saat awal menikah dulu. Maysa mengomentari hampir seluruh isi ruangan. Berisik sekali. Aku lelah memberi tanggapan. Andaikan waktu bisa diputar ulang … mungkin aku akan memilih untuk menikmati setiap ocehannya. Menanggapi setiap pertanyaannya.
“Rey ….” Kehadiran Mama menarikku kembali dari kenangan. Wanita pertamaku itu duduk di sisiku di atas ranjang.
“Ma.”
“Hm?”
“Maysa …,” aku menatap wajah teduh itu sekilas sebelum melempar pandangan ke dinding. Membayangkan jemari Maysa yang masih dihiasi cincin itu.
“Maysa kenapa?”
“Dia masih pake cincin dari Reyhan.”
“Terus?”
“Menurut Mama, kenapa kira-kira?”
Mama diam sesaat, berpikir. “Ya terserah dia. Kan, itu mahar. Mau dipakai, mau dilepas, mau dijual, itu haknya dia.”
Aku menoleh Mama, menunjukkan muka belum puas dengan jawabannya.
“Atau … bisa jadi …. Ah, entar kamunya kegeeran lagi.”
Aku menggeram sebal, sementara Mama malah tertawa.
-x-

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 7

USAI BERCERAI – 7

Oleh: Dewi Fatimah

“Ya Allah, bolehkah hamba geer?”

Aku mengangkat kedua tangan di sepertiga malam terakhir. Rutinitas beberapa pekan belakangan. Selain memohon ampunan, juga meminta petunjuk. Bagaimana meraih kembali Maysa Al-Mahira. Lalu aku merasa … Allah telah membuka jalan itu perlahan-lahan.

Jadi, bolehkah aku yang selama ini jauh dari kata takwa, jauh dari-Nya, tiba-tiba kegeeran, merasa apa yang telah dipinta mendapat jawaban?

Sejak bertandang ke rumahnya hari itu, aku merasa jalanku buntu. Meski kadang terbesit untuk mengunjungi toko kue miliknya, tapi aku takut tidak berani menyapa. Ada pegawai-pegawainya yang mengenalku. Aku yakin, mereka sudah mencapku sangat buruk karena telah menceraikan wanita sebaik bosnya.

Hampir setiap waktu aku berharap, Allah mempertemukan kami kembali. Entah di jalan, di warung makan, di tempat tambal ban, di tempat wisata, di mana saja. Lalu tiba-tiba di tempat itu, yang sama sekali tak terduga. Meskipun memang belum berjumpa, tapi peluang itu seakan nyata.

“Semoga ini awal yang baik,” bisikku dengan tekad yang kuat.

Paginya, aku menjalani hari yang tak biasa. Seluruh sel dalam tubuh seakan riuh, bersemangat. Urat nadi berlompat-lompat. Aku merasakan lonjakan energi yang berlebihan, butuh diluapkan.

Sembari bersenandung kecil, aku membereskan rumah yang … penampakanannya hampir mirip gudang. Wajar. Dua bulan tidak mendapatkan sentuhan wanita dan bagi laki-laki sepertiku, yang penting bisa lewat dan tidur nyenyak. Itu sudah cukup. Lalu pagi ini, aku benar-benar beberes seolah ada seseorang yang istimewa yang akan singgah dan menilai.

Setelah rumah terlihat layak, aku menyiram anggrek. Menata ulang pot-potnya, dan memotong daun-daun yang sudah tak enak dilihat. Kupastikan Maysa akan senang melihat bunga kesayangannya tumbuh indah dan sehat.

Maysa akan ke sini? Em … mungkin bukan hari ini atau besok atau lusa atau pekan depan. Tapi suatu saat nanti.

Ya, suatu saat nanti jika Allah menghendaki.

*

Selama di kantor, pikiranku sibuk mengatur strategi. Bagaimana agar bisa bertemu Maysa esok hari. Setengah mati otakku berusaha konsentrasi pada laporan audit yang sudah ditagih berkali-kali. Namun … argh! Gagal lagi dan gagal lagi!

“Maysa …,” aku mendesis geregetan, “bisa-bisanya kamu ….” Tanganku mengepal, mengambang. Lekas bibirku beristigfar berulang-ulang. Meredam gejolak yang kian menggila dan garang.

“Hei, Reyhan! Kenapa?” Bu Maya, kepala sub bidang, menegur. Mungkin aku terlihat seperti orang frustasi?

“Enggak papa, Bu.” Aku menyandarkan punggung di kursi, berlagak santai sambil meniup-niup ujung rambut yang menjuntai di kening. Baru sadar sudah sepanjang ini.

“Pusing sama temuan, kali, Bu,” seloroh yang lain.

Bu Maya terbahak menanggapi. “Biasa kalau temuan banyak, mah. Migas, gitu loh! Nikmati aja, Rey.”

Aku menyemburkan napas. Lega. Kecurigaan di wajah wanita menjelang paruh baya itu telah sirna.

“Oke, Bu. Dinikmati sambil minum kopi kayaknya enak, ya?” Aku beranjak, menuju ‘pojok makanan’ ruangan. Membuat kopi hitam sambil menanggapi celoteh orang-orang, yang kutahu tujuannya cuma meredam stres akibat laporan yang penuh dengan temuan.

Beginilah audit obyek strategis negara. Anggaran yang digunakan besar. Sudah pasti banyak dana yang penggunaannya melenceng dari aturan.

Begitu kembali ke kursi, aku memusatkan konsentrasi pada layar laptop 11 inchi. Memandangi tulisan-tulisan yang begitu memusingkan. Aku pun menyeruput kopi yang hanya kububuhi sedikit gula. Biasanya sih, rasa pahit berpadu panas membantu otak kembali segar.

Lalu terlintas ide agar bisa bertemu Maysa.

Eh, kok malah Maysa lagi?

Memang dari tadi mencari-cari, kan? Gimana sih, Reyhan ini! Pelan, aku menepuk jidat sendiri.

Dan keesokan harinya … di sinilah aku. Berhadapan dengan Ustaz Hadi di jam 16.00 WIB. Sengaja minta jadwal dimajukan dengan alasan ada lembur ‘berjamaah’ di kantor dan itu memang fakta, aku tidak mengada-ada.

Sore ini aku satu kelas dengan mereka-mereka yang sudah di level tahfiz. Fokusnya menghafal. Kelima orang di sampingku ini sudah hampir menyelesaikan 2 juz Alquran. Dalam hati, aku bertanya, kamu kapan, Reyhan?

Mendengarkan mereka setoran, aku menunduk dalam. Seperti merasakan gerimis di tengah kemarau panjang. Lafal demi lafal mengalun syahdu, mengirim kesejukan. Hingga tak terasa, kedua mataku basah. Padahal aku tidak tahu makna dari ayat yang mereka baca. Tapi … itulah indahnya Alquran, menyentuh kalbu siapa saja yang mau mendengarkan. Menundukkan setiap jiwa yang memang mencari kebenaran.

“Pak Reyhan,” tegur Ustaz hadi. Halus seperti biasa tapi sanggup membuatku gelagapan.

“Iya, Ustaz,” sahutku setelah diam-diam menyeka air mata.

Ustaz muda itu tersenyum ramah kepada semua santri di hadapannya. “Bapak-bapak ….”

Oke. Pause dulu bagian ini.

Bapak-bapak? Iya, kelima orang santri yang duduk berjajar ini usianya kira-kira sudah masuk lima puluhan. Namun semangatnya untuk belajar Alquran jangan diragukan. Dari cara mereka membaca saja sudah terdengar kesungguhan yang datang dari hati terdalam.

“… perkenalkan, ini Pak Reyhan. Baru satu bulanan belajar di sini,” lanjut Ustaz Hadi.

Kami pun saling menjabat tangan.

Setelah berbasa-basi sebentar, mereka pamit pulang. Tinggalah aku sendirian, berhadapan dengan ustaz berkarisma ini.

“Kemarin materinya sampai mana, Pak?” tanyanya dengan wajah tenang.

“Mm …,” aku membuka buku tajwid, “sampai idgham mimi.”

Ustaz Hadi tersenyum, lalu menulis di papan. Mengajakku me-refresh materi sebelumnya. Idghom mimi. Yang dibaca mendengung jika ada mim sukun bertemu dengan mim.

“Contohnya apa, Pak?” tanya beliau.

“In kuntum mu’minūn …,” jawabku.

Ustaz Hadi mengangguk-angguk, lalu melanjutkan materi berikutnya.

Saat pembelajaran akan berakhir ….

“Mau langsung pulang, Ustazah?” tanya tenaga administrasi di depan. Entah kepada siapa.

“Iya.”

Detak jantungku terhenti, lalu kembali berdegub dengan keras hingga dadaku terasa nyeri. Itu … suara Maysa.

“Enggak nunggu yang di dalem, Ustazah?” tanya tenaga administrasi yang membuatku mengulum senyum karena geer.

“Yang di dalem? Siapa?”

“Ustaz …,” penjaga administrasi berdehem, “yang masih ngajar.”

Tubuhku membeku sesaat. Kulirik sosok di hadapanku. Tertangkap tarikan tipis di bibir kemerahan itu.

“Kenapa harus ditunggu?” tanya Maysa lagi.

“Ah, Ustazah Maysa.”

“Loh, saya nanya serius ini.” Maysa tertawa kecil. Tawa yang kurindukan, yang tak terdengar selama dua bulan.

Ustaz Hadi menghela napas panjang. Mungkin meredam debaran dalam dadanya. Ia pun menatapku dengan senyum mengembang, lalu menutup pertemuan.

“Saya keluar dulu, ya, Pak?” pamitnya ketika aku membereskan buku pelajaran.

“Iya, Ustaz,” sahutku dengan hati tersayat.

Tidak biasanya ia keluar duluan. Apakah memang ada hubungan spesial di antara mereka? Secepat inikah, Maysa?

“Yah, ustazahnya baru saja pulang, Ustaz,” seloroh penjaga administrasi.

“Ustazah siapa?” tanya Ustaz Hadi pura-pura tak mengerti.

“Ah, Ustaz ini sama saja. Kita semua sudah tahu, Ustaz.”

“Tahu apa?”

“Ck. Ya sudahlah. Yang penting ditunggu kabar baiknya, Ustaz.”

Ustaz Hadi tertawa renyah. “Antum ini.”

Aku hanya bisa menelan ludah. Menyadari sayatan di hati yang kian bertambah.

*

Pada pemilik sepertiga malam terakhir, Yang Maha Tahu. Aku kembali bersimpuh. Mengadu, bertanya, dan merenung.

Seperti habis terbang tinggi, membumbung, lalu tiba-tiba jatuh, terhempas begitu saja. Tulang-tulang terasa remuk. Persendian seperti tak lagi pada tempatnya.

“Hamba malu sudah terlalu geer,” aku mengadu.

“Apakah ini suatu teguran atau semacam hukuman, Ya Allah?” aku bertanya.

Ya, hukuman. Karena telah menyakiti wanita yang bahkan tidak pantas untuk disakiti. Seorang istri yang begitu berbakti.

Aku merenung. Ingatan awal bertemu dengan Ratu terputar kembali. Saat di mana, kupikir aku masih begitu mencintainya. Lalu setelah menyaksikan derai air matanya, aku benar-benar ingin kembali, memperjuangkannya.

Namun pantaskah disebut perjuangan jika malah kehilangan sesuatu yang lebih berharga? Bukankah itu kebodohan yang hanya jadi bahan tertawaan seluruh makhluk di dunia?

Ya, kebodohan. Sesuatu yang sangat kusesali. Terlebih lagi, lambat kusadari bahwa rasa yang ada untuk Ratu saat ini bukanlah cinta. Melainkan rasa kasihan belaka.

Kasihan melihatnya kembali didera sengsara. Dan aku keliru telah hadir melebihi batas yang dibolehkan agama.

Aku menghela napas dalam-dalam. Mengurai kesesakan.

Untuk Maysa …. Ia memang pantas bersanding dengan Ustaz Hadi. Seperti kataku dulu. Bahwa ia berhak mendapatkan lelaki saleh, yang akan membawanya ke surga.

Jika Ustaz Hadi membuatnya bahagia, maka aku akan belajar untuk ikut berbahagia. Mungkin tidak mudah. Tapi aku yakin bisa. Entah butuh waktu berapa lama.

Lalu untuk hati ini …. Bersabarlah. Kata orang, waktu adalah penyembuh luka.

*

Patah hati memang harus segera diobati. Jika tidak, berpotensi terjangkit infeksi.

Maka sedapat mungkin aku bersikap normal di kantor. Menenggelamkan diri pada aneka pekerjaan alih-alih kembali memikirkan Maysa. Berusaha se-enjoy mungkin menghadapi layar datar di hadapan, sambil menikmati kopi setengah pahit dan camilan yang dibawa beberapa rekan.

Orang-orang di ruangan ini saling melempar candaan. Baguslah. Hari ini aku butuh banyak tertawa. Selain mengusir kejenuhan juga lumayan mengusir kesedihan.

Laporan pun akhirnya jadi! Siap dicetak dan dimintakan tanda tangan.

“Selesai, Rey?” tanya salah satu senior.

“Yo’i, Pak!” sahutku dengan semangat.

“Wah, tungguin gue, dong! Main slesai aje, lu!” seru yang lain.

Aku tertawa pendek. “Saatnya yang muda selesai duluan, Pak. Biar SPJ cepat cair.”

“Ah elu, Rey. Belom punya anak mah, santai aja. SPJ cair belakangan juga gak bakalan ada yang protes.”

Ya, dari dulu juga enggak ada yang protes. Maysa mana pernah mengeluh atau menggerutu soal uang yang kuberikan?

Astagfirullah! Aku menggeleng cepat. Mengusir bayangan Maysa yang tiba-tiba berkelebat.

Begitu berkas selesai dicetak, aku menyerahkannya pada ketua tim. Setelahnya beranjak ke luar ruangan, ke kamar mandi. Ada ‘panggilan alam’ mendesak. Namun seluruh toilet pria di lantai ini ‘berpenghuni’.

“Cacing karatan!”

Eh, sori, keceplosan. Kebiasaan mengumpat susah hilang.

Dengan langkah tergesa, aku turun ke lantai bawah.

Setelah hajat tertunaikan, aku berjalan santai, kembali ke ruangan yang berada di lantai sembilan.

“Reyhan!” Seseorang memanggil ketika diriku berdiri di depan lift. Menunggu pintu terbuka.

Aku memelintir kepala dengan cepat ke arah sumber suara. Dahiku mengernyit otomatis ketika mendapati sosok yang secara ajaib berada di sini.

Sony.

-x-

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 6

USAI BERCERAI – 6

OLEH : DEWI FATIMAH

Menikah baru hitungan bulan kemudian bercerai. Terdengar konyol, memang. Tetapi siapa sangka jika itulah yang justru menjadi titik balik kehidupan seorang Reyhan?

Baru enam bulan, tapi segala hal yang berkaitan dengan Maysa seperti sudah melebur dengan diriku, membawa pengaruh yang begitu dahsyat bagi jiwaku. Jiwa yang selama ini melompong tanpa pengetahuan agama. Jiwa yang hampa tanpa diisi lantunan zikir dan ayat-ayat-Nya.

Aku bertekad memperbaiki diri. Bukankah cepat atau lambat kematian akan menghampiri? Apa yang akan kubawa jika nyawa sudah terpisah dari raga? Dunia yang berhasil kukumpulkan tidak akan sanggup menebus pedihnya siksa neraka. Iya, kan?

Sudah hampir satu bulan belajar tahsin di sebuah lembaga non profit dengan bimbingan seorang ustaz. Namanya Ustaz Hadi. Tahu umurnya berapa? 26 tahun, Men! Lebih muda empat tahun dariku. Awalnya malu. Benar-benar … muka ini mau ditaruh mana? Dia yang masih belia sudah menjadi hafiz quran. Aku? Tilawah saja masih belepotan.

Namun ada yang bilang, jangan malu untuk urusan agama. Jadi, untuk yang satu ini, singkirkan jauh-jauh yang namanya gengsi.

Lagi pula, ustaz muda keturunan Arab yang mengajar ini, terlanjur membuatku nyaman. Sikapnya lembut, budi bahasanya halus. Cara menegurnya juga sangat sopan.

“Em … kalau ada tanwin bertemu dengan wawu, bacanya mendengung, Pak. Jadinya begini, ‘dzulumātuww wara’duww wabarq. Bukan dzulumātuw wara’duw wabarq.” Agak sungkan, ia menegur lalu mengoreksi.

Aku hanya menggaruk-garuk kepala. Padahal itu materi dua hari lalu, tapi sudah lupa.

Melihatku salah tingkah, Ustaz Hadi tersenyum ramah dan berkata, “Enggak apa-apa, Pak. Pelan-pelan.”

“Saya juga sering lupa, Pak,” ujar Pak Zaid, disusul tawa pendek. Beliau teman belajar satu kelas denganku. Usianya sudah memasuki kepala lima. Biarpun sering salah baca, tapi semangatnya luar biasa.

Oh ya, di kelas ini cuma ada lima orang. Memang dibatasi agar proses belajarnya bisa efektif dan ustaznya tidak kuwalahan. Dari lima orang itu, tiga lainnya masih berstatus mahasiswa S1. Terbayang kan, betapa malunya kalau keliru?

Aku mengulangi. Pelan-pelan dan kali ini benar.

Ingat ya, Reyhan, nun sukun atau tanwin kalau bertemu dengan wawu, dibaca mendengung. Men-de-ngung. Itu bacaan idghom bighunnah. Hurufnya ada empat. Ya, nun, mim, dan wawu. Jangan salah lagi, plis!

Pukul 20.30 WIB, pelajaran selesai. Aku pulang, mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ketika melewati sebuah komplek ruko, aku sengaja memperlambat laju kendaraan. Menoleh ke kiri jalan, fokus pada unit dengan tulisan ‘Orchid Cake n’ Bakery’, toko kue milik Maysa. Sudah tutup, tentu saja. Aku menyemburkan napas kecewa.

Toko itu berdiri dua tahun sebelum kami menikah. Maysa sarjana ekonomi. Suka bisnis. Ketika masih mahasiswa, dia menyewa teras koperasi kampus untuk jualan kue. Bukan dia yang memproduksi, tapi teman-temannya dari Jurusan Tata Boga. Lalu bisnis itu berakhir ketika dia lulus sarjana, saat usianya 22 tahun. Uang hasil jualan di kampus yang dia tabung, rupanya cukup untuk menyewa unit itu.

Kadang aku heran dengan Maysa. Dia orang berada. Papanya seorang pejabat di salah satu perusahaan BUMN. Tetapi kenapa memilih hidup mandiri seperti itu?

Ah, rupanya waktu enam bulan belum cukup untuk membuatku tahu banyak hal tentang dirinya.

Aku menggeleng, mengusir rasa rindu yang tanpa ampun menggigit kalbu. Nyeri. Sakit. Sesak. Terpilin-pilin dalam satu waktu. Fix, aku butuh obat.

Begitu sampai rumah, aku duduk di teras. Ada satu kursi plastik berlengan. Biasanya Maysa duduk di sini. Memandangi bunga-bunga anggrek yang menjuntai dan bermekaran. Sesekali sambil menyemprotkan air dan membubuhkan pupuk. Atau menata ulang letak pot-potnya, yang kurang lebih ada dua puluh empat.

Malam ini, aku melakukan hal yang sama. Mungkin agak gila. Namun dengan melihat mereka, bukan hanya melegakan ruang rindu, tapi juga menumbuhkan sebuah harapan. Bahwa suatu saat Maysa akan kembali ke rumah ini. Sebagai istriku lagi. Entah kapan, atau selamanya hanya akan jadi mimpi?

Iseng, aku memotret bunga anggrek yang kubeli waktu dinas luar di Jawa Timur. Sudah lebih besar dari waktu itu. Ada lima batang dan masing-masing sudah berada di pot yang berbeda.

Dengan bantuan flash dari kamera ponsel, lumayan menghasilkan gambar yang tajam.

Iseng lagi, jempolku mencari ruang percakapan whatsapp dengan Maysa. Lalu aku mengetik di sana,

[Anggrek ini untuk Maysa. Beli waktu dinas luar di Jawa Timur. Waktu itu masih di botol. Sekarang sudah lebih besar. Abang pindahin ke pot. Belajar nanam anggrek dari buku yang Maysa beli.]

Setelah kubaca ulang, segera kuhapus lagi. Dan beginilah caraku mengungkapkan isi hati. Mengetik di ruang percakapan, lalu baca sebentar, dan setelahnya … delete. Kadang jika Maysa terlihat online, aku berhenti lalu mematikan layar. Menghilang.

Mungkin terlihat seperti pengecut. Biarlah. Ya, biar saja untuk sementara begini. Aku yakin, di sana Maysa butuh waktu. Butuh waktu untuk … entahlah. Mungkin semacam jeda untuk meredam rasa sakit akibat ulahku.

Ingatanku pun lari, menarik momen ketika bertandang ke rumahnya. Sepulang kantor, beberapa jam setelah anggrek bulan dari si Pengagum Rahasia sampai padanya.

“Aku pikir enggak ada gunanya kamu ke sini. Kalau sekedar mau minta maaf, orang tua kamu sudah melakukannya kemarin,” ucap Mahesa, kakak Maysa. Seorang lelaki yang dinginnya mengalahkan freezer es krim.

Aku menatapnya dalam diam. Dari caranya bicara, aku paham bagaimana tersinggungnya keluarga Maysa.

“Setidaknya saya beritikad baik. Entah ada gunanya atau sia-sia.” Sebagai pihak yang salah, aku melapangkan dada untuk berada di ‘bawah’.

Lelaki yang usianya sepantaran denganku itu tersenyum miring. “Kalau memang beritikad baik, bukan taksi online yang mengantar Maysa pulang ke sini.”

Ya, aku memang salah besar. Keliru total. Kupikir Maysa tidak akan pergi secepat itu. Kala itu aku … aku syock berat.

“Apalagi dengan kondisi badan yang bahkan dipakai berdiri saja belum tegak,” desis Mahesa. Kalimatnya berhasil menendang seluruh isi dadaku.

Janin itu …. Keguguran itu ….

Merasa tidak diterima dengan baik, aku segera pamit. Niatnya ingin bertemu dengan Maysa atau orang tuanya, tapi malah berhadapan dengan manusia salju bernama Mahesa. Kata Bi Salamah, tuan dan nyonya pemilik rumah sedang ada acara di luar sana. Salahku juga datang tiba-tiba.

Sebelum meninggalkan rumah itu, aku melirik ke arah taman kecil di samping teras. Lega. Anggrek putih dari si Pengangum Rahasia ada di sana. Tiba dengan selamat tanpa ada secuil pun yang potel. Oh, thanks, Bang Ojol.

Lalu sebelum membuka pintu mobil, aku mendongakkan wajah, ke arah kamar Maysa. Mataku menangkap gorden yang sedikit disingkap oleh jemari lentik seseorang. Mengulum senyum, aku tahu itu dia.

Hari itu, aku pulang dengan separuh hati bahagia dan separuhnya lagi hampa. Sikap Mahesa mematahkan semangatku untuk kembali merengkuh Maysa.

*

Weekend ini, Ratu mengajakku bertemu di Fauna Land, Eco Park Ancol. Dia ingin memperkenalkan Bastian. Aku mengiyakan. Kupikir akan sangat menyenangkan bermain dengan anak kecil.

“Kenalin Sayang, ini namanya Om Reyhan.” Ratu mengenalkan Bastian padaku.

Aku tersenyum ramah, lalu membungkuk sembari mengulurkan tangan kanan. “Hai, Bastian.”

Anak lelaki berpipi tebal itu menatapku takut-takut. Bukannya menyambut tanganku, ia malah bersembunyi di belakang ibunya.

“Maaf, ya? Bastian emang gini kalau ketemu sama orang baru.” Ratu tersenyum lalu menggendong putranya.

“Enggak papa. Mungkin takut lihat aku yang brewokan.” Aku terbahak pendek.

Kami pun berjalan menuju loket pembelian tiket. Lumayan, antreannya agak panjang.

“Papa mana?” tanya Bastian dengan artikulasi yang belum begitu jelas.

Ratu mengerling sungkan ke arahku. “Papa …. Em … hari ini Bastian main sama Mama aja, ya. Sama Om Reyhan juga. Kita mau lihat apa, Sayang? Oh, mau lihat monyet, ya? Sama singa juga! Yeay!”

“Suara singa gimana, Bastian?” tanyaku ikut mengalihkan. Biasanya keponakanku akan antusias jika diminta menirukan suara-suara hewan.

Bastian malah menyembunyikan muka. Aku pun memilih diam saat menyadari sudah mendapatkan giliran untuk membeli tiket.

Begitu tiket di tangan, aku mengiringi langkah Ratu yang agak terseok-seok karena balita berbadan bongsor itu tidak mau turun dari gendongan.

“Papa …,” rengek Bastian berkali-kali.

Aku hanya bisa menggaruk tengkuk. Merasa tidak nyaman dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Eh, itu apa, Sayang?” Ratu mempercepat langkah saat kami hampir mencapai kandang beberapa hewan. Aku hanya mengekor di belakang.

Bastian memandang kucing raksasa yang melingkarkan badan di balik dinding kaca tebal. Tapi hanya sesaat, karena setelahnya ia kembali merengek, menyebut kata papa.

Ratu membawa Bastian berlari kecil. Mungkin biar tertawa. Wanita berpakaian kasual itu menghentikan langkah di kandang singa putih. Telunjuk Ratu mengetuk-ngetuk kaca tebal yang menjadi pembatas antara pengunjung dan si hewan buas. Bukannya senang, anaknya justru menangis kencang.

“Kayaknya dia lengket banget sama papanya,” tuturku saat kami duduk di sebuah bangku panjang. Bastian sudah terlelap di pangkuan Ratu. Mungkin karena capek menangis dan merengek selama berjam-jam.

Ratu mendengkus lirih. Wajahnya berpeluh. “Namanya juga papa sama anak. Wajar lah.”

Ya, wajar. Keponakanku juga begitu. Lengket bukan main sama Mas Haidar, papanya. Tapi tak separah Bastian, kupikir. Sepertinya, Sony mendapat tempat yang benar-benar istimewa di hati anaknya.

“Sori ya, Han. Bastiannya enggak kooperatif.” Ratu menenggak sekaleng minuman kelapa hingga tandas.

“Enggak papa. Namanya juga anak kecil.” Aku tersenyum meyakinkan. “Habis ini ke mana?” Tanyaku sembari mengedarkan pandangan. Masih ada satu wahana lagi, berinteraksi dengan burung pemangsa. Tapi belum dibuka.

“Pulang, mungkin. Capek banget.” Ratu melahap sebungkus roti. Sepertinya benar-benar kelaparan.

“Aku beliin nasi dulu, ya?”

Ratu mengangguk senang. “Boleh.”

Aku beranjak. Menuju outlet salah satu penjual makanan. Saat menerima dua kotak nasi, mataku menangkap sesosok berkerudung lebar.

Maysa?

Kontan jantungku berdentam. Namun lekas mereda saat menyadari bahwa itu bukan dirinya. Aku membuang napas kuat-kuat. Sejak Maysa pergi, aku sering begini. Mengira bahwa semua wanita bergamis dan berkerudung lebar adalah mantan istri.

*

“Silakan, Pak, kuenya.” Seorang tenaga administrasi menawarkan sekotak kue besar ketika aku mengisi absensi.

Orchid Cake n’ Bakery?

Alisku berkerut. Ah, mungkin ada yang beli di sana lalu dibawa ke sini. Aku menggeleng. Mengusir bayangan Maysa yang datang tiba-tiba.

“Saya masih kenyang, Pak. Makasih. Oh ya, Ustaz Hadi sudah ada?” tanyaku sambil celingukan menengok ke dalam.

“Sudah, Pak. Tapi masih di belakang, kayaknya.”

“Oh. Saya masuk kelas dulu, ya?”

“Silakan, Pak.”

Letak ruang kelasku kebetulan dekat dengan ruang administrasi. Dengan dinding sekat yang terbuat dari papan, suara-suara di depan masih bisa didengar dengan jelas dari sini. Aku datang paling awal. Sambil menunggu yang lain, aku membuka-buka kitab tajwid. Mengulang pelajaran kemarin.

“Kue dari siapa, nih?” tanya seseorang yang baru datang. Entah siapa.

“Dari Ustazah Maysa, Ustaz. Enak banget, Ustaz. Silakan kalau mau.”

Ustazah Maysa?

Mendengar nama itu, konsentrasiku buyar.

“Oh, Ustazah baru yang wajahnya kayak orang Korea itu?”

“Na’am Ustaz. Beliau kan, punya toko kue. Sering bawa makanan ke sini. Tapi kadang udah habis duluan sama yang lain.”

“Oh, gitu. Mm … enak, ya? Bisa pesan ke sana nih, kalau ada acara.”

Maysa mengajar di sini?

Aku bangkit keluar ruangan. Membaca jadwal belajar yang ditempel di dinding lorong.

Benar saja, ada nama Maysa Al-Mahira. Mengajar hari Senin sampai Jumat, pukul 16.00-17.30 WIB. Kelas putri.

Jadi … kita sedekat ini, Maysa?

‐x-

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 5

USAI BERCERAI – 5

OLEH : DEWI FATIMAH

Mungkin tidak berlebihan jika kusebut sebagai patah hati paling parah sepanjang perjalanan hidup.

Ya, ketika kita menjatuhkan perasaan pada seseorang, tetapi terlambat. Karena dia telah pergi. Tanpa sorot mata yang menunjukkan, bahwa ada rasa senada yang ia miliki.

Dengan dada masih berdenyut nyeri, aku menyusul mobil yang ditumpangi Maysa. Logikaku mengatakan, aku harus tetap menjaganya. Harus kupastikan bahwa dia dalam keadaan aman, sopir taksi online tidak macam-macam, dan yang paling penting Maysa sampai rumah dalam keadaan baik-baik saja.

Gerimis tipis mengguyur Jakarta. Aku yang mengendarai sepeda motor tidak terlalu menggubris. Mobil hitam dengan plat nomor yang sudah kuhafal itu harus berhasil kukejar. Dan misi baru tercapai setelah sepuluh menit menjadi pembalap dadakan.

“Motor pengkor!” rutukku kesal. Sebuah truk melewati kubangan air dan sialnya tubuhku kecipratan!

Namun apakah itu membuatku berhenti? Tentu saja tidak! Anggap saja pengorbanan meski tak seberapa.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil berbelok menuju komplek di mana orang tua Maysa tinggal. Debar-debar di dadaku tak terkendali. Selain takut ketahuan, lingkungan ini juga mengingatkanku pada pernikahan yang digelar enam bulan silam. Pernikahan kami.

Aku sedikit membuka kaca helm, menghirup udara dalam-dalam. Ingatan momen pernikahan membuatku hampir kehabisan napas.

Pernikahan itu …. Hari di mana seharusnya aku menjadi laki-laki paling bahagia karena mendapatkan wanita sebaik Maysa. Hari di mana harusnya aku move on dari masa lalu, dan menjadikan Maysa satu-satunya permaisuri di hatiku. Dan sekarang … semuanya sudah terlambat? Aku berharap tidak, meski semesta seolah mengatakan sebaliknya.

Aku menghentikan motor di bawah tiang listrik, berjarak kira-kira 10 meter dari rumah orang tua Maysa. Mobil hitam tadi berhenti di depan pagar bercat putih. Kulihat Maysa turun dan si driver membuka pintu bagasi belakang, mengambil koper. Setelah benda itu berpindah tangan, Maysa mengangguk terimakasih, lengkap dengan senyum yang menawan.

Andai senyum itu untuk Abang, May …. Dan tanpa sadar, satu lenganku sudah memeluk tiang listrik. Tuhan … sungguh aku cemburu dengan driver paruh baya itu!

Mobil bergerak menjauh ketika pintu pagar dibuka seseorang. Maysa masuk dan lekas memeluk sosok itu.

Bibi Salamah, ART keluarganya.

Aku bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Sebuah drama kepulangan seorang wanita setelah menjadi janda. Aku membuang napas kasar. Sungguh miris saat mengingat bahwa akulah pelakunya.

*

Pulang kerja dan tidak ada yang menyambut seperti biasa. Bukan hanya berbeda, tetapi keanehannya benar-benar terasa.

Rumah sepi. Tidak ada suara lembut dan tegas itu lagi. Yang menyuruhku mandi, ganti baju, salat, dan makan malam. Tidak ada bebunyian yang berisik dari dapur sana. Juga tak ada lagi suara perabotan jatuh yang mulai akrab selama sebulan terakhir ini.

Rumah ini seperti raga kehilangan nyawanya. Dingin dan sunyi.

Aku merobohkan tubuh di sofa, menyalakan televisi. Dan masih saja seluruh tayangan tampak hambar di mata. Ya, bagaimana bisa menikmati sesuatu dengan hati yang separuhnya dibawa pergi?

Maysa … kapan engkau kembalikan hati Abang yang separuhnya lagi?

Aku mendesah lesu saat ada telepon masuk dari Ratu. Entah kenapa, kali ini aku tidak ingin diganggu. Kubiarkan ponsel terus berpendar hingga cahayanya kembali pudar. Lalu hapeku berdenting beberapa kali, tanda ada pesan baru. Ah, aku belum bernafsu berinteraksi dengan siapapun di dunia ini. Ya, siapapun.

Namun sialnya ada suara berisik di luar. Seperti pintu pagar yang diguncang-guncang. Siapa coba yang tak sungkan bertamu menjelang magrib begini?

Dengan langkah malas, aku menyingkap gorden. Mengintip siapa si tamu tak diundang. Dan mataku membelalak seketika. Mama?

Buru-buru kubuka pintu dan menghambur keluar. Tentu saja sambil memikirkan susunan kalimat yang tepat, jika Mama menanyakan soal Maysa.

“Mama kok enggak bilang-bilang kalau mau ke sini?” tanyaku sambil membuka pagar.

“Kenapa harus bilang?” jawab Mama ketus. Di balik punggungnya ada Papa yang masih duduk di kursi kemudi.

Perasaanku mulai menebak-nebak. Ada apa sampai mereka datang berdua? Mendadak lagi? Tumben.

Tunggu! Jangan-jangan Maysa sudah bilang ke Mama soal perceraian ini? Mati aku!

Setelah mobil Papa masuk halaman dan terparkir dengan benar, aku masuk rumah menyusul Mama. Wanita bertubuh langsing itu sudah duduk di sofa depan televisi. Tahu apa yang dilakukan? Mematikan televisi.

“Sini!” perintahnya sambil menepuk kasar sofa di sebelahnya.

Aku menurut.

“Kamu apakan mantu Mama?” Mama menginterogasi dengan kedua mata berkilat terluka.

Jujur, jantungku hampir saja melompat saking terkejut. Tetapi bukan Reyhan jika tak bisa berkamuflase. Aku pun memasang wajah datar seolah tak terjadi apa-apa.

“Emang Maysa kenapa, Ma?”

“Maysa kenapa, Maysa kenapa?” Mama menirukanku. “Coba jelasin ke Mama, kenapa kalian sampai bercerai?!”

Papa masuk, melempar kunci mobil ke atas meja. Garis wajahnya yang memang tegas dengan kumis dan jenggot putih tebal, ditambah ada campuran emosi, semakin membuat nyaliku ciut untuk menghadapi. Lelaki yang usianya baru menginjak 64 tahun itu menarik kursi bulat lalu duduk dengan dada tegap.

“Rey,” tegurnya dengan suara ngebas. “Papa sama Mama datang ke sini, menuntut penjelasan yang masuk akal dari kamu. Usia pernikahan kalian baru enam bulan tapi sudah cerai. Maysa itu anak orang. Jangan kamu permainkan sembarangan gitu, dong!”

Aku baru sanggup menghela napas, belum bisa membalas.

“Kalau memang Maysa bersalah, enggak semudah itu bercerai, Reyhan. Rumah tangga itu bukan sesuatu yang boleh dibubarkan dengan gampang!

“Sebelum menikah, Papa kan sudah ngasih tahu tahapan-tahapan menyelesaikan masalah. Masih ingat enggak kamu?”

Aku menggaruk kepala dengan kasar. Waktu Papa ceramah soal itu, aku memang malas mendengarkan.

“Lupa itulah!” sahut Mama kesal.

Papa mengembuskan napas lesu bersamaan dengan kedua bahunya yang lemas. Pastilah beliau menganggap aku ini anak yang payah.

“Rey …,” Papa menautkan kedua telapak tangannya, “para ulama itu sudah menyusun panduan bagaimana menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Karena para ulama itu tahu bahwa rumah tangga bukan akad yang dimudah-mudahkan untuk dibubarkan. Jangan karena bertengkar sedikit, cekcok sedikit, suami mengucapkan cerai. Keliru besar, itu!”

Aku menunduk dengan leher lemas. Aku memang salah besar. Aku tak bisa membantah.

“Kalau istri melakukan kesalahan, yang pertama dilakukan suami itu adalah menasehati. Supaya apa? Supaya istrinya memperbaiki diri. Kalau dengan nasehat belum mempan, pisah ranjang. Diharapkan dengan pisah ranjang, istri itu jadi tersiksa lalu mau memperbaiki kesalahannya. Nah, kalau dengan pisah ranjang masih enggak mempan, pukul istri tapi dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Ingat, ya, pukulan yang tidak menyakitkan!” Papa bicara dengan tegas. Kedua pundaknya kembali tegap.

“Jangan-jangan Maysa udah pernah kamu pukul?” selidik Mama penuh emosi.

“Ya Allah, Ma. Belum pernah lah, Ma.” Aku menjawab dengan sebal. Enak saja dituduh begitu.

“Ya sudah, kalau belum pernah. Karena dosa besar memukul istri, apalagi memukul wajah,” tegas Papa.

“Iya, memang belum pernah.” Aku menyandarkan punggung di sofa. Nasehat Papa membuatku lelah.

“Nah,” Papa melanjutkan ceramahnya, “kalau sudah dipukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan tapi masalah belum juga selesai, maka selanjutnya masing-masing pihak mengirim utusan untuk berkomunikasi, mencari jalan keluar. Kalau langkah ini masih belum menyelesaikan masalah juga, ya … tidak ada jalan lain lagi.”

“Jadi bukan tiba-tiba cerai, Reyhan …!” Mama bicara sambil meremas bantal kecil. Melampiaskan rasa kesal.

“Sekarang bilang sama Papa, kenapa kalian bercerai?” Papa bertanya dengan wajah dingin. Mengingatkanku pada proses interogasi di film-film Barat. Mirisnya, aku berperan menjadi si pesakitan.

Mataku melirik Mama dan Papa bergantian. Aku yakin jawaban yang akan aku sodorkan akan membuat mereka kecewa. Maka, aku putuskan untuk balik bertanya.

“Emang Maysa bilang gimana ke Mama?”

Mama menghela napas berat. Seperti orang sedih karena sebuah masalah besar. “Dia cuma bilang minta maaf ke Mama sama Papa, karena belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu.”

Perkataan Mama membuat persendianku lemas. Astaga, Maysa ….

“Cuma itu doang, Ma?” tanyaku lagi setelah beberapa detik keheningan menjeda obrolan kami.

“Ya. Makanya Papa tanya sama kamu, sebenarnya kalian ada apa?” Nada bicara Papa seperti orang tergesa-gesa.

“Maysa nelpon Mama duluan?” Aku sengaja membelokkan topik. Ya Allah, aku belum siap membeberkan alasan yang sebenarnya.

“Enggak. Mama yang nelpon duluan. Kamu harus tahu, Rey. Ibu kamu ini punya perasaan yang peka. Dan terbukti, kan? Memang ada apa-apa sama kalian?” Papa menjawab dengan agak emosi. “Jadi kenapa?”

Aku meneguk ludah. Berbelit-belit rupanya hanya membuat Papa tambah marah.

“Reyhan belum bisa cinta sama Maysa.” Akhirnya aku menjawab lirih.

“Astagfirullah ….”

“Ya Allah, Ya Tuhanku ….”

Papa dan Mama melenguh bersama. Sesuai dugaan, mereka kecewa besar.

Tapi itu dulu, lanjutku sebatas dalam kalbu.

“Rey!” Papa setengah membentak, “kamu pikir Papa sama Mama dulu waktu menikah udah saling cinta? Enggak, Rey! Papa sama Mama ini dijodohkan. Tapi Papa sebagai laki-laki punya prinsip! Itu tadi, pernikahan bukan sesuatu yang main-main. Bukan sesuatu yang boleh dibubarkan dengan seenaknya! Papa nerima Mama, Mama nerima Papa. Dan dengan kita berinteraksi tiap hari, berjuang bersama, tumbuhlah rasa cinta.”

“Harusnya kamu dulu nolak Maysa sejak awal, dari pada ujung-ujungnya begini!” tukas Papa.

“Maysa salah apa sih, Rey?” Mama belum puas dengan jawaban tadi.

Aku meraup muka dengan kasar. Merasa tertekan. “Salahnya dia mau nikah sama laki-laki bodoh kayak Reyhan!” Aku beranjak meninggalkan mereka berdua.

Kesal, marah, dan kecewa. Bukan pada Papa atau Mama apalagi Maysa. Tapi lebih pada diri sendiri.

Aku lalu masuk kamar bersamaan dengan suara azan magrib yang menggema dari sudut-sudut Kota Jakarta. Mengempaskan tubuh di atas ranjang sembari menikmati lantunan takbir yang menenangkan.

*

Ratu minta bertemu di restoran yang sering kami kunjungi. Aku mengiyakan. Sekalian makan siang, pikirku. Dengan semangat, wanita yang duduk di hadapanku itu menceritakan proses persidangan. Dia juga membeberkan berapa besaran nafkah selama menjalani masa iddah, dan rencananya uang itu akan ia gunakan sebagai modal bisnis kecil-kecilan.

Aku hanya mendengarkan sembari mengaduk-aduk nasi goreng kambing. Mencari-cari perasaan yang seharusnya ada. Perasaan untuknya, yang kukira masih menggebu seperti awal ketika kami bertemu. Satu bulan lalu.

“Han …,” Ratu berusaha melihat mukaku yang memang menunduk.

“Hm?” Aku sedikit mengangkat wajah.

“Kamu kenapa sih, Han?”

Aku menghela napas. “Lagi banyak kerjaan di kantor,” jawabku sekenanya. Tapi memang itu fakta. Laporan audit tempo hari belum kelar dan sudah ditindih tugas baru. Melelahkan.

“Kenapa enggak bilang, sih? Tahu gitu aku enggak ngajak ketemuan. Udah semangat curhat, malah dicuekin.” Ratu menggerutu.

Aku diam. Menyadari ada sesuatu yang mulai tak nyaman. Entah apa. Padahal sebelumnya, semua seperti normal-normal saja.

“Lain kali bilang aja, Han. Aku enggak suka lihat kamu suntuk kayak gitu.” Ia terlihat mulai kesal.

“Iya, sori. Aku balik ke kantor dulu, ya?” Aku lantas memanggil pelayan, membayar pesanan.

“Makanan kamu?” Ratu merujuk pada nasi goreng yang tampak utuh. Hanya berkurang dua sendok. Akhir-akhir ini nafsu makanku memburuk.

“Bisa tolong dibungkusin, Mas?” pintaku pada si pelayan yang lekas disahut dengan anggukan ramah. Setelahnya, laki-laki itu pergi dengan membawa pesananku.

“Oh ya, soal Bastian, ada kesepakatan untuk berbagi hari. Nanti kalau udah giliran sama aku, aku pengen ngajak Bastian main ke tempat kamu. Boleh, kan?” Ratu sudah kuberi tahu bahwa Maysa pulang ke rumah orang tuanya.

Detik kemudian, Ratu menautkan kesepuluh jemarinya untuk menopang dagu. Dulu pose yang begitu membuatku benar-benar ingin segera memilikinya. Namun sekarang, terasa begitu biasa.

“Oke,” sahutku singkat. Sepertinya memang tak ada jawaban yang lebih baik dari itu.

Pelayan datang membawa bungkusan makanan. Aku pamit pada Ratu dan meminta maaf tidak bisa mengantarnya pulang. Dia maklum meski raut kecewa jelas terpahat di wajah ovalnya.

Mobil kulajukan dengan kecepatan sedang. Alih-alih kembali ke kantor, aku malah berbelok ke sebuah toko buku paling besar di Jakarta. Ada pameran anggrek yang digelar di sana.

Hampir setengah jam mengelilingi stand demi stand. Memandangi tanaman seindah ini membuat senyumku terus mengembang. Wajah Maysa … seperti ada di setiap mahkota bunga yang terpajang.

“Mbak,” sapaku pada salah satu penjaga stand.

“Iya, Pak?”

“Bisa enggak, kalau ini dikemas dengan bagus untuk hadiah?”

“Oh, bisa banget, Pak. Silakan Bapak pilih yang mana, nanti kami kemas sesuai keinginan Bapak.”

Hatiku membuncah, disusul senyum yang tak berkesudahan. Membayangkan wajah Maysa yang berseri-seri menerima bingkisan ini. Anggrek Bulan namanya. Warna kelopaknya putih bersih. Cantik. Maysa belum punya. Mungkin karena pertimbangan harga atau memang langka?

“Oh ya, Mbak. Ini aman, kan, kalau mau dikirim pakai ojek online?” Aku memastikan.

“Aman, Pak. Insyaallah aman.” Penjaga stand meyakinkan.

Aku mengangguk-angguk lalu menunjuk satu pot bunga anggrek yang berisi dua pohon. Bunganya sudah menjulur panjang. Eksotik. Seperti yang pernah Maysa katakan.

Sebelum dikemas, aku menyelipkan sebuah kertas. Berisi tiga baris tulisan.

“Dear Maysa Al-Mahira,

Semoga kamu suka.

Dari Pengagum Rahasia.”

– x –

Bersambung

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 4

USAI BERCERAI – 4

OLEH : DEWI FATIMAH

“Jadi istri saya hamil?”

Eh, sebentar. Istri?

Hm, iya. Sudah ada niat kuat untuk rujuk. Rupanya terlalu berat melepaskan seorang wanita sebaik Maysa. Apalagi setelah melihatnya kesakitan dan tak berdaya, sekujur tubuh ini ingin menanggung semua yang ia derita.

Dokter obsgyn di hadapanku mengangguk yakin. “Sudah 13 minggu usia janinnya.”

Aku menghela napas kemudian mengempaskan diri ke punggung kursi. Otot-otot mendadak lemas bersamaan dengan jantung yang perlahan-lahan teremas.

Calon bayi kami … kata dokter sudah tidak hidup lagi. Ditandai dengan detak jantung yang terhenti.

Penyebabnya diduga terkena infeksi rubella. Karena pekan lalu Maysa mengalami demam disertai muncul ruam. Kekhawatiran Mama wakt itu … ketika nomor Maysa tidak aktif, rupanya terbukti. Yah ibuku memang sepeka itu dengan menantu yang satu ini.

Karena sudah tidak bisa diselamatkan, maka tidak ada opsi lain. Malam ini juga, janin itu harus dikeluarkan dari rahim Maysa melalui proses kuretase.

Lalu di sinilah aku sekarang. Duduk seorang diri di depan ruang tindakan. Menunggu proses di dalam sana sembari merutuki diri, menangisi keadaan. Menyadari bahwa semua ini buntut dari kesalahanku.

Salahku tak pernah berjuang untuk mencintai seseorang yang jelas telah halal. Seseorang yang bahkan tidak layak untuk disakiti.

Salahku membiarkan diri tenggelam dalam kubangan masa lalu padahal itu menyesakkan. Dan ini seperti tamparan keras bagi seorang yang angkuh seperti Reyhan!

Allah … bagaimana harus meminta maaf pada Maysa?

Derit pintu mengangetkan, memaksaku memasang wajah tegar khas laki-laki. Dokter keluar memberi kabar. Selang beberapa menit, dua orang perawat menggeledek Maysa yang masih memejam menuju ruang pemulihan.

Sengaja kupilih ruang VIP agar Maysa merasa nyaman. Maksudku kami. Ya, kami. Setelah ini, aku hanya ingin berdua saja dengannya. Sembari menunggu matanya terbuka, ingin kuungkap apa saja yang tersimpan untuknya.
Dari hati yang kini merasakan sesak dan perih seorang diri.

“Nanti kalau Bu Maysa sudah sadar, segera panggil kami ya, Pak? Mngkin 15 sampai 30 menit lagi,” ucap seorang perawat sebelum meninggalkan ruangan.

“Oke. Makasih, Sus,” kataku ramah.

Perawat itu mengangguk dan berlalu.

“May …,” ucapku saat tangan lembut itu kugenggam. “Maafin Abang ….” Aku mencium punggung tangannya dengan mata memejam. Menikmati sesuatu yang belum pernah kulakukan pada wanita di hadapanku.

Tiba-tiba memori tentang malam pertama terputar di otak. Saat di mana kusaksikan seorang Maysa menungguku di kamar dengan pakaian kurang bahan. Ia tersenyum malu sambil mendekap bantal, menutupi bagian dada yang agak terbuka.

Waktu itu, aku tak menghargai usahanya sebagai istri. Selama belum ada cinta, aku berjanji tidak akan melakukan hubungan itu. Terdengar naif, tapi kupikir itulah sikap sejati seorang laki-laki. Daripada melakukannya tapi tidak dari hati?

“Maysa, Abang tahu kita sudah sah sebagai suami-istri. Abang tahu kita sudah boleh melakukan apapun. Tapi selama belum ada cinta di hati kita masing-masing … lebih baik tidak kita lakukan dulu.”

Maysa menanggapi kalimatku dengan sorot mata yang tidak bisa kuartikan dan memang waktu itu, aku tak mau peduli. Karena yang kupikirkan hanya bagaimana agar egoku menang.

Setelah itu, kami menjalani biduk rumah tangga dan menurutku semua berjalan normal. Dia melaksanakan tugasnya sebagai istri dan aku melakukan tugasku sebagai suami. Kecuali urusan ranjang. Sampai menjelang bulan ketiga pernikahan, Maysa kembali membicarakan ini.

“Bang, em … ada yang ingin aku sampaikan.” Dia bicara dengan ragu-ragu.

“Apa?”

“Bang, em … dalam agama … em ….”

“Apa, Maysa?” Tanyaku tak sabar. Geregetan juga mendapatinya am-em-am-em seperti itu.

Dia memandangku takut-takut. Setelah berselang beberapa menit, dia kembali bicara. “Bang … dalam Islam, kalau sudah empat bulan sejak menikah seorang suami tidak memberi nafkah batin, maka … akan diberi pilihan.”

Aku memandangnya serius. “Pilihan gimana?”

Maysa menunduk, lalu melirikku sejenak. “Berpisah atau melanjutkan pernikahan tapi dengan konsekuensi ….”

Tanpa melanjutkan kata berikutnya, aku tahu maksudnya apa.

Aku mendengkus lirih. Menyadari bahwa Maysa berhak menuntut haknya. Meski belum ada cinta, akhirnya kami melakukannya. Daripada usia pernikahan kami empat bulan saja?

Gerakan tangan Maysa menarikku kembali dalam ruangan ini. Kedua matanya perlahan mengerjap. Senyumku mengembang seiring usahanya membuka mata. Ketika dia masih mencerna keadaan, aku bangkit berdiri memanggil perawat.

Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Maysa datang bersama seorang perawat. Setelah melakukan pemeriksaan, wanita berhijab itu mengabarkan bahwa kondisi Maysa membaik. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kemungkinan besar, besok siang sudah diperbolehkan pulang.

“Sejak kapan Maysa tahu kalau lagi hamil?” tanyaku setelah beberapa menit dokter dan perawat berlalu.

“Baru pekan lalu.” Maysa menjawab dengan suara lirih.

“Kenapa enggak ngasih tahu Abang?” tanyaku lagi penuh penyesalan.

“Maaf ….”

“Usia kandungannya udah 13 minggu, May. Apa sebelumnya Maysa enggak mengalami tanda-tanda seperti orang lagi hamil?”

Teringat dengan kehamilan Mbak Mita yang sudah diketahui sejak usia janinnya baru enam minggu.

Maysa melihatku sekilas lalu beralih memandang plavon bercat putih. Mungkin memproyeksikan ingatannya di sana atau baginya langit-langit ruangan lebih menarik dari wajahku?

“Sebelumnya udah curiga waktu telat haid. Tapi … saya khawatir Abang enggak suka atau malah marah. Jadi … saya sengaja enggak ngecek pake tespek atau ke dokter.”

Maysa memang bicara pelan tapi terdengar seperti sambaran petir yang menggelegar. Khawatir aku tak suka, katanya? Ya Allah, Maysa ….

Aku menghela napas, mengurai sesak yang semakin menjadi-jadi.

Menit kemudian hening. Aku tertunduk lemas sementara Maysa sibuk mengusap sudut matanya.

“Maafin Abang, May ….” Akhirnya kalimat itu yang keluar setelah hampir setengah jam kami saling terdiam.

*

Pagi ini Maysa tampak lebih segar. Kemarin tubuhnya lemas dan gemetar karena memang tidak makan hampir seharian. Dia bilang, perutnya mengalami kram cukup hebat sehingga tidak kuat ke mana-mana. Kondisi yang membuatku ditimpa rasa sesal berlapis-lapis.

Makanan untuk sarapan yang baru datang langsung kuambil alih. Menunya cukup enak. Nasi dengan capcay, perkedel kentang campur daging, dan telur ceplok. Seperti yang biasa Maysa hidangkan ketika sarapan atau makan malam. Ah, jadi rindu masakan wanita yang satu ini.

“Abang suapin, ya?” kataku sambil membuka pastic wrap yang membungkus makanan.

Maysa memandangku ragu-ragu. Tangannya lalu terulur, hendak mengambil piring yang ada di tanganku. “Bisa makan sendiri, kok.”

“Maysa ….” Aku mencegahnya lewat tatapan ketika tangan Maysa menarik piring yang kupegang.

Ponsel berdering. Shiitake botak! Siapa sih, yang berani mengganggu momen penting? Aku mengambil benda itu dari atas sofa. Kali ini kubiarkan Maysa menang dalam kompetisi tarik-menarik tadi.

Nama Ratu yang terpampang membuatku agak gamang. Tapi begitu mendapati Maysa makan dengan tampang tak peduli, aku putuskan untuk mengangkat telepon itu.

“Bentar ya, May?” ucapku sambil melangkah keluar.

“Halo, Ra?”

“Han …, kamu di mana?” tanya Ratu di seberang sana.

“Di rumah sakit. Ada apa?”

“Siapa yang sakit?”

“Maysa. Dia … dia keguguran.”

“Astaga! Sori, Han …. Kalau gitu enggak jadi.”

Dahiku terlipat. Seperti ada yang urung disampaikan Ratu.

“Ada masalah apa, Ra?” tanyaku lagi.

“Enggak kok, cuma pengen ketemu. Tapi ya udah deh. Semoga Maysa baik-baik aja. Bye.”

Sebelum menjawab apa-apa, telepon sudah dimatikan sepihak oleh Ratu.

Aku membuang napas kasar. Telepon yang agak ganjil dari Ratu mengusik pikiran. Menimbulkan banyak spekulasi. Ada apa sampai minta bertemu? Apakah terjadi sesuatu?

Semoga dia baik-baik saja.

Untuk saat ini, aku ingin fokus dulu ke Maysa dan biarlah Ratu mengurus masalahnya sendiri. Aku yakin dia mampu.

Aku pun kembali masuk dan kulihat Maysa sudah menyelesaikan sarapannya. Pandangannya tertuju pada jendela yang tirainya sedikit kusingkap. Seperti memikirkan sesuatu dengan sangat dalam, sampai-sampai kehadiranku sama sekali tidak mengganggu. Atau dia sengaja mengacuhkanku?

“May,” sapaku yang membuat pundaknya berjingkat kaget.

“Ya?”

“Mikirin apa?” Aku menarik kursi, duduk di sebelah ranjangnya.

“Enggak apa-apa.”

Detik kemudian hening. Aku sibuk memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan kata rujuk. Sebagaimana artikel yang sempat kubaca tadi malam–ketika Maysa kembali terlelap–rujuk tidak hanya dengan niat. Tapi juga dengan ucapan dan disaksikan oleh dua orang. Lalu saat ini aku ragu, bagaimana jika Maysa menolak? Walaupun di artikel itu dijelaskan bahwa untuk merujuk tidak perlu menunggu persetujuan istri … tapi aku tidak mau ada paksaan di pihak Maysa.

“May,” ucapku setelah berdehem dua kali, sekedar untuk mengurangi grogi.

“Iya, Bang?” sahut Maysa tanpa sedikit pun memandang wajahku. Heran, apakah mukaku yang memang belum mandi ini terlihat lusuh sehingga tidak enak dipandang?

Baiklah, abaikan dulu.

“May,” kataku lagi sambil menarik kursi agak ke depan, agar bisa lebih dekat dengan sosok yang kini terlihat lebih cantik itu, “em … kalau mau rujuk, harus ada dua orang yang menjadi saksi, ya?” Aku sengaja mengonfirmasi dan berharap Maysa peka dengan ini.

Wanita berkerudung cokelat itu menoleh. Untuk beberapa detik dia memandang wajahku dengan alis sedikit berkerut. Yes! Sepertinya Maysa sudah bisa menangkap maksudku.

“Iya. Emangnya kenapa?”

Ah, pertanyaannya membuat pipiku mengendur.

“Em … cuma memastikan aja,” jawabku sambil memasang wajah se-cool mungkin. Padahal urat-urat nadiku terasa berlompatan dan sulit diredam.

“Oh,” sahutnya pendek dan datar.

Suasana kembali hening. Sesekali terdengar detak heels di luar. Entah perawat atau dokter perempuan yang lewat. Lumayan sebagai selingan di antara kebisuan.

“Bang,” panggilan Maysa membuyarkan pikiranku yang tengah sibuk memikirkan kalimat rujuk.

“Iya, May?”

“Masa iddah saya sudah habis.”

Kalimatnya sontak menghentikan lompatan seluruh nadi. Bahkan dunia seakan berhenti berotasi, menyisakan seorang Maysa dengan kelopak mata berkedip teratur.

Maksudnya apa? Bukankah dia bilang, masa iddahnya tiga kali masa suci dan itu bisa tiga bulan lebih lamanya?

Aku masih diam dengan pandangan menuntut penjelasan.

“Wanita hamil itu, masa iddah-nya sampai melahirkan. Dan keguguran yang saya alami kemarin, dengan janin yang usianya sudah 13 minggu, maka sudah semakna dengan melahirkan. Karena janin di usia itu sudah berbentuk seperti manusia.”

Ya, janin yang dikuret kemarin memang sudah sangat mirip dengan manusia. Aku tahu dari lembaran foto USG.

Aku masih diam. Dalam hati berontak tak terima dengan segala penjelasan yang keluar dari bibirnya. Jemariku mengepal karena emosi. Ingin rasanya berteriak menyalahkan Maysa yang menyimpan kehamilannya seorang diri. Ingin rasanya memaki dirinya yang tidak berani memberi kabar soal ini. Tapi aku lekas sadar bahwa ini semua salahku.

Ya, salahku.

Ya Allah …, rasanya ingin membenturkan kepala ke tembok sampai berdarah-darah. Menyadari betapa otak di dalam sini seperti tumpul sekali. Kenapa aku sebodoh ini?

“Jadi setelah pulang dari sini, saya izin mengambil baju dan barang-barang. Insyaallah saya akan pulang ke rumah Papa.”

Dengan dada yang teramat sakit, aku bangkit. Melangkah ke luar, membiarkan kaki ini berjalan entah ke mana.

Aku butuh waktu. Untuk menenangkan batin yang begitu pilu.

*

Sebelum zuhur, Maysa sudah diizinkan pulang. Aku mengendarai mobil dalam diam. Maysa yang duduk di sebelah pun tidak berkata apa-apa. Praktis, rute rumah sakit hingga rumah, kami lewati dengan keheningan.

Sesampainya di rumah, Maysa mengeluarkan koper, mengemasi barang-barang. Jujur, aku emosi menyaksikan ini. Bagaimana tidak? Kondisinya belum pulih benar, tapi terlihat sekali memaksakan diri.

“Maysa, istirahat dulu!” perintahkan setengah berteriak.

Tangan Maysa yang sedang melipat pakaian, terhenti sejenak. Ia memandangku sekilas, lalu berkata, “Enggak apa-apa, Bang. Saya enggak enak ada di sini.”

“Oke. Abang akan keluar dan kamu tinggal di sini. Istirahat!” ucapku penuh penekanan. Berharap Maysa taat. Tapi siapalah aku sekarang? Hanya mantan yang jelas tidak bisa memintanya patuh seperti dulu.

Namun aku sangat cemas. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya. Apa dia tidak bisa menangkap segenap rasa khawatir yang tersorot dari kedua mataku? Apakah dia tidak bisa membaca bagaimana perasaanku?

Ya, perasaanku. Sesuatu yang aneh yang muncul sejak kata cerai itu terucap. Sesuatu yang membuatku merasa damai jika melihatnya, sesuatu yang membuat batin disiksa rindu jika jauh darinya.

Maysa menatapku sebentar lalu menghela napas berat. Mungkin mempertimbangkan atau malah menganggapku seperti anak kecil yang memohon agar jangan ditinggalkan?

Ponselnya berbunyi, ia lekas mengangkat.

“Ya? Oh, iya Pak. Agak maju sedikit, ya? Iya, betul. Rumah nomor 21.” Setelah telepon ditutup, ia menoleh. “Taksi yang saya pesan sudah menuju ke sini.”

Napasku tersekat. Aku sudah tidak berdaya mempertahankan Maysa.

Terdengar bunyi klakson di luar, tanda mobil yang dipesan Maysa tiba. Mantan istriku itu bergegas menutup kopernya. Setelah berkomunikasi sebentar dengan driver melalui telepon, Maysa pamit.

Kulihat dirinya menyeret koper dengan langkah pelan. Sungguh, aku berharap dia menoleh ke belakang sebelum masuk ke mobil hitam yang ia pesan. Namun, Maysa sama sekali tak melakukan itu. Membuatku hampir melolong panjang karena rasa sakit yang demikian hebat telah bersarang.

Kusaksikan mobil bergerak maju. Membawa Maysa, wanita yang kini hanya boleh kusebut sebagai masa lalu.

-x-

— bersambung —

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 3

USAI BERCERAI – 3

OLEH : DEWI FATIMAH

Jika ada orang lain yang paling terluka karena perceraian ini, mungkin itulah Mama. Aku perlu mengatur strategi bagaimana cara menyampaikan kabar mengejutkan ini. Intinya, jangan sampai Mama marah besar atau yang paling buruk … jantungan. Meskipun selama ini Mama sehat-sehat saja, tapi mengingat punya riwayat hipertensi, aku jadi worry.
Itulah kenapa, aku belum berniat melayangkan gugatan cerai melalui Pengadilan Agama. Menunggu waktu yang tepat. Entah kapan.
Lagipula besok ada dinas luar hingga dua pekan ke depan. Ada yang harus disiapkan. Berkas-berkas penting dan tentu saja pakaian.
Pandanganku terpaku pada sebuah koper di sudut kamar. Biasanya, Maysa yang menyiapkan seluruh keperluan dinas luar dengan cekatan. Sebelum bertindak, dia akan menanyakan baju apa saja yang dibutuhkan, jumlahnya berapa, warnanya apa, dan … semuanya diurutkan agar aku tidak perlu membongkar dan membuatnya berantakan.
Lalu sekarang, aku harus melakukannya sendirian? Keadaan yang membuatku bertanya, apakah benar keputusan menceraikannya?
Aku mengurut kening. Berharap hal-hal rancu yang mengganggu otak selama hampir 36 jam belakangan ini akan sirna.
Dari luar terdengar suara Maysa menggumam. Melantunkan ayat-ayat suci dengan suara pelan. Menarik perhatianku untuk mengintipnya dari kaca jendela. Bibirku melengkung tipis mendapati Maysa sedang asyik menyiram anggrek-anggreknya. Ya, dia hobi mengoleksi bunga yang satu itu.
“Kenapa suka anggrek?” tanyaku saat pertama kali menemaninya ke toko bunga. Mata sipitnya agak membulat memandangi bunga-bunga anggrek yang berjajar rapi di atas rak.
Setelah menyuguhkan senyum manis, Maysa berkata, “Dulu, Almarhumah Ibu suka anggrek.”
Ibunya meninggal sejak dia masih SMP. Beruntungnya Maysa, dia punya papa yang kaya raya dan ibu tiri yang menyayanginya. Sehingga dia terurus dengan baik hingga dewasa. Berbeda dengan Ratu yang memang agak terlunta-lunta.
“Cuma karena itu?” Aku melanjutkan.
Dengan mata berkilat senang, Maysa kembali menjawab, “Ya. Apa-apa yang Ibu suka, aku juga akan suka. Dan bunga anggrek memang terlalu cantik untuk enggak disukai. Gimana ya, bentuk bunganya itu eksotis. Dia sebetulnya sederhana, tapi kesannya mewah dan elegan. Terus bunganya awet. Cara hidupnya juga unik. Kalau bunga-bunga yang lain hidup dengan media tanah, dia malah suka nempel di pohon-pohon. Tapi dia enggak jadi parasit. Istilahnya, numpang hidup tapi enggak merepotkan.”
Numpang hidup tapi enggak merepotkan?
Dulu terdengar biasa, tapi kini terasa berbeda. Senyumku mengembang seiring rasa hangat yang mengalir di wajah ini.
*
Tugas dinas luar yang akan dikerjakan oleh tim berkaitan dengan audit K3S–Kontraktor Kontrak Kerja Sama. Obyek pemeriksaannya adalah sebuah perusahaan minyak milik Jepang yang beroperasi di Blok Kangean. Sebuah kepulauan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, Madura. Dalam pelaksanaannya, kami bekerjasama dengan Dirjen Pajak dan Migas.
Tim yang bertugas kali ini terdiri dari enam orang. Satu orang pengendali teknis, satu orang ketua tim, dan empat lainnya–termasuk aku–adalah anggota tim. Tugas yang kata orang merupakan lahan basah. Entah maksudnya bagaimana, karena bagiku semua tugas itu sama. Harus dikerjakan dengan profesional.
Surabaya menjadi kota tujuan pertama tim kami. Ada data yang dibutuhkan dari kantor yang mengurusi migas di Jawa Timur.
Kepala kantornya menyambut kami dengan keramahan khas orang Jawa. Laki-laki dengan kisaran usia 50 tahun. Tahu bahwa kami berenam jarang ke Jawa Timur, beliau mengajak kami makan malam di rumah makan yang khusus menyediakan hidangan khas provinsi paling timur pulau Jawa ini. Salah satu menu andalannya adalah rawon. Rasa kuahnya manis, gurih, dan bila dicampur sambal dan jeruk nipis, semakin membuat semangat makan.
Kebetulan, beliau mengajak anak dan istri. Dan yang cukup membuatku tercengang, istrinya bercadar. Seorang yang punya jabatan tapi tidak sungkan mengenalkan istrinya yang hanya kelihatan mata dan telapak tangan. Aku salut. Sungguh. Bahkan aku belum pernah mengenalkan Maysa ke teman-teman kantor karena khawatir dengan stigma negatif soal istri yang pakaiannya terlalu tertutup seperti itu.
“Sudah punya anak berapa, Pak?” Pertanyaan lelaki itu ditujukan padaku. Mungkin karena aku yang terlihat paling muda di sini.
Terus terang, aku agak gelagapan. Seakan mendapat ujian dadakan dan tidak ada persiapan apapun untuk mencegah apalagi menyiapkan jawaban.
“Em … belum ada, Pak,” jawabku singkat.
“Pak Reyhan ini baru menikah, Pak. Lima bulan atau enam bulan lalu, ya, Pak Rey?” Ketua Tim menimpali sembari menyikut lenganku main-main.
“Pengantin lumayan baru, to?” jawab lelaki di hadapanku disusul tawa beberapa orang, termasuk si wanita bercadar. “Kerja apa istrinya?” tanya beliau lagi.
Istri? Apa Maysa masih boleh kusebut istri?
“Em … dia punya toko kue,” jawabku setelah menenangkan hati yang sedikit gelisah.
Gelisah, karena aku tahu ada dusta terselip di antara ucapanku.
“Wah, enak, ya? Kalau punya usaha sendiri bisa leluasa atur waktu untuk ngurusi keluarga. Kalau istri saya ini, dulu kerja kantoran, Pak. Begitu nikah, udah, saya suruh resign saja. Fokus ke keluarga, kata saya. Apalagi kerjaan saya kan, kebanyakan di luar, ya. Kasihan nanti kalau punya anak, ditinggal bapak-ibunya terus.”
Aku tersenyum canggung.
Wanita bercadar itu kemudian bangkit saat mendapati anaknya yang paling bungsu–kira-kira berusia enam tahun– menangis karena jatuh kesandung kursi. Cara menenangkan tangis anak laki-laki itu cukup menarik perhatianku.
“Oh, Adik kesandung kursi, ya? Lain kali hati-hati, ya? Sabar …. Mana yang sakit?”
Seketika, kelembutan itu mengingatkanku pada sosok Maysa.
Aku menghela napas, berharap kesesakan ini pergi.
[May, rumah aman?]
Menjelang subuh, aku mengirim pesan untuk si wanita salihah. Sekedar basa-basi. Atau memang ada rindu yang menyusup dalam hati? Entahlah.
[Iya. Alhamdulillah.]
Hanya itu dan cukup membuat hati ngilu. Berharap mendapatkan jawaban panjang, tapi cuma sesingkat itu.
Aku pun keluar kamar, pergi salat subuh di masjid dekat hotel. Heran? Aku juga.
Sejak mengucapkan kata cerai, entah kenapa kenormalan hidupku mulai bergeser. Bahkan bangun subuh menjadi rutinitas baru.
Usai menunaikan ibadah yang begitu syahdu, aku duduk termenung. Rupanya sedamai ini salat subuh berjamaah di masjid. Ya Allah, selama ini ke mana saja aku? Tak terasa air mata haru menitik di sudut netra. Ingin kukatakan pada Maysa bahwa pagi ini malaikat telah mencatat, Reyhan tidak bangun kesiangan! Ah, aku jadi senyum-senyum sendiri.
Beberapa menit kemudian, kajian rutin di mulai. Hatiku bersorak entah kenapa. Yang jelas ada rasa bahagia yang sulit didefinisikan dengan kata-kata.
Istri yang menyejukka mata. Tema yang diangkat pagi ini. Seketika mengingatkanku pada Maysa Al-Mahira. Sialnya, aku mengikuti kajian sambil terkantuk-kantuk. Mungkin karena tadi malam tidur larut karena terpaksa begadang memasukkan data-data yang akan diperiksa.
“Ustaz, saya sudah lima tahun menikah. Saya memang baru belajar agama beberapa bulan belakangan ini. Hati saya juga baru tergerak untuk menutup aurat. Tapi masalahnya, suami saya tidak setuju. Apa yang harus saya lakukan, Ustaz? Bukankah saya juga harus taat pada suami?” Salah satu pertanyaan hadirin melalui selembar kertas yang dibaca oleh Sang Ustaz. Cukup menarik. Mataku segar kembali.
“Subhanallah,” Sang Ustaz menghela napas, “memang masih banyak suami yang seperti ini ya, Jamaah. Banyak sekali di luar sana. Suami yang dikatakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dengan sebutan dayyust. Apa itu dayyust? Tidak punya rasa cemburu. Dan ini dicela oleh agama.
“Pak, laki-laki yang bener, laki-laki yang saleh itu, harusnya cemburu melihat istrinya keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna. Cemburu dong, aurat itu kan harusnya dipersembahkan untuk suami seorang, bukan untik dilihat laki-laki lain yang tidak ada hak.”
Mempersembahkan aurat untuk suami seorang?
“Yang lebih parah lagi, seperti ini, Jamaah. Melarang istrinya berhijab. Alasannya pun macem-macem. Enggak kelihatan kalau cantik, enggak kelihatan kalau seksi. Hei, Pak! Cantik dan seksinya istri antum, itu hanya antum yang berhak menikmati. Jangan disodorkan sama orang lain!” Sang Ustaz bicara dengan nada tinggi.
“Kalau suami saya melarang, gimana, Ustaz? Bukankah istri harus taat?” Ustaz berjenggot lebat itu melanjutkan, “kata Nabi, tidak ada ketaatan pada maksiat. Dan buka aurat di luar rumah, di hadapan lelaki yang bukan suami dan mahramnya itu maksiat. Terus gimana, Ustaz kalau suami saya marah?
“Bilang pelan-pelan sama suaminya. Jelaskan dengan lembut kepada suaminya. Tentang urgensi menutup aurat bagi wanita. Memang menghadapi suami model begini harus sabar, Bu. Dalam surah At-Taghabun, Allah telah memberi peringatan, “Yā ayyuhalladziina aamanuu inna min azwājikum wa aulādikum ‘aduwwal lakum. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian dari istri-istrimu dan anak-anakmu menjadi musuh bagimu. Ini berlaku juga untuk para istri. Bahwa suami itu ada yang jadi musuh. Musuh dalam artian menjalankan ketaatan kepada Allah.”
Mataku memejam. Apakah aku telah menjadi musuhnya Maysa?
“Dan Allah punya solusi untuk itu. Apa? Kata Allah, fahdzaruuhum. Ha-da-pi. Hadapi, bukan tinggalkan. Ibu punya suami yang modelnya kayak tadi, hadapi, Bu. Hadapi dengan sabar. Hadapi dengan lembut. Kasih pengertian. Doakan dia semoga Allah kasih hidayah. Supaya Allah melembutkan hatinya.”
Maysa … dia begitu sabar menghadapi kelakuanku. Menasehati dengan lembut meskipun kalau sudah geregetan, emosinya ikut keluar. Tapi baiknya lagi, ia akan segera minta maaf.
“Abang sudah rida?” Pertanyaan yang sering keluar dari bibirnya.
Aku menghela napas. Bagai menemui sumber mata air di tengah padang yang gersang. Bagai diguyur hujan di tengah kemarau panjang. Mungkin begitulah gambaran jiwaku saat ini.
*
Pesawat kecil berkapasitas 11 penumpang terbang melintasi lautan lalu mendarat mulus di landasan bandara, di tengah pulau Pangerungan.
Tugas baru dimulai. Pemeriksaan fisik pada mesin pengolah minyak mentah yang serupa tangki-tangki raksasa. Juga memeriksa pipa gas–melalui video yang direkam oleh robot penyelam–yang langsung tersambung pada mesin pengolahan di Perusahaan pengolahan minyak milik PT. Pertamina di Gresik sana. Dan jujur, aku takjub. Begitu besarnya effort yang dibutuhkan oleh perusahaan asing untuk mengeksploitasi minyak bumi di Indoensia.
Ya, mereka butuh modal sangat besar.
Maka jangan heran jika yang mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia rata-rata perusahaan asing. Itu tadi alasannya, modal yang dibutuhkan sangat besar. Negara kita tidak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan APBN–yang memang terbatas–untuk melakukan eksplorasi maupun eksploitasi. Karena kegiatan eksplorasi sendiri tidak jarang berujung pada resiko fatal berupa pembuangan dana yang cukup besar.
Perusahaan minyak yang beroperasi di Blok Kangean ini saja, mengaku pernah “membuang” dana triliyunan rupiah di lepas pantai. Karena pada saat tahap eksplorasi, minyak yang diprediksi akan dihasilkan tidak sebanding dengan modal yang digelontorkan. Terpaksa, proyek tidak dilanjutkan ke tahap eksplorasi.
Sore setelah cek fisik hari pertama usai, aku memisahkan diri dengan tim. Berjalan menyusuri pantai. Tapi jangan dibayangkan dengan pasir putih dan ombak yang dipenuhi buih-buih. Ini perusahaan, bukan tempat wisata. Namun cukup oke dijadikan tempat menyendiri sembari menikmati belaian angin sore.
Mengusap layar ponsel, berharap ada satu pesan saja dari seseorang. Entah Maysa atau Ratu. Keduanya … seperti berkedudukan seimbang di hatiku.
Pesan Maysa jelas tidak ada dan pesan Ratu bertumpukan sejak pagi tadi.
Dia hanya mengabarkan perkembangan masalah yang ia hadapi. Salah satunya,
[Pekan depan, sidang perceraian kami akan digelar.]
Baguslah. Setidaknya dia bisa lepas dari lelaki zalim seperti Sony.
[Semoga lancar, Ra. Aku di luar kota. Sampai pekan depan. Doa dari sini untuk kamu. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang ke aku.]
Kembali kumasukkan ponsel ke dalam kantong celana, lalu menikmati pemandangan biru yang terhampar di hadapan. Pemandangan yang kurindu. Ah, entah kapan terakhir kali pergi ke pantai. Mungkin tiga tahun lalu ketika termehek-mehek berpisah dengan Ratu. Itupun di Pantai Ancol. Setelah itu, semua tempat hiburan rasanya hambar. Bagaimana mau berkesan jika dinikmati dengan hati yang separuhnya seakan mati?
Lalu setelah menikah dengan Maysa, kami belum pernah liburan ke mana-mana. Dia juga bukan tipikal wanita yang suka keluar rumah. Kecuali untuk hal-hal yang sangat penting. Rutenya sehari-hari hanya seputar rumah-toko-supermarket. Kadang-kadang tukang bubur ayam langganan di komplek atau sesekali ke toko buku dan toko bunga.
Ponsel berdering. Ah, rupanya Mama. Setelah terpaku sejenak pada layar karena ragu-ragu untuk menjawab, akhirnya kugeser ikon warna hijau.
“Assalamu’alaikum, Ma.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Rey, Maysa di mana?”
“Di rumah, mungkin. Reyhan lagi dinas luar di Jawa.”
“Nomor Maysa enggak aktif.”
Mati aku! Bagaimana kalau Mama bertanya kapan terakhir kali kami berkomunikasi?
“Eng … kehabisan batrai mungkin. Ada apa sih, Ma?”
“Ini, Mbak Mita mau pesen kue tart ke dia. Sama jajanan pasar. Untuk syukuran kenaikan pangkat Mas Haidar. Dianya tanya ke Mama kenapa nomor Maysa enggak aktif. Sejak siang tadi, loh. Masa habis batre hampir seharian?”
Mbak Mita nama kakakku dan Mas Haidar adalah suaminya.
“Eng … kenapa Mbak Mita enggak nelpon tokonya aja, Ma?”
“Jam segini mah, udah tutup.”
Menilik arloji, jam setengah enam sore. Toko Maysa tutup jam empat.
“Rey, Maysa baik-baik aja, kan?”
“Em … i-iya, baik-baik aja. Kok Mama tanya gitu?”
“Ya enggak apa-apa. Bilang ke Maysa, Mama kangen.”
Kakiku yang terbungkus sneaker hitam menyaruk-nyaruk pasir. Melemaskan otot-otot kaki yang mendadak gemetar karena lapar. Melawan kesesakan batin sendiri, rupanya cukup menyedot energi.
“Rey ….”
“Iya, Ma?”
“Udah, ya? Hati-hati. Assalamu’alaikum ….”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.”
Setelah telepon ditutup, kubiarkan ponsel dalam genggaman. Aku memutar-mutar benda hitam ini sambil memikirkan cara untuk menyampaikan masalah kami pada Mama. Tidak bisa membayangkan betapa kecewanya wanita yang telah melahirkanku itu. Apalagi, Mama teramat sayang pada Maysa.
“Maysa itu anaknya lemah lembut, mandiri. Pinter ngaji. Dan yang paling penting, dia paham ilmu agama,” ucap Mama dengan mata berkilau kagum.
“Mama ini kan, udah pensiun, Rey. Mungkin bentar lagi bakalan mati–”
“Ma …,” protesku waktu itu yang disambut tawa pendek Mama.
“Maksud Mama, enggak ada lagi yang dibutuhin orang yang sudah mati dari anak-anaknya kecuali doa. Dan kalau anaknya atau cucunya saleh-salihah, Mama yakin akan jadi investasi yang enggak putus-putus sampai kiamat nanti.”
Itulah alasan utama kenapa Mama menyodorkan seorang Maysa untuk menjadi istriku. Berharap anaknya yang agak bandel ini ketularan salehnya, lalu dari pernikahan ini lahir keturuan saleh dan salihah. Dan siapa sangka Maysa mau. Padahal aku yakin, di luar sana banyak laki-laki baik yang mau menikahinya. Kenapa pilih aku?
Sampai sekarang, aku belum menemukan jawaban itu. Setiap kutanya, Maysa hanya tersenyum lalu berkata, “Aku merasa, Abang adalah jawaban atas doa-doaku.”
Aku? Jawaban atas doa-doanya? Waktu itu bahkan hingga kini, aku tidak percaya. Makanya kukatakan bahwa aku adalah pelarian agar dia bisa move on dari calon suaminya yang telah meninggal.
Namun aku tahu, Maysa belum pernah berdusta. Satu kali pun, di hadapanku.
*
Dua pekan berlalu dengan baik. Saatnya pulang, melepas kerinduan. Entah pada siapa atau bahkan apa. Yang jelas, berada di kota ini lagi, jarak yang rasanya terbentang sekian lama dan jauh, terhapus begitu saja.
Ah, kadang-kadang perasaan kita sendiri menjadi absurd dan membingungkan.
Usai mandi sore, aku membongkar isi koper. Mengeluarkan baju-baju kotor dan beberapa bungkus buah tangan. Camilan untuk Mama dan Papa juga sebuah botol berisi bibit anggrek untuk … Maysa.
Maysa?
Entahlah, waktu kembali ke Surabaya, menemukan toko bunga dan menjual anggrek yang katanya langka. Setelah dilihat-lihat, Maysa memang belum punya. Karena tidak bisa membawa satu pot yang sudah besar dan berbunga, terpaksa hanya membawa bibitnya.
Aku keluar kamar. Melirik sebelah. Pintunya tertutup rapat seperti biasa.
Setelah mengumpulkan segenap keberanian, aku mengetuk pintu itu perlahan.
Satu kali … dua kali … hingga yang ketiga, baru terdengar bunyi handle pintu berputar. Membuat irama jantungku seketika berantakan. Dan begitu pintu terbuka ….
Ya ampun! Wajah Maysa pucat sekali!
“May, kamu sakit?” tanyaku sambil meletakkan botol di bawah kaki.
“Abang bisa tolong antar saya ke rumah sakit?” pintanya dengan suara lemah dan tubuh gemetar. Satu tangannya bertumpu pada tembok. Menopang tubuh yang hampir roboh.
Tanpa banyak berpikir, aku menggendong tubuhnya lalu memasukkannya ke dalam mobil. Setelah Maysa duduk dengan nyaman, aku melesat kembali ke dalam untuk mengambil dompet dan ponsel. Dua benda penting yang harus dibawa.
Kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Menerobos kepadatan lalu lintas Jakarta di akhir pekan. Yang kuinginkan hanya satu. Maysa segera mendapatkan pertolongan.
Bertahanlah, Sayang ….
-x-

Posted in CERPEN

USAI BERCERAI – 2

USAI BERCERAI – 2

OLEH : DEWI FATIMAH

“Celana dalam, kaos hitam …. Di mana, sih?” Aku menggumam sendiri di kamar. Menghadap lemari yang terbuka. Pusing menatap tumpukan pakaian di dalamnya.
Kostum hari ini batik. Warna gelap. Mudah dicari karena digantung, bukan dilipat. Tapi celana dalam dan kaos hitamnya ….
Masalahnya aku tidak hafal di mana letak masing-masing. Aku pun menyemburkan napas kuat-kuat. Menit kemudian menggaruk rambut yang masih basah dengan kasar lantaran frustasi.
Apa minta tolong Maysa saja? Biasanya dia yang menyiapkan pakaian kerja.
Kamper jamuran! Gengsimu ditaruh mana, Reyhan?! Sadar status, woi!
Oke, tenang. Tarik napas …, embuskan …. Cari satu persatu dan pelan-pelan.
Aku menatap setiap baris tumpukan pakaian dengan seteliti mungkin. “Nah! Ketemu, kan?” Tersenyum lega, sebuah celana dalam sudah berhasil kukeluarkan.
“Terus … kaos hitam ….” Sepertinya perlu diintip satu persatu tumpukan kaos ini!
“Nah, kan!” Aku berseru lirih. Keselip rupanya. Namun ketika ditarik, kaos-kaos yang lain malah berguguran. Rasanya seluruh kosakata umpatan hendak keluar!
Istigfar, Reyhan …. Istigfar …. Sabar.
Dengan perasaan setengah enggan, kupunguti kaos-kaos yang berceceran di lantai. Ini kalau Maysa tahu, dia bisa mengomel.
“Subhanallah suamiku, luar biasa sekali! Menambah ladang amal istri!” Biasanya dia akan berujar begitu sambil mengelus dada. Lalu berikutnya dia tidak akan membiarkan suaminya ini, eh, maksudku mantannya ini untuk mengambil baju sendiri.
Ah, Maysa ….
Aku menggeleng cepat. Mengusir pikiran yang mulai rancu.
Baiklah …. Hampir 30 menit habis hanya untuk memilih outfit hari ini. Dan begitu menyadari jam di dinding kamar sudah menunjukkan angka 7.30 WIB, diriku bergegas keluar. Batas absensi tinggal setengah jam lagi! Padahal mobil belum dipanasi, jalanan juga tidak ada jaminan lancar. Mati aku! Tunjangan terancam kena potongan!
Ketika hendak mengenakan sepatu, baru sadar kalau belum mengambil kaos kaki. Aku pun berlari ke kamar. Kembali membongkar lemari. Berantakan? Bodo amat!
Lega. Sepatu sudah terpasang. Kulangkahkan kaki menuju garasi. Lalu kudapati Maysa sedang memegang sapu di teras, membersihkan pecahan pot anggrek. Biasalah, ulah kucing berantem.
Tapi … bukannya dia harus ke toko kue?
Ya, Maysa adalah owner sebuah toko kue. Biasanya sebelum jam tujuh pagi sudah berangkat. Ini? Kenapa masih santai?
Tanya, jangan. Tanya, jangan. Tanya ….
Dia menoleh. Menatapku dengan kedua alis bertaut. Aku gelagapan sendiri, ketahuan mencuri pandang.
“Eng … enggak ke toko, May?” tanyaku gugup.
Maysa kembali menggerakkan sapunya–yang sempat terhenti karena menoleh padaku, mengumpulkan tanah dan kepingan pot yang berserakan. “Insyaallah jam sembilan.” Ia tidak memandangku lagi.
“Oh, jam bukanya berubah, ya?” tanyaku lagi sembari memasukkan tas kerja ke dalam mobil.
“Enggak. Kan, ini hari Sabtu. Bukanya siang. Masa lupa?” Maysa mengucapkan masa-lupa dengan sedikit ngedumel.
Sabtu? Aku menatap punggung Maysa tanpa kedip. Lalu pelan-pelan kulirik arloji yang melilit di pergelangan tangan kiri.
SAT.
Tiga huruf yang tertera di layar benda itu. Artinya … SATURDAY alias Sabtu.
Kucing kecemplung got! Jadi hari ini Sabtu? Aku berpikir lagi, mengingat-ingat.
Iya ya, kemarin aku menemui Ratu setelah salat Jumat. Ya salam …. Sejak kapan Reyhan jadi pikun begini? Usia juga baru 30 tahun.
Karena tak ingin terlihan oon, aku tetap menampakkan wajah stay cool.
“May, Abang ada acara. Pergi dulu,” pamitku sebelum masuk mobil.
Sebenarnya tidak penting, cuma jaga-jaga karena Maysa terlihat heran mendapatiku rapi di akhir pekan. Padahal biasanya tidur sampai menjelang zuhur. Dia juga tidak boleh tahu kalau aku telah melewati pagi yang luar biasa kacau, tapi ujung-ujungnya salah hari.
“Ya.” Maysa menyahut datar sembari melirik sekilas. Kedua tangannya sibuk menata pot anggrek yang bergeser–karena ulah kucing.
Nyeri. Entah kenapa sikap dingin Maysa membuat dada ini terasa sakit.
Setelah menyemburkan napas kasar, aku duduk di kursi kemudi. Kunyalakan mobil dengan hati dongkol. Membiarkannya hidup, berharap mesinnya panas. Ya siapa tahu hangatnya nular ke Maysa. Biar cair sikap dinginnya.
Ketika mobil sudah mundur perlahan, aku menepuk jidat. Bagaimana bisa keluar kalau pagar masih tertutup rapat?
*
Usai sarapan di sebuah resto cepat saji dekat komplek, aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Entah akan pergi ke mana. Aku juga belum tahu. Paling tidak harus keluar dua sampai tiga jam agar Maysa tidak curiga. Eh, sejak kapan Maysa menjadi alasanku melakukan sesuatu? Aku menyentak napas dan menggeleng samar. Heran.
Saat beberapa menit berhenti karena lampu merah, sikap dingin Maysa melintas di ingatan. Sikap yang mengingatkanku saat pertama kali kami bertemu.
Waktu itu hari Minggu. Mama membawanya ke rumah setelah balik dari pengajian. Untuk dikenalkan padaku.
Denganku, Maysa tidak banyak bicara. Kecuali memang benar-benar perlu. Cara menjawabnya pun datar. Sangat kontras jika dia berhadapan dengan Mama atau Papa.
Dalam hati, aku tertawa sinis. Wanita model begitu mau jadi istriku? Parasnya biasa tanpa polesan make-up sedikit pun. Sungguh berbeda dengan Ratu dan beberapa mantan yang pernah singgah di hatiku, yang semuanya pintar dandan. Begitu membanggakan saat diajak jalan.
Bagiku, pakaian Maysa juga terlalu tertutup. Kayak Mama. Kalau beliau sih, wajar. Sudah hampir kepala enam. Siapa juga yang bakalan komentar? Lah Maysa? Duh, artis hijrah saja pakaiannya enak dipandang. Dia? Benar-benar polosan. Tanpa pernak-pernik atau hiasan.
“Aku enggak cinta sama kamu. Gimana kita mau menikah kalau di hati masing-masing tidak ada rasa?” Akhirnya pertanyaan itu mencuat dari mulutku.
Sesungging senyuman terbit dari bibirnya yang memang berwarna merah alami. “Setahu saya, sebuah pernikahan tidak harus diawali dengan cinta. Bahkan mayoritas rumah tangga Rasulullah dan shahabat terjalin bukan karena cinta.”
Aku mengangguk-angguk. Ada ya, cewek yang enggak memuja-muja cinta kayak Maysa?
“Pernah ta’aruf sebelumnya?” tanyaku lagi.
“Pernah.”
“Kenapa enggak nikah sama yang pernah ta’aruf sama kamu?” Waktu itu aku menduga, pasti ketahuan belangnya.
Setelah diam beberapa detik, Maysa menghela napas. Seolah itu kenangan buruk dalam hidupnya. “Dia meninggal karena kecelakaan. Satu pekan sebelum kami menikah.”
Jawabannya membuatku bungkam. Prihatin. Tapi juga membuatku penasaran, seperti apa sosok lelaki itu.
Ponselku berdering, memutus memori. Sekilas kulirik benda berukuran lima inchi yang terletak di atas dashboard. Terbaca nama Ratu di layarnya.
“Han …,” lirihnya sebelum aku sempat bersuara. Terdengar dia sedang tidak baik-baik saja.
“Iya, Ra? Kamu kenapa?”
Ratu terisak.
Sepertinya ada yang serius.
Lampu hijau menyala, kulajukan mobil lalu segera menepi di tempat yang aman. “Ada apa, Ra?”
“Han ….”
“Kamu di mana?”
Terdengar suara susutan ingus. “Di … di makam ibu.”
Mataku memejam. Ratu yang tengah bersedih dan curhat pada ibunya, membayang-bayang.
“Aku jemput. Tunggu di sana,” tukasku.
Kubelokkan mobil ke arah sebuah TPU. Agak ngebut. Ratu butuh aku.
Sepuluh menit, aku tiba di sana. Setelah memarkir mobil di tepi jalan, kakiku melangkah di antara makam-makam. Ratu duduk sendirian. Terpekur dengan mata memandangi nisan ibunya. Mungkin ada banyak kata yang ia ungkapkan melalui hatinya.
“Ra …,” sapaku ketika jarak kami sudah dekat.
Ratu sedikit mendongak. Setelah memandangku sekilas, ia kembali terisak-isak.
Aku berjongkok, meraih tangan kanan wanita itu. Astaga! Pipinya lebam.
“Ra, kenapa?” tanyaku lembut.
Ratu mengusap linangan air matanya dengan cepat. Seolah ingin mengatakan bahwa dirinya kuat. Aku pun memutari makam lalu duduk di sisinya. Naluriku mengatakan, Ratu hanya butuh pelukan.
Di depan dadaku, tangis Ratu semakin tersedu. Kubiarkan air mata campur ingus tumpah di baju batik yang kukenakan.
Lima menit … sepuluh menit …. Perlahan wanita cantik itu menarik kepalanya. Kedua mata indah yang kini sayu menatapku terimakasih, sedangkan aku menatapnya penuh tunggu.
“Biar aku jelasin di mobil,” lirihnya parau.
Aku mengangguk. Kami pun beranjak, berjalan beriringan. Meninggalkan makam wanita yang meninggal dua tahun silam. Sosok yang kutahu menjadi sandaran seorang Ratu.
“Tadi malam aku pulang ke rumah,” tuturnya setelah kami berdua berada dalam mobil, “cuma untuk jemput Bastian. Tapi … Mas Sony ngelarang aku nemuin anak aku sendiri. Aku ngelawan. Dan … ya … akhirnya kena damprat.”
Sony, nama suaminya.
“Aku pulang ke rumah Ayah. Tapi setelah dia tahu persoalan rumah tangga kami, Ayah malah marah. Ngusir aku. Katanya, aku yang salah. Jadi istri pembangkang.” Ia tersenyum miris.
Air mata itu tak lagi berlinang. Namun luka terlihat jelas pada wajah yang tampak pias. Luka pada seonggok daging merah di dalam dada. Hatinya.
“Terus … semalam kamu tidur di mana?” tanyaku setelah beberapa detik saling terdiam. Memikirkan pesan yang kukirim semalam tidak ada balasan.
“Numpang di tempat temen.”
Aku menghela napas berat. Wanita di sampingku ini, dari dulu tak pernah lepas dari ujian hidup. Dan yang membuatku salut, dia selalu tampak seolah baik-baik saja. Sesusah apapun hidupnya.
Dia bukan wanita yang dibesarkan di keluarga berada. Ayahnya seorang satpam di sebuah perusahaan. Ya, perusahaan orang tua si Sony itu. Almarhumah ibunya sejak dulu sakit-sakitan. Penghasilan ayahnya tidak cukup untuk menghidupi ibu, Ratu, dan adiknya yang masih kuliah, termasuk biaya berobat. Hutang menumpuk. Ratu diminta untuk menikah dengan Sony. Perjodohan yang dianggap sebagai jalan keluar masalah ekonomi.
Ketika itu, aku baru jadi ASN. Gajiku di tahun pertama baru 80%. Belum bisa membantu masalah di keluarga Ratu. Terpaksa kami berpisah.
Kalau tahu pada akhirnya akan begini … mungkin tidak semudah itu membiarkan Ratu pergi.
“Han, maaf …,” ucap Ratu lirih. “Semalem enggak sempat balas pesannya. Maaf juga … lagi-lagi aku ganggu kamu. Aku jadi enggak enak sama Maysa.”
“Kami udah pisah,” sahutku cepat.
Ratu memandangku penuh tanya. Seakan tak percaya.
“Tadi malam,” jelasku singkat.
“Gara-gara aku? Apa dia tahu kamu nemuin aku kemarin? Dia–”
“Bukan, Ra. Bukan gara-gara kamu.”
“Tapi kenapa?”
“Aku akan cerita. Tapi enggak sekarang. Masalah kamu lebih penting.”
Ratu terpaku beberapa saat. Mata bulatnya berkedip-kedip teratur. Seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulutku.
“Oke. Rencana kamu hari ini apa? Kebetulan, aku punya banyak waktu.”
Mendapati Ratu masih diam, aku melanjutkan, “Oh, ya, udah sarapan?”
Wanita itu menggeleng.
“Oke. Mau sarapan apa?”
“Enggak tahu. Lagi enggak mood makan.”
Aku menyentak napas. Enggak mood makan, katanya? Tanpa bertanya lagi, aku melajukan mobil. Menuju resto cepat saji terdekat. Tidak ada ide lain. Dan aku tahu dari dulu Ratu suka sarapan burger dipadu dengan minuman bersoda.
Bukan pilihan yang sehat, tapi lebih baik dari pada kelaparan. Kalau pingsan, bisa tambah runyam.
*
Selain kehilangan tempat tinggal secara mendadak, Ratu juga kehilangan pekerjaan. Sony si laki-laki sialan itu sudah mendepak Ratu dari butiknya. Bukan hanya itu, kartu kredit dan debit dibekukan sepihak. Gampang saja, karena semua atas nama dirinya sendiri.
Zalim bener jadi laki. Lihat, tuh! Ratu makan dengan lahap kayak orang yang enggak nemu makanan sebulan.
Ponselku berdenting. Setelah kuusap layarnya, kudapati pesan dari Maysa.
[Izin masuk kamar. Mau ngambil barang.]
Napasku tertahan sejenak. Maysa mendadak jadi makhluk luar angkasa. Saking asingnya.
Biasanya, pesan Maysa tidak pernah to the point seperti ini. Apakah perceraian telah mengubah banyak hal pada dirinya? Padahal aku tidak zalim seperti Sony.
“Kenapa, Han?” Ratu menatapku sembari menenggak minuman berkarbonasi.
“Apanya yang kenapa?”
“Kenapa pasang muka sedih kayak gitu?”
“What? Sedih?”
Hello Kitty kejepit pintu! Apakah pesan dari Maysa berhasil mengubah riak mukaku?
Ratu meletakkan gelas lalu mengangguk-angguk.
“Enggak. Aku enggak sedih.” Kataku yakin. “Udahan makannya?” tanyaku mengalihkan perhatian.
Ratu mengangguk sambil menyuguhkan senyum tipis. Setelah makan, ada perubahan cukup signifikan pada wajahnya. Sudah cerah meskipun lebam biru itu masih sangat kentara.
Kami beranjak. Rencana berikutnya, mencari tempat tinggal sementara untuk Ratu. Sambil jalan, menyusun rencana untuk mencarikannya pekerjaan.
Kamu wanita kuat, Ra. Tenang, aku akan berada di sampingmu. Menemani perjuanganmu. Seperti dulu.
*
Sampai rumah jam empat sore. Aku langsung merebahkan diri di atas ranjang. Mungkin karena terlalu lelah, kedua mata langsung terpejam. Hingga gelegar petir membuat kaget dan memaksaku bangun.
Gelap. Sesekali kilatan petir menerobos, lewat kaca jendela yang masih tersingkap gordennya. Memberi pencahayaan sementara.
Aku bangkit dengan tubuh yang kembali bertenaga. Meraba-raba letak saklar. Lampu menyala. Baru pukul enam. Kenapa sudah segelap ini? Mungkin karena mendung pekat. Aku menebak-nebak.
Meraih handuk, lalu mandi. Rumah sepi. Maysa belum pulang? Di luar hujan deras. Tiba-tiba rasa khawatir datang. Bagaimana kalau dia kejebak di tokonya? Atau kuketuk saja kamar sebelah untuk memastikan dia sudah kembali dan … baik-baik saja?
Ah, tidak perlu. Aku menggeleng samar. Mengusir rasa khawatir yang tidak biasanya datang.
Usai mandi, aku membuka lemari. Kaget. Isinya sudah tertata rapi. Pasti Maysa pelakunya. Siapa lagi?
Tubuhku membeku sejenak. Menyadari lemari tampak lebih longgar. Baju-baju Maysa sudah dipindahkan. Dan yang lebih mencengangkan, celana kerja, celana rumahan, kaos dalam, kaos berkerah, kaos kaki, celana dalam, sarung, dan sebagainya terletak di tempat yang berbeda-beda.
Ah, Maysa ….
Dengan perasaan bersalah, aku mengambil baju untuk dikenakan malam ini. Bersalah telah mengobrak-abrik isi lemari pagi tadi. Bersalah telah … menceraikannya?
Tidak, tidak. Aku yakin rasa aneh yang tiba-tiba datang bukan karena itu.
Aku pun menunaikan salat magrib. Setelah itu keluar kamar. Perut lapar. Tapi hujan masih deras, tidak memungkinkan cari makan di luar. Berharap masih ada stok telur dan mi instan.
Kudapati Maysa berdiri menghadap kompor. Menatap punggung itu, entah kenapa membuat hatiku bersyukur, lega. Dia baik-baik saja. Tanpa sadar, senyum di bibirku merekah. Aku pun menarik kursi, duduk menunggu … Maysa.
Mungkin kaget, Maysa mundur satu langkah saat mendapatiku sudah di sini. Sejenak, dia tampak bingung atau ragu-ragu. Namun akhirnya melangkah juga ke meja makan. Menaruh semangkok mi instan. Aromanya memicu perutku menjerit-jerit minta segera diisi.
“Masih ada stok mi, May?” tanyaku penuh harap.
“Habis,” jawab Maysa singkat. Dia masih berdiri dengan wajah ragu-ragu.
Aku menyemburkan napas. “Laper tapi masih hujan, nasib!” gumamku cukup keras. Berharap Maysa peka.
“Mau?” Maysa menawarkan.
“Enggak usah. Nunggu hujan reda aja.” Aku memasang wajah santai. Padahal perut sudah melilit-lilit tak karuan.
“Ini juga enggak bakalan habis, kok.”
Ya, aku tahu wanita di hadapanku ini tidak banyak makan. Tak heran kalau badannya mirip tiang.
Agak jaim, aku menjawab, “Boleh, deh.”
Maysa mengambil mangkok dan sendok. Lalu membagi dua mi kuah yang masih mengepulkan uap panas. Membuat liur di mulutku seketika berkumpul.
“Makasih,” ucapku setelah mangkok itu disodorkan di hadapanku. Menyadari Maysa masih berdiri ragu, aku berkata, “Duduklah, May. Makan bareng mantan enggak bikin dosa, kok.”
“Aku makan di kamar aja.” Maysa mengambil mi miliknya lalu nggeloyor masuk kamar sebelah.
Ekor mataku hanya bisa mengikuti sosok tinggi berbalut kerudung abu-abu. Agak kesal ditinggal sendirian, aku pun melampiaskannya dengan menandaskan separuh mangkok mi rasa ayam bawang.
Hanya berselang lima belas menit, Maysa kembali keluar. Meletakkan mangkok di wastafel. Sedangkan aku sudah duduk di sofa depan televisi. Menonton acara lawakan yang entah kenapa malam ini terkesan garing.
Terdengar suara benda pecah. Aku menoleh kaget. Kontan beranjak menuju sumber suara dan kudapati Maysa memunguti pecahan beling. Sebentar kemudian, ia mendesis kesakitan. Membuatku ikut berjongkok, membantunya.
“Biar Abang aja.” Aku menggenggam lengannya dan segera saja ia menepis tanganku.
Mataku melirik jemarinya. Telunjuk panjang itu berdarah. Kucekal kembali lengannya, lalu memaksanya mencuci luka di bawah aliran air wastafel. Maysa masih berusaha melepaskan genggaman.
Aku mendesis kesal. “Diem aja kenapa, sih? Mau luka ini kena infeksi?”
Terdengar lebay, memang. Tapi kalimat itu cukup ampuh untuk membuat Maysa pasrah. Aku mengulum senyum, menyadari ada rasa nyaman saat melakukan ini.
Setelah darah di tangannya bersih, aku meraih tisu roll yang tergantung tak jauh dari keran air. Kubungkus telunjuk itu dengan gulungan tisu.
“Duduk dulu,” perintahku merujuk meja makan.
Maysa menurut. Ia menekan luka sambil sesekali melirik ke arahku yang tengah membereskan pecahan beling.
“Kenapa, May? Kabur lagi pandangannya?”
Sudah hampir sebulanan ini, Maysa beberapa kali memecahkan perabotan. Katanya, pandangannya kadang-kadang kabur. Dia pikir, barang sudah diletakkan di tempatnya. Tapi rupanya meleset.
“Iya.” Ia menjawab lirih.
“Mata kamu minus kali. Atau silinder.” Ah, ya. Aku bahkan belum sempat mengantarnya periksa ke dokter.
Lagi, rasa bersalah itu menghampiri tiba-tiba.
-x-